Nugget Sayur Ingin Coba Pasar Asia

0
4

WARTABUANA – Di tengah masyarakat yang sedang gandrung makanan siap saji dan makanan instan berpengawet, Dwi Puji Astuti justru menawarkan produk olahan sehat, yakni nugget sayur. Obsesinya,dia ingin menembus pasar Asia.

Pola hidup yang tidak sehat tentu akan membuat sejumlah kekhawatiran besar. Terlebih jika pola penerapan tidak sehat itu sudah diterapkan pada anak-anak. Pemberian makanan bersifat instant akan memberikan efek tidak baik bagi perkembangan pertumbuhan anak.

Hidup yang tidak sehat sudah mengakar  di kalangan masyarakat sejak lama, terlebih serangan makanan seperti cepat saji, atau minuman dalam kemasan. Padahal menu-menu makanan tersebut, banyak terkandung MSG atau zat pengawet, anehnya makanan itupun cenderung lebih disukai anak-anak dari pada makanan sehat sesungguhnya.

Hal inilah yang menjadi kekhawatiran sekaligus sebagai bentuk kepedulian seorang Dwi Puji Astuti terhadap kecintaanya terhadap anak-anak.

“Kita liat perkembangan makanan, jajanan anak-anak itu sekarang banyak yang tidak sehat. Itu yang membuat kekhawatiran, akhirnya saya coba buat ide untuk membuat makanan yang sehat,” ujar Dwi, kepada wartabuana.com, Selasa (28/1/2014).

Dengan keperdulian dia kepada anak-anak, mahasiswi S-2 Jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta inipun mencoba memutar otak, dan akhirnya berhasil menciptakan makanan sehat, yakni mengemas sayuran yang sejatinya jarang dikonsumsi anak-anak disulap dalam bentuk panganan populer, yakni bentuk nugget.

“Bahan bakunya murni sayur-sayuran. Kita olah, dan semuanya tanpa ada bahan pengawet,”beber Dwi.

Inovasi dibidang kuliner yang diciptakan Dwi, memang sekaligus mengantarkan dirinya yang bercita-cita sebagai seorang wirausahawan mandiri. Inovasi ini bukanlah yang pertama dijalankan Dwi. Sejak duduk di bangku SMP pun, wanita berhijab ini sudah mencoba berbisnis.

Dia sempat dengan menjual buku, aksesoris muslimah, hingga nasi uduk. Namun seiring tahun perkuliahan sarjananya, Dwi pun berkeinginan keras untuk memiliki sebuah usaha sendiri yang bisa bertahan lama dan mapan.

“Saya ingin usaha saya ini bisa menembus pasar Asean di Economic Global (pasar bebas) mas. Kita harus berpikir ke depan untuk mempunyai usaha yang sustainable hingga 10 tahun ke depan,” tuturnya.

Wanita yang telah menamatkan pendidikan S-1 Kimia, Universitas Lampung (Unila) ini, mengaku bukan tanpa alasan pemilihan nugget sayur sebagai bisnis jangka panjangnya. Dirinya telah terlebih dahulu menjalankan berbagai riset terhadap produk dan masyarakat. Setelah melakukan riset dan kroscek, barulah
pada 2011, dia meluncurkan produk nugget sayur yang diberi nama NASA.

Disambut Positif
Diawal peluncuran produknya di Lampung, Dwi mengaku kalau produknya tersebut cukup positif disambut pasaran. Walau dirinya juga tidak menampik ditengah persaingan usahanya yang sejenis banyak yang menganggap remeh. Menurutnya, itu bagian dari persaingan usaha. Yang jelas, komitmen Dwi untuk  menjaga kualitas produk, menjadi suksesnya untuk menarik banyak pelanggan.

“Banyak yang meremehkan. Tapi kembali lagi kepada kitanya,  kita tidak mau main asal jual. Kita harus bisa melihat sisi pelayanan terhadap konsumen dan yang terpenting menjaga kualitas produk hingga konsumen mengatakan wah ini produk yang bisa menjangkau anak-anak dan vegetarian,” ceritanya,

Selain persaingan pelaku bisnis, kendala lain yang timbul saat ini lanjut Dwi adalah dalam proses distribusi. Nugget sayur Dwi tidak mengandung pengawet, sehingga sulit untuk menjangkau ke luar pulau tanpa mengurangi kualitas.

“Produk ini tanpa pengawet dan pewarna sintetik, jadi kami berusaha menjaga kualitas. Dan saat ini penyebarannya kita baru Jabodetabek dan Yogyakarta. Insyaallah kedepannya itu pasar bebas Asean,” harapnya.

Saat ini, produknya telah memiliki lima varian rasa yang bisa dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa, yakni Bayam Merah, Bayam Hijau, Wortel, Jagung Manis, dan Brokoli. Kedepannya, dia pun sudah melakukan ancang-ancang untuk terus memodifikasi varian rasa maupun bentuk nugget sehingga terlihat lebih menarik.

“Produk yang saya jual tersedia dalam dua bentuk, yakni kemasan frozen dan siap saji. Harganya cukup murah Mas, mulai dari Rp 6 ribu untuk kemasan kecil hingga Rp 20 ribu untuk kemasan 250 gram. Dan kita buka buat mahasiswa-mahasiswi yang mau menjadi resseler,” tegas Dwi yang telah memiliki 7 orang tenaga kerja di tempatnya ini. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here