hidup sehat

Pecandu Gadget Bisa Jadi Anti Sosial dan Agresif

Ibra Maulana | Selasa, 27 Februari 2018 12:27 WIB | PRINT BERITA

ist

 

WARTABUANA – Di jaman now, teknologi Informasi berevolusi menjadi kebutuhan pokok manusia. Padahal teknologi merupakan sebuah alat, bukan kebutuhan mendasar. Gadget contohnya, yang tujuan awalnya hanya sebatas sarana komunikasi kini telah menjelma menjadi bagian dari hidup sebagaian besar manusia.

 

Coba saja sehari tanpa Gadget, pasti tidak ada yang betah. Hal ini sebenarnya tidak baik, karena sebagaimana canggihnya suatu teknologi seharusnya tidak menimbulkan kecanduan yang berlebihan seperti narkoba.

 

Biasanya pribadi penggila gadget cenderung tidak peduli dengan kehidupan sekitar, mereka lebih asyik dengan dunianya sendiri yang menyebabkan mereka seperti orang autis. Padahal sebagaimana kita ketahui kehidupan nyata jauh lebih penting dan berharga daripada kehidupan di dunia maya.

 

 

Dampak negatif gadget terhadap hubungan sosial yang pertama yaitu munculnya ketergantungan. Media gadget baik itu gadget informasi maupun telekomunikasi memiliki kualitas atraktif. Di mana ketika seseorang sudah merasa nyaman dengan gadget yang digunakan, seolah-olah dia menemukan dunianya sendiri dan akan merasa sulit untuk terlepas dari kenyamanan itu.

 

Hal ini berakibat pada hubungan dia dengan orang lain secara face to face akan menurun. Menurut psikiater AS, Jerald Block, kondisi itu harus dilihat sebagai gangguan klinis melihat makin meningkatnya jumlah orang yang kecanduan game dan pornografi di intenet dari pada berbincang dengan keluarga atau sahabatnya. Dan cenderung untuk kurangnya interaksi terhadap lingkungan luar dan sekitar.

 

Dampak negatif selanjutnya yaitu Violence and Gore. Perkembangan gadget berupa adanya jaringan internet yang sekarang mudah diakses membuat para pembuat situs berupaya menjual situs yang mereka buat. Salah satu cara yang dapat menarik perhatian yaitu dengan cara menampilkan kekejaman dan kesadisan.

 

Biasanya tampilan seperti ini banyak terdapat pada aplikasi game. Pada sebuah penelitian yang menyatakan bahwa game yang dimainkan di komputer/laptop yang menampilkan unsur kekerasan memiliki sifat menghancurkan yang lebih besar dibanding kekerasan yang ada di televisi ataupun kekerasan dalam kehidupan nyata sekali pun.

 

Biasanya anak-anak dan remaja yang akan lebih mudah terpengaruh, sehingga bisa menimbulkan kurangnya sensitivitas terhadap sesama, memicu munculnya perilaku agresif, sadistis, bahkan bisa mendorong munculnya sikap kriminal yang ada pada game yang dimainkan mengeser nilai sosial dari pada antar sesama manusia.

 

Kemudian Antisocial Behaviour merupakan dampak negatif gadget yang disebabkan karena penyalahgunaan gadget itu sendiri. Hal ini terjadi di mana ketika seseorang merasa gadget merupakan satu-satunya hal yang paling penting dalam hidupnya, sehingga ia melupakan keadaan di sekitarnya.

 

Akan muncul ketidakpedulian dalam dirinya terhadap lingkungannya. Satu-satunya hal yang dapat menarik perhatiannya hanyalah gadget yang ia gunakan. Akibat yang timbul ialah dia menjadi jarang berinteraksi dengan orang-orang yang berada di lingkungan sekitarnya, sehingga kemampuan interpersonal dan emosionalnya pun terhambat dan tidak akan berkembang.

 

Dampak terburuk yang akan timbul, dia akan kesulitan untuk bersosialisi dan menjalin relasi dengan orang-orang di sekitarnya.

 

Terjadinya deindividuasi. Tindakan yang lebih parah akan terjadi apabila muncul perilaku anti sosialyang berbahaya seperti melakukan tindakan agresif untuk menyakiti orang lain dan memprovokasi seseorang untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.

 

Seperti yang terjadi pada kasus Amanda Todd dan Hannah Smith yang melakukan bunuh diri setelah di-bully dan di-troll dengan teror agar melakukan bunuh diri secara terus-menerus oleh pengguna anonymous di situs cha yang menyediakan fasilitaswebcam.

 

 

Fasilitas videostreaming melalui webcam tersebut digunakan pelaku trolling untuk menyuruh kedua remaja belasan tahun tersebut untuk melakukan aksi-aksi yang seksi, di mana keduanya tidak menyadari bahwa hal tersebut merupakan pornografi.

 

Keduanya terus mengalami deindividuasi atau kebingungan identitas sehingga mengikuti instruksi-instruksi pembully tersebut hingga pada akhirnya mengikuti saran mereka untuk bunuh diri.

 

Pengguna gadget cenderung lebih egois. Gadget seperti telepon seluler membuat seseorang terhubung dengan teman dan komunitas yang lebih luas. Tetapi, dengan beragam fitur canggih ponsel orang menjadi lebih asyik bermain ponsel dan hal itu mengakibatkan kurangnya rasa keingintahuan sosial dan menjadikan orang lebih egois. []

 

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber