Peleburan BP Batam, Kebijakan Politis yang Salah Kaprah

63

WARTABUANA –  Wacana melebur Kepemimpinan BP Batam dengan Wali Kota Batam adalah kebijakan salah kaprah.  Pasalnya