`Taman Brothers`, Bengkel Ahlinya Motor Untuk Orang Difabel

363

JAKARTA, WB- Berawal dari sebuah hobi bermain otomotif sejak masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Sutaman (44) mencoba menekuni hidupnya dengan melakoni dunia bisnis otomotif.

Sutaman kala itu masih menjadi seorang yang usianya masih sangat muda. Namun ia mulai berpikir bahwa hobi bermain otomotifnya itu bisa dijadikan bisnis dan menghasilkan pundi-pundi uang.

Bermodalkan uang Rp 250.000, Sutaman memulai mengaplikasikan ilmu dan pengalamanya dengan membuka Bengkel Bubut dan Las `Taman Brothers Teknik` di Jl. Albarkah I, Manggarai Selatan, Jakarta Selatan.

Bengkel yang sudah ia buka sejak tahun 1995 awalnya hanya untuk melayani kendaraan sejenis Bajaj. Karena Sutaman sendiri sudah terbiasa memegang dan memperbaiki kendaraan asal India tersebut sejak masih SMA.

Namun seiring berkembanganya waktu, Bajaj tua pun diremajakan dengan Bajaj BBG. Proses peremajaan itu, diakui oleh Sutaman mempengaruhi omzet bengeklnya menurun.

“Ya karena sekarang ada pemusnahan, dan diganti Bajai berbahan Gas yang warna biru, jadi memang nggak seramai dulu,” ujar Sutaman, kepada Wartabuana, Rabu (29/1/2014).

Meski begitu ia tetap sabar dan menekuni keahlianya, sampai suatu ketika ia mulai membuka peluang baru dengan melayani jasa perakitan motor atau modifikasi motor penyandang cacat atau difabel pada tahun 2005.

Menurut Sutaman, awalnya, ia melayani jasa perakitan motor bagi penyandang difabel menjadi roda tiga tidak berangkat dari kesengajaan. Melainkan pada suatu ketika ia menceritakan ada orang cacat yang sudah berputar-butar mencari bengkel motor di daerah Manggarai. Orang tersebut bermaksud meminta kepada pemilik bengkel untuk memodif motornya menjadi roda tiga agar bisa digunakan untuk beraktifitas.

Namun alhasil tidak ada bengkel yang mau menerima dan merasa sanggup untuk memodif motor miliknya hingga akhirnya bertemu bengkel miliknya, dan ia pun menyanggupi untu pengerjaan motor untuk penyandang disabilitas tersebut.

“Waktu itu saya terima dengan niat ingin menolong jadi lebih kepada kemanusiaan lah,” katanya sambil tersenyum.

Kemampuan Sutaman memodif motor bagi penyandang cacat, tidak terlepas dari keahliannya dalam kendaraan roda tiga.

Bagi Sutaman, memodif motor bagi penyandang cacat bentuk dan caranya sama persis dengan kendaraan Bajaj, yakni beroda tiga dan bergerak seperti Mobil bisa maju dan bisa mundur. Oleh sebab itu sedikit banyaknya ia mempunyai pengetahuan dasar mengenai hal tersebut.

“Karena dulu saya sering bermain Bajaj jadi sedikit-dikit saya tahu,” katanya.

Semenjak peristiwa itu, melihat prospek bagus untuk membuka pasar bisnis baru dengan menawarkan modif motor bagi penyandang cacat atau difabel.

Harga yang ditawarkan bervariasi, jika ingin kendaraanya bisa maju mundur kocek yang dikeluarkan sekitar Rp 10 sampai 15 juta. Namun jika hanya bisa maju saja pelanggan cukup membayar uang Rp 7 juta. Untuk satu unit motor, Sutaman mengaku memerlukan waktu 2 minggu hingga sebulan.

Uang tersebut diperlukan karena peralatan yang dibutuhkan cukup banyak untuk memodif motor menjadi roda tiga karena harus ada perombakan total di bagian belakang motor. Katakanlah untuk bisa menjadikan motor tersebut maju mundur, Sutaman harus membeli gardan Bajai yang harganya bisa mencapai Rp 5 juta.

