Launching

Kolaborasi Karya Hanafi dan Goenawan Mohamad Dipamerkan di Galeri Nasional

Arief Nugroho | Sabtu, 23 Juni 2018 19:30 WIB | PRINT BERITA

ist

 
JAKARTA, WB – Hanafi dan Goenawan Mohamad menggelar pameran bertajuk bertajuk “57 x 76” di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, bertajuk “57 x 76”. Pameran yang akan berlangsung 21 Juni sampai 2 Juli 2018 itu merupakan  kolaborasi yang hangat, terbuka, tidak tergesa, penuh canda, dan sekaligus sulit diakhiri.

 

Hanafi telah melakukan banyak kolaborasi sebelumnya, tak hanya dengan sesama perupa, juga dengan seniman lintas disiplin, seperti sastrawan, musisi, dan seniman pertunjukan. Sedangkan Goenawan Mohamad yang telah lama berkiprah di dunia sastra, kebudayaan, dan jurnalistik, beberapa tahun terakhir mulai mengembangkan minatnya di dunia seni rupa.

 

Dunia yang tidak sekonyong-konyong datang, namun dunia yang selalu dicintainya, sejak lama, ia pernah berkreativitas bersama Sanggar Bambu, sebuah sanggar seni tempat sekumpulan anak muda dari Yogyakarta yang dekat dengan seni lukis, patung, dan kriya.

 

“Dalam kolaborasi ini, kami tak banyak bicara satu sama lain. Hanafi – tanpa pesan, tanpa kata-kata akan mengirimkan karya-karyanya kepada saya, saya kira dengan keyakinan hasil kreasi itu tak akan jadi buruk jika saya menambahkan garis, warna dan bentuk yang saya buat. Tak ada diskusi tentang konsep. Kami masing-masing terjun langsung ke dalam karya yang dihadapi, memberi respons. Sebuah dialog intuitif berlangsung,” kata Goenawan Mohamad.

 

“Seperti sebuah novel yang dibaca dari halaman tengah, karya kami mendorong pemirsa untuk terus menduga akhir dan awal penyebab halaman depan yang tak sempat terbaca. Tetapi sebuah kanvas memiliki banyak pintu, lebih banyak dari yang dimiliki sebuah novel,” ujar Hanafi.

 

Dua pandangan di atas jelas menunjukkan kebebasan kreator untuk saling “merusak” layaknya dialog yang tak selalu baik-baik saja.

 

57 x 76 juga akan menghadirkan sebuah Lokakarya `Kolaborasi Sebagai Metode” bersama, Goenawan Mohamad, Hanafi, dan Agung Hujatnikajennong, pada tanggal 24 Juni 2018, pukul 14.00 WIB di Galeri Nasional Indonesia.

 

Ada 200 lebih karya di atas kertas dan kanvas, dengan tiga instalasi yang dipamerkan akan perlihatkan bagaimana daya karsa keduanya saling “merusak”.

 

“Kata “dirusak” bagi saya adalah isyarat untuk membuat metamorfosis pada garis, bidang dan warna yang ia tawarkan. Pada umumnya Hanafi membuat karya-karya monokromatik, dan kalau tidak, deretan karyanya mengisyaratkan tema: kenangan kepada Picasso, Max Ernst, sugesti erotic, dan bentuk-bentuk surealistis. Saya menyambut “corak” ini, mengikutinya justru dengan membuat beda tiap kali,” kata Goenawan Mohamad. []

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber