Nara Recycle, Bisnis Daur Ulang Berbalut Aksi Sosial

0

WARTABUANA – Tidak dipungkiri kalau kreativitas mengolah limbah kertas ini bisa menghasilkan keuntungan cukup besar, sementara modal yang dikeluarkan terbilang minim. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh pelaku utama usaha daur ulang kertas, Neyza.

Saat dijumpai oleh wartabuana dilokasi produksinya `Nara Recycle` dibilangan Keramat Jati, Jakarta Timur, Neyza mengaku cukup sadar kalau usaha yang digelutinya ini, cukup menguras daya imajinatif dan kreatifitasnya. Terlebih sebagai pemain baru, tentu Neyza memahami kalau usaha kertas daur ulangnya ditengah pelaku usaha yang sama, memang perlu mempunyai banyak strategi .

“Sebagai pelaku usaha pemula, kita harus bisa membuka ruang lingkup yang tidak terbatas. Dan yang saya liat kertas daur ulang inilah yang bisa dibuat berbagai produk, sebutlah, tempat tissue, undangan, ataupun kertas wallpapper,” ujar Neyza.

Memang diakui Neyza kalau produk dari daur ulang kertas mulai dikenal sejak tahun 1990-an, produk ini sudah mulai dikenal masyakarat dan sempat booming karena keunikannya.

“Saat itu yang saya pikir adalah bagaimana jika bertemu seseorang, saya bisa memberikan atau memperlihatkan sesuatu kepada orang tersebut. Disinilah awal mula ide usaha daur ulangnya muncul,” bebernya.

Baginya, banyak karya yang bisa dihasilkan dari kertas daur ulang. Sebut saja frame atau pigura foto dan blocknote. Lalu, kreasi produk-produk baru seperti  kotak perhiasan, atau juga kotak hantaran pernikahan. Dari merangkai kertas limbah ini, Neyza mengaku mampu menghasilkan Rp 30 juta rupiah perbulannya. Walau begitu alumnus politeknik jebolan Universitas Indonesia ini mengakui kalau proses pembuatannya itulah yang membuat kertas daur ulang itu menjadi mahal.

“Saya ingin rubah stigma orang yang bilang kertas daur ulang mahal. Tapi memang prosesnya itu yang membuat mahal,” tutur Neyza.

“Memang kertas daur ulang itu bahannya menggunakan bahan limbah atau bekas. Tapi kan mereka tidak tau bagaimana proses pembuatannya. Menurut saya harganya sudah sesuailah,” ujarnya.

Untuk menghasilkan satu lembar kertas ukuran A1 saja, dibutuhkan waktu sempai dengan 2 hari masa pengeringan. Belum lagi jika berbicara cuaca tidak mendukung atau mendung. Maka waktu pengeringan kertas menjadi lebih lama.

Untuk sekali produksi kertas, Neyza mengaku bisa membuat 100 lembar kertas per hari untuk ukuran A1. Hal itu mampu diselesaikan Neyza bersama teman-temannya, bahkan itupun terkadang tidak memenuhi pesanan konsumen.

Bisnis Sosial

Memang saat ini Neyza sedang kebanjiran orderan kertas daur ulang. Pasalnya beberapa konsmennya bisa dibilang bukanlah custumer sembarangan, sebutlah Nutrifood, Kompas Gramedia dan BNI Syariah.

“Mereka jadi tempat penampungan kita, selain itu ada juga beberapa ibu pejabat,” ujarnya.

Sukses menjajakan kertas daur ulang, ternyata diikuti juga kesuksesannya dengan membuka sekolah geratis dilokasi yang sama bagi masyarakat yang putus sekolah.

“Perbedaan kita disini bisnis sosial, dengan memberikan biaya hidup bagi anak jalanan dan putus sekolah. Mereka juga kita berikan pendidikan uang saku, serta agama,” tuturnya.

Masyarakat yang ingin melajutkan sekolah di Nara Recycle tidak dipungut biaya sedikitpun, disekolah ini, yang putus sekolah bisa mengejar pendidikan paket A, B dan C secara geratis. Walau begitu, Neyza mengaku masih enggan untuk meminta bantuan dari pemerintah, meski diakui dirinya kalau Nara Recyle masih membutuhkan uluran tangan.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here