Selain itu, ada juga as roda sesuai dengan velk yang dibutuhkan, velk tambahan, ban, pipa besi, spakbor sesuai dengan selera pelangan, kemudian cat, dan modifikasi as roda sesuai dengan bentuk dan modifikasinya.

Untuk model motor yang bisa maju mundur Sutaman kurang lebih menghabiskan waktu pengarapan selama satu bulan, dibantu tiga karyawannya. Sedangkan untuk motor yang hanya bisa maju saja waktu yang dibutuhkan hanya dua minggu.

Semua desain diserahkan oleh Sutaman, ia yang merancang semua model motor. Pelanggan pada umumnya hanya menyerahkan sepenuhnya motor tersebut untuk di modifikasi selebihnya itu menjadi tugas Sutaman.

Bagi siapa saja penyandang cacat yang ingin memodifikasi motornya, Sutaman menyarakan untuk memakai motor jenis matik. Alasannya karena motor matik lebih responsif dibanding dengan motor bergigi atau motor bebek. Remnya mengunakan tangan tidak mengunakan kaki itu juga dirasa lebih mudah.

Selain itu, Sutaman menyarakan kalau pun bisa cari motor matik yang irit, dan memakai mesin injeksi. Hal tersebut juga dinilai bisa memberikan kenyamanan berkendara. Karena modifikasi motor menjadi roda tiga tidak ada perubahan mesin. Kecepatan gas dan bensin tetap sama.

“Tidak ada perubahan yang mendasar, mesin tetap sama,” katanya.

Modal Terbatas

Pada dasaranya Sutaman membuka jasa perakitan motor bagi penyandang cacat bermula karena rasa keprihatinannya terhadap mereka yang mempunyai keterbatasan fisik. Sutaman merasa tergugah hatinya untuk bisa membantu agar mereka bisa beraktifitas dan bekerja seperti halnya orang lain.

Namun, Sutaman juga menyadari bahwa ia juga mempunyai keterbatasan dalam persoalan finasial oleh sebab itu, ia berniat membantu mereka juga dengan keterbatasan yang ia miliki.

“Ya karena saya menyadari tidak punya uang banyak, maka saya membantu dengan keterbatasan saya. Tapi prinsipnya sama saling menolong, karena ini tidak hanya jasa saja tapi barang yang dibutuhkan juga banyak,” katanya.

Oleh sebab itu, Sutaman tidak bisa membantu secara gratis, tapi hanya saja harga yang semula ditawarkan bisa berkurang. Pasalnya ia pernah bercerita ada seorang penyandang disabilias yang ingin sekali memodif motornya menjadi roda tiga, sedangkan ia tidak punya uang banyak untuk membayar harga yang ditentukan. Namun Sutaman tetap menerima dan memodif motor miliknya.

“Karena dia ngak punya uang, kita carikan bahan-bahan yang masih bisa dipakai. Yang penting apapun hasilnya ia bisa menerima, asalkan bisa jalan,” ceritanya.

Alhasil, dengan kelapanganya kini bengkel milik Sutaman sudah dikenal oleh banyak orang. Sejak resmi memulai bisnis ini tahun 2005 ia sudah berhasil memodif puluhan motor untuk penguna disabilitas.

Pelanggannya tidak hanya sebatas orang yang bermukim di Jakarta, tapi juga di berbagai daerah di Jabodetabek, Serang dan lain sebagainya. Bahkan melaui Facebook ia mengaku banyak pemesanan di luar Jawa seperti Kalimantan dan Sumatra.

Namun lagi-lagi karena keterbatasan dan jarak yang terlalu jauh, penawaran itu ia tolak, maklum selain dari mulut ke mulut sistem pemasaran yang dilakukan oleh Sutaman juga menggunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Selain perakitan motor bagi penyandang Disabilitas, Sutaman juga memiliki bengkel las dan bubut. Dari usaha itu, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarganya dan sebagai penopang hidupnya.

“Ya alhamdulillah cukup buat makan, syukur-syukur bisa buat naik haji,” katanya sambil ketawa ringan.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here