Empat Karya Sastra Denny JA Jadi Lomba Kritik

57

WARTABUANA – Gunjang ganjing dunia sastra lima tahun terakhir akibat pro dan kontra kelahiran puisi esai, dan semakin banyaknya penulis senior mengangkat isu sosial melaui puisi esai, serta semakin populernya puisi esai ke tingkat negara ASEAN, telah menarik perhatian Asosiasi Guru Bahasa Indonesia dan Sastra Indonesia (AGBSI).

Asosiasi ini himpunan guru yang mengajar bahasa dan sastra di aneka sekolah SLTA dan SLTP di seluruh Indonesia. Dalam rangka menggairahkan pemahaman sastra para guru, dan mengajak masyarakat memahami isu sosial melalui sastra, AGBSI menginisiasi lomba kritik sastra puisi esai.

Lomba itu terbuka bagi semua guru bahasa dan guru sastra semua tingkatan, baik SLTA dan SLTP. Buku yang dikritik sengaja dipilih karya pelopor puisi esai itu sendiri. Selama ini Denny JA dikenal sebagai konsultan politik yang acap mendapat penghargaan dunia. Ternyata Denny JA juga seorang inovator dan penulis puisi esai yang produktif.

Empat karya sastra Denny JA menjadi topik lomba untuk dikritik. Pertama, Atas Nama Cinta. Puisi esai ini berkisah soal aneka diskriminasi dalam sejarah Indonesia. Kedua, Kutunggu Kau di Setiap Kamisan. Buku ini tentang aksi kamisan di seberang istana yang mencari keluarga hilang.

Ketiga, Jiwa Yang Berzikir. Buku ini soal pencarian identitas dengan konteks 30 Juz Al-Quran. Keempat, Roti untuk Hati. Ini kumpulan renungan filsafat hidup.

Karya Denny JA sudah dibahas oleh pakar manca negara. Kritikus beberapa negara pernah secara khusus mendiskusikannya dalam seminar di Malaysia. Seminar atas karya Denny JA di Malaysia itu sudah pula diterbitkan menjadi buku.

Beberapa karya puisi esai Denny JA telah pula difilmkan untuk film pendek pendidikan oleh sutradara Hanung Brahmantyo. Lomba itu berhadiah total 57 juta rupiah. Dan akan ditutup tanggal 20 Juni 2019.

“Saya menyambut baik lomba ini. Saatnya puisi esai juga menjadi kajian kritik sastra. Sejak lima tahun terkahir, sudah terbit hampir seratus buku puisi esai yang ditulis oleh ratusan penulis dari Aceh, hingga Papua, bahkan Mancanegara,” ujar Denny JA.[]

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here