Dewan Kesenian Jakarta Kembali Gelar JDMU

Selasa, 29 Agustus 2017 18:43 WIB

 

JAKARTA, WB – Setelah sukses menggelar Jakarta Dance Meet Up (JDMU) di awal tahun ini, Komite Tari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menggelar acara serupa. Lima komunitas dengan tujuh koreografer akan pentas pada Kamis (30/8/2017).

 

Pengembangan seni tari merupakan salah satu agenda utama DKJ sejak lama. DKJ melalui Komite Tari berupaya membangun iklim yang inspiratif terhadap penciptaaan dan apresiasi karya seni tari yang bermutu, baik bagi pelaku seni tari maupun masyarakat.

 

Untuk melaksanakan tujuan tersebut, Komite Tari DKJ mengembangkan platform bernama Jakarta Dance Meet Up (JDMU) yang dilakukan secara berkala sejak 2017.

 

JDMU merupakan upaya untuk memetakan, memfasilitasi, dan merangkul komunitas tari di Jakarta. Platform ini memberikan ruang apresiasi dan edukasi yang berkelanjutan bagi pelaku seni tari Ibukota yang minim kesempatan.

 

“JDMU merupakan bentuk penghargaan atas keragaman seni tari yang tumbuh di Jakarta. JDMU juga menjadi saluran yang tepat untuk berjejaring antar komunitas maupun sanggar yang memiliki karakter berbeda,” ujar Ketua DKJ Irawan Karseno saat jumpa wartawan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (28/8/2017).

 

 

Irawan menambahkan, seni tari mesti terus dilestarikan sebagai budaya Indonesia. Sebagai Ketua  DKJ dirinya merasa mengemban amanat untuk mengusung paham-paham tertentu terkait berkesenian.

 

"Program ini tidak bisa terjadi kalau enggak ada kebebasan berekspresi. Kami mengemban amanah itu bagaimana caranya, sekaligus melestarikan dan memanfaatkan konten kesenian di Jakarta serta Indonesia," ungkapnya.

 

JDMU kali ini diikuti lima komunitas yang terpilih yaitu Ali Dance Company, Chiva Production, Namarina Dance Academy, Rafa Dance dan Sanggar Tari Cipta Budaya. Ada tujuh koreografer yang akan menayjikan karyanya, mereka adalah  lrfan Setiawan, Yohanes Christo, Andhini Rosawiranti, Truly Rizki Amanda, Enindita Sih Lastyari, Felicia Chitraningtyas dan Ilham Muji Riyanto).

 

Semua komunitas terpilih tidak hanya mempresentasikan kreasinya dihadapan penonton tetapi juga di hadapan dua pengamat, Adinda Luthvianti (Anggota Kornite Teater DKJ) dan Jefriandi Usman (koreografer).

 

Setelah tampil, semua komunitas tari ini kemudian akan menyampaikan aspek kreatifitas, estetika hingga manajemen pengelolaan setiap karya keesokan harinya.

 

Pada momen ini para pengamat akan memberikan evaluasi kepada masing-masing karya secara mendalam dan simultan. Sesi ini akan dilakukan secara bersamaan, sehingga masing-masing komunitas tari akan saling belajar dari berbagai masukan.

 

Penyelenggaraan JDMU selalu terbuka bagi semua komunitas, sanggar dan sekolah tari yang ingin bertemu, berkolaborasi dan bersama memajukan tari lndonesia. Sementara masyarakat pecinta seni tari Indonesia dapat menikmati semua penampil yang ada di JDMU secara gratis.

 

Dua koreografer dari Namarina Dance Academy akan menampilkan tari berjudul Energy karya Andhini Rosawiranti, sementara Truly Rizki Amanda menyajikan Ruang Jiwa.

 

"Saya menghubungkan manusia dengan sifat energi. Prosesnya berdasarkan imajinasi dan harapan saya pada penari agar lebih intens dalam menari. Selain dari teknik gerak, agar terlihat emosinya," ujar Dhini.

 

Para peserta merasa bersyukur atas penyelenggaraan JDMU kedua ini sehingga mereka bisa bertemu dengan para koreografer dan penari dari komunitas-komunitas lain dan belajar mengenai tari-tari lain dari genre yang berbeda.

 

Hal itu dibenarkan Ketua Komite Tari DKJ, Hartati. Menurutnya,  sudah menjadi kewajibannya untuk membuka kesempatan pada komunitas-komunitas mereka melakukan regerenasi.  Kegiatan ini dilakukan tanpa kurasi.  Kesempatan ini menjadi momen pertemuan bagi komunitas tari di seluruh penjuru Jakarta dan sekitarnya.

 

"Tidak hanya tradisi umum, tetapi juga ada yang berbasis sekolah, non-formal dan kontemporer. Kemudian, ada genre populer seperti komunitas hip hop, yang ada di TMII, dan bagian dari kegiatan anjungan-anjungan daerah," kata Hartati. []

 

 

 

wartawan : Anggi SS
Editor : Ade Donovan