Umar Tetap Bertahan Dengan Karya Miniatur Mobil Kayu

291

JAKARTA, WB- Gempuran permainan anak-anak dengan sistem digitalnya, memang sudah mewabah, sebutlah video game dan playstation. Disisi lain mainan dengan pengaturan canggih beremote control pun seperti berserakan di toko-toko ataupun di mall yang laris. Hal itu terasa kontras dengan toko pak Umar dibilangan Kalibata Pasar Minggu yang masih bangga dengan penyajian mainan tradisional berbahan dasar kayu dan tripleks.

Mainan miniatur kayu, seperti terpinggirkan oleh kedikdayaan gempuran mainan impor. Munculnya berbagai macam produk permainan anak-anak, memang sempat membuat beberapa toko mainan kayu makin tergerus dan gulung tikar. Mereka telah lenyap oleh era persaingan moderenisasi yang menghempas usaha mainan anak tradisional.

Fakta itu memang tidak dipungkiri, dan diakui oleh Umar yang dari tahun 1970 sudah menekuni usaha mobil-mobilan kayu ini.

“Ada pengaruhnya, dan terasa juga sebetulnya, sampai sekarang ke hitunglah berapa toko yang buka,” tutur Umar kepada wartabuana di lokasi dagangannya yang terlihat penuh dengan potongan-potongan kayu itu.

Pria sepuh itu mengakui, salah satu penyebab tergerusnya pelaku usaha mobil kayu ini karena tidak bisa bersaing dalah hal produksi. Bayangkan untuk membuat satu buah mobil berkategori truk saja, dia membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari proses pengerjaanya. Sebab peralatan yang digunakan masih terbilang manual. Hal itulah mengapa Umar untuk saat tidak lagi bisa sanggup untuk menyuplai barang-barang produksi keluar daerah.

“Dulu saya ngirim barang sampai Medan, Palembang, Lampung, sampai saya ekspor ke Belanda. Sekarang susah enggak ada yang bikin lagi,” ujarnya mengenang sambil mengamplas ukiran kayu untuk mainan baling-baling.
Sambil menarik nafas panjang, Umar kembali membuka memori ketika usahanya masih jaya ditahun 1970-an.
Ditahun itu, dia bisa menghasilkan omzet mencapai Rp 30 juta per bulan, ia malah mengaku kewalahan memenuhi pesanan yang datang tidak hanya dari wilayah lokal, bahkan pesanan meliputi mancanegara.

“Saat itu karyawan sampai ada 50 orang, itupun masih sulit untuk memenuhi pesanan,” tuturnya.

Dengan usahanya tersebut, Umar bahkan mampu membiayai ke-lima anaknya sampai keperguruan tinggi. Bahkan satu diantaranya telah berhasil menggenggam pendidikan S2. Seiring serbuan mainan impor, seiring itupulalah, Umar mencoba untuk tetap bertahan. Peralatan manualnya ternyata tidak mampu menghasilkan tandingan kualitas barang seperti produk Cina yang memiliki kualitas lebih bagus.

Perlahan, satu persatu, karyawannya banyak yang banting stir mencari pekerjaan lain. Orderan pun makin menjauh. Kini dia hanya bertahan dengan kiosnya di bilangan Kalibata.

“Sebetulnya kalau ada pinjeman sampai 1 Milliar aja, buat beli mesin, saya yakin usaha ini bisa hidup kembali. Soalnya UKM sendiri cuma mau ngasih Rp 250 juta. Segitu gak cukup buat sewa tempat sama mesinnya,” curhatnya.

Idenya Muncul di Ancol

Seolah tidak ingin mengeluh, Umar kembali bernostalgia prihal awal mulanya bisa membuat miniatur mobil-mobilan kayu. Sambil memegang salah satu hasil karyanya, yaitu, sebuah miniatur Bus Trans Jakarta, ia mengaku
ide awal dari usahanya tersebut, berawal saat dia jalan-jalan ke Ancol.
Waktu itu, Umar hanyalah karyawan buruh pabrik yang fokus pada kerajinan tangan. Saat libur, Umarpun iseng man ke Ancol.

Umar melihat mobil-mobilan kayu yang dipajang dipelataran toko, karena menarik, Umarpun mencoba membuatnya dirumah, berbekal kayu, triplek dan cat, dan ternyata berhasil. Mobil yang dibuatnya itu dibeli orang dengan harga tinggi.

“Saya iseng bikin dan laku. Saat itu modalnya cuma 800 perak, eh dia beli seharga 700 ribu sama orang itu. Saya keluar, saya coba pelajari buat jenis yang lain dan sampai sekarang alhamdulliah masih berjalan,” bebernya.

Untuk satu jenis miniatur mobil truk kayu, Umar mematok harga Rp. 50 ribu, sedangkan untuk jenis Kereta Api, dia hargai Rp. 300 ribu.  Mainan berbahan kayu yang lainnya seperti bajaj, kuda-kudaan dijual bervariasi dari dari Rp 30.000 sampai Rp 300.000 per buah.

“Kalau berminat untuk membuka usaha, dibutuhkan modal awal sebesar 10 juta rupiah saja. Itu bisa dapat mendapat banyak model mobil dari saya,” pungkas Umar membuka peluang rekanan bisnis.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here