komunitas

Dalang Harus Netral, Ini Jurus Ki Manteb

Arief Nugroho | Rabu, 28 Februari 2018 09:15 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB – Suasana politik yang semakin hangat jelang Pilkada, Pileg dan Pilpres di `tahun politik` ini disikapi dengan  kesepakatan untuk membangun relasi perdamaian sejati yang memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kesetaraan oleh para pelaku pewayangan.

 

Wujud dari kepedulian terhadap ancaman desintegrasi bangsa itu membuat Komunitas Pewayangan Indonesia yang terdiri dari SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), APA (ASEAN Puppetry Association) Indonesia, UNIMA (Union Internationale de la Marionnette) Indonesia , dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia) merilis pernyataan sikap.

 

 

Pernyataan sikap yang terdiri dari 5 poin itu ditandatangani oleh  Drs. H. Solichin (Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI), Sudarko Prawiroyudo (Ketua Dewan Penasehat SENA WANGI), Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum SENA WANGI), Kondang Sutrisno (Ketua Umum PEPADI),  Hari Suwasono (APA Indonesia), Dubes Samodra Sriwidjaja (UNIMA Indonesia) dan Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum (Pakar Filsafat Wayang)

 

Menurut Kepala Bidang Humas SENA WANGI Eny Sulistyowati S.Pd , MM, pernyataan bersama ini merupakan kesepakatan yang diambil melalui rapat gabungan dari sejumlah elemen Organisasi Pewayangan Indonesia,” ujarnya di Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Selasa (27/2/2018).

 

Saat ini menurut Eny, kita berhadapan dengan bahaya segregasi sosial di mana politik identitas mencuat. Sebagai penggiat budaya rasanya tidak cukup diam dan pasrah. Diperlukan kesadaran untuk membangun relasi perdamaian sejati yang memperjuangkan nilai-nilai keberagaman dan kesetaraan.

 

“Dalam gerakan budaya ini, sumbangsih pemikiran dari kita diharapkan dapat menginspirasi panggilan bersama untuk meretas damai di tengah keberagaman, secara rukun, bermoral, dan berbudaya,” tegas Eny.

 

 Kepala Bidang Humas SENA WANGI Eny Sulistyowati S.Pd , MM

Bagi Suparmin Sunjoyo,  kini sudah terasa adanya gejala akan terjadinya desintegrasi bangsa. “Jadi kami mengharapkan NKRI tetap utuh dan bisa menyelesaikan konflik-konflik individu, nasional dan bangsa-bangsa,” harap Suparmin, berharap.

 

Sementara itu menurut Sudarko Prawiroyudo yang juga anggota Dewan Kebijakan Sena Wangi bahwa semua ini jadi bagian bentuk pernyataan keprihatinan organisasi pewayangan karena kita mewakili dalang-dalang independen yang menolak adanya perpecahan bangsa.

 

“Dalang harus independen, pribadi-pribadi yang merdeka. Jangan jadi rebutan parpol, apalagi kalau (dipakai) buat jelek-jelekin lawan politik. Penegasan-penegasan (seperti muatan Pernyataan Bersama) ini diperlukan, supaya (para dalang) tidak alpa,” tegas Sudarko.

 

Terkait independensi dan netralitas seorang dalam, tampaknya tawaran manggung di musim kampanye ini menjadi tantangan menarik. Selain akan bajir job, dalang juga harus bisa menempatkan diri agar menjaga netralitasnya.

 

Dalam kondang Ki Manteb Soedharsono punya jurus sendiri agar penampilannya bisa memuaskan semua pihak dan tetap menjaga integritas sebagai seorang dalam yang netral. Bulan April nanti, Ki Manteb sudah terima 16 bukingan manggung. “Semuanya terkait kampanye. Tapi bagi saya nggak soal. Saya bisa menjaga netralitas,” tegas bintang iklan obat sakit kepala ini.

