Bisnis Tokek, Dari Puluhan Ribu Hingga Ratusan Juta

26

WARTABUANA – Ditengah terik matahari, Yaya Satria (50), pria asal Tegal, Jawa Tengah terlihat tengah asyik memberi makan binatang Tokek yang ia jual di pingir jalan Pasar Burung Jatinegara, Jakarta Timur.

Meski bagi beberapa orang Tokek merupakan binatang yang menjijikan, Tokek ternyata mempunyai nilai jual yang tinggi., Yaya menjualnya dengan harga Rp 100 ribu per ekornya untuk yang ukuran besar. Sedangkan untuk ukuran paling kecil ia jual dengan harga Rp 50 ribu.

“Kalau harga beda-beda mau ukuran berapa? Kalau yang besar, seratus, kalau yang kecil 50,” ujarnya sambil memberikan jangrik sebagai pakan dari binatang yang kini mulai langka itu.

Ia mengaku juga punya Tokek yang berukuran jumbo, sekitar 30 cm yang ia jual dengan harga cukup fantastis yakni Rp 100 juta. Harga itu cukup mengagetkan karena binatang ini bisa lebih mahal dari se-ekor Kerbau atau Sapi.

“Loh iya bener memang segitu harganya karena itu kan langka kalau dipikir-pikir lebih mahal dari sapi atau kerbau,” katanya dengan penuh yakin.

Yaya mempunyai Tokek yang cukup banyak yakni 300 ekor, namun tidak semunya ia bawa di Pasar Burung Jatinegara, sebagaian ia simpan di rumah, kebanyakan yang disimpan untuk jenis Tokek yang berukuran besar.

Menurut keterangan Yaya, Tokek yang berukuran besar justru lebih cepat laku dibanding yang ukuran kecil karena binatang itu langka, dan peminatnya cukup banyak. Bahkan pembeilnya seringya orang luar.

“Kalau saya denger-denger sih itu yang beli WHO (World Health Organization.red), orang luar,” katanya.

Saat ditanya lebih lanjut, Tokek sebesar itu buat apa, Yaya mengatakan untuk menyembuhkan orang banyak yakni penyakit HIV AIDS,

“Setahu saya sih mereka yang beli katanya buat obat penyakit AIDS,” terangnya.

Dari Puluhan Ribu Hingga Seratus Juta

Memang Tokek yang besar tidak dijual secara langsung, mereka yang mau beli biasanya terlebih dahulu menghubungi Yaya, kemudian setelah terjadi kesepakatan Tokek itu kemudian ia ambil dari rumahnya. Pria yang sudah 15 tahun berjualan Tokek ini juga menerima bila ada orang yang akan menjual Tokek.

“Ya sini kalau ada yang punya ukuran besar 30 Cm aja saya beli Rp 15 juta,” katanya dengan nada serius.

Selain sebagai obat, masyarakat Tionghoa, Tokek dipercaya bisa mendatangkan keberuntungan atau Hoki.

“Ya macam-macam, bisa karena hobi, untuk obat gatel, kalau orang Cina bisa beli katanya biar Hoki,” ujarnya sambil senyum.

Untuk Tokek yang berukuran besar, biasanya ia dapatkan di hutan, atau pekarangan kosong di Kampung halamannya di Tegal saat dia pulang kampung.

Ia menjelaskan kenapa harga Tokek sangat mahal, menurutnya karena barangnya cukup langka, kemudian perawatanya juga cukup mahal karena dalam 1 hari, Yaya harus membeli 2 Kg Jangkrik dengan harga Rp 150 ribu untuk pakan Tokek.

Meski begitu Yaya mengaku senang berjualan Tokek, karena tidak susah mengurusnya dan keuntungan juga banyak dibanding dengan ternak Sapi atau Kerbau di Kampung Halamanya.

“Kalau kita pelihara Kerbau, ribet makanya banyak tainya juga bau, kalau Tokek kan gak , tempatnya, makanya gak susah,” tuturnya.

Yaya berjualan Tokek sudah hampir 15 tahun, sebelumnya ia mengaku berjualan jam tangan dipingiran kota Jakarta namun besarnya modal yang dikeluarkan tidak cukup untuk mobilitasnya yang cukup tinggi karena ia berjualan dengan cara berpindah-pindah dari tempat satu ketempat yang lain sehingga ia memutuskan untuk beralih menjual tokek.

Kini Yaya sudah bisa menikmati manfaat atau keuntungan yang banyak dengan berjualan Tokek untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Satu bulan sekali Yaya pulang ke Kampung Halamannya untuk mengambil Tokek sekaligus melepas Rindu bersama 3 orang anaknya yang masih kecil-kecil.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here