Desainer Muda Esmod Jakarta Berpartisipasi di ADIWASTRA 2019

28

WARTABUANA – ESMOD Jakarta adalah pioneer pendidikan mode di Indonesia yang berpusat di Paris. Telah berdiri dari tahun 1996 sebagai salah satu institusi pendidikan mode terdepan yang konsisten menghasilkan kumpulan desainer berbakat. ESMOD Jakarta memiliki beberapa program pendidikan yaitu 1 Year Fashion Design & Pattern Drafting, 3 Year Fashion Design & Creation, 3 Year International Fashion Business dan 18 Months Master Degree berkolaborasi eksklusif dengan Institut Tekhnologi Bandung (ITB).

Beberapa tahun yang lalu, keberadaan kain tradisional Indonesia masih mengisi ruang-ruang perjamuan formal, upacara adat, dan beberapa acara khusus. Kini, kain tradisional lebih fleksibel digunakan dalam berbagai kesempatan, tanpa mengurangi makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Peran Esmod Jakarta sebagai sekolah mode adalah membentuk pelestarian, pengenalan dan pemberdayaan kain tradisional kepada para siswanya.

Dalam acara “Adiwastra Nusantara 2019” bertemakan Wastra Adati Generasi Digital yang digelar pada tanggal 20 -24 Maret 2019 di Jakarta Convention Center, Esmod Jakarta turut berpartisipasi dalam mengangkat kebudayaan Indonesia dengan menampilkan para desainer lulusan Esmod Jakarta yang memiliki koleksi kain asli Indonesia dan dimodifikasi dengan tampilan modern.

Menampilkan koleksi siswa ESMOD Jakarta Class of 2018 yang bergaya muda dengan ciri khas street style menggunakan detail pengerjaan yang memadukan teknik klasik dan modern. Serta mengajak 2 alumni pendahulunya yang telah berkarya dalam industri fashion dan turut mengharumkan nama bangsa di pasar internasional, Esmod Jakarta siap untuk mendukung karya desainer muda berbakat di Indonesia.

Ratri Wijaya Kusuma salah satu alumni Esmod Jakarta yang telah sukses dengan “Rumah Batik Wijaya” miliknya, mengusung konsep “Feminisme Hong” membawa Pesona Batik Peranakan dalam akulturasi Budaya antara Indonesia dengan warga Tionghoa yang ada di Indonesia. Mengambil tema Burung Hong, dimana diartikan Rajanya Burung dan unsur apinya terkuat, dengan sifat Feminimitas, Kelembutan dan Keagungan.

Dengan memadukan unsur batik dan kain brokat, memakai warna-warna seperti hitam yang merupakan lambang kesetiaan, putih melambangkan kejujuran, merah yang berarti kesantunan, Hijau mewakilkan keadilan dan kuning yang berarti kemurahan Hati dengan Model “Fashion Loose”, free size, menggunakan aplikasi brodir.

Selanjutnya ada alumni Esmod Jakarta tahun 2016, Delyanadia Ulimasari atau yang lebih dikenal dengan Denad Ulima. Membawa koleksinya “The Reign”, Denad menggunakan Songket Palembang yang dikemas dengan gaya masa kini. Pembuatan songket hand-made dengan motif buatan sendiri ini telah menghabiskan waktu 4 bulan. Warna yang digunakan adalah warna hijau, coklat dan putih. Di koleksi ini, Denad ingin mengangkat cara baru untuk menggunakan kain warisan budaya Indonesia dalam bentuk outfit modern yang bisa dipakai oleh generasi milenial.[]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here