 

 Ki Manteb Soedharsono / ibnu

Caranya, menurut Ki Manteb, sebelum mulai beraksi memposisikan dirinya sebagai dalang, Ki Manteb kadang membacakan visi misi dari partai atau orang yang ikut pemilu. “Saya cuma membacakan saja, tidak mengajak orang memilih,” ungkapnya.

 

Terkadang Ki Manteb memanggil tokoh partai atau calon kepala daerah yang menanggapnya, kemudian diberi kesempatan untuk berkampanye. “Sebagai dalang yang memiliki banyak penggemar, tugas saya hanya mengumpulkan orang untuk nonton wayang,” ujar Ki Manteb yang juga pernah jadi bintang film dan sinetron ini.

 

 

PERNYATAAN BERSAMA ORGANISASI PEWAYANGAN INDONESIA :

Keniscayaan bahwa bangsa Indonesia memiliki masyarakat yang beragam merupakan berkah yang patut disyukuri. Namun, pada saat ini telah terjadi kecenderungan yang mungkin dapat mengarah pada disintegrasi bangsa, yang ditandai dengan menurunnya sikap tenggang rasa dan toleransi. Gejalanya dapat dilihat dari menguatnya nilai-nilai primordialisme, fundamentalisme, dan radikalisme. Situasi ini dapat membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

 

Peran komunitas pewayangan sangat penting dalam bidang pembangunan kebudayaan upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang rukun, damai, bermoral, dan berbudaya.

 

Kini bangsa Indonesia memasuki tahun politik dengan diselenggarakan proses demokrasi berupa Pilkada serentak, Pileg dan Pilpres. Saat yang dinanti-nantikan, namun mengandung potensi konflik disintegrasi bangsa. Karena itu harus waspada dan berupaya mengantisipasi dengan tindak preventif yang tepat.

 

Mencermati perkembangan sosial dan budaya bangsa Indonesia yang memprihatinkan saat ini, Organisasi-organisasi Pewayangan Indonesia yang terdiri dari Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI), ASEAN Puppetry Association (APA)- Indonesia, Union Internationale de la Marionnette (UNIMA)- Indonesia, dan PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia),  menyatakan sebagai berikut:

 

1)      Senantiasa menjunjung tinggi, menghormati, melaksanakan dan mempertahankan Dasar Negara Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI.

2)      Menghormati dan memelihara realitas sosial-politik-kebudayaan bangsa Indonesia atas eksistensi adanya keragaman suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang sudah lama hidup dan tumbuh – berkembang di bumi pertiwi Indonesia.  

3)      Melalui pergelaran wayang berupaya meningkatkan kesadaran sikap, dan perilaku toleransi dan solidaritas masyarakat guna mendukung persatuan bangsa.Berupaya untuk menyampaikan pesan-pesan moral untuk meningkatkan kepedulian sosial, gotong royong, kepercayaan antarwarga, serta kehidupan bermasyarakat tanpa diskriminasi dan penguatan nilai kesetiakawanan sosial.

4)      Menyampaikan pesan-pesan moral terbangunnya kesadaran kolektif untuk menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila sebagai pemecah masalah (problem solving) dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

5)      Menegaskan bahwa dalam Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres, organisasi-organisasi pewayangan itu independen dan bersikap netral tidak memihak pada kelompok politik apapun dengan menyerukan para anggota organisasi pewayangan itu menggunakan hak politiknya dengan sebaik-baiknya.

6)      Dalam menghadapi dan melaksanakan Pilkada Serentak, Pileg dan Pilpres dalam tahun 2018-2019 agar dilaksanakan dengan jujur, adil, bebas-rahasia dan bersih baik terkait personalia perencana maupun penyelenggara-pelaksana di lapangan, dengan proses dan prosedur yang bersih tanpa memihak kepada salah satu agama, etnis, kelompok, parpol maupun golongan.

 

Dengan demikian diupayakan agar hasil pemilihan-pemilihan akan dapat melahirkan pemimpin-pemimpin yang bersih, anti: korupsi, penyalah-gunaan Narkoba, anti KKN dan berakhlak mulia serta menegakkan keutamaan hidup berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. []

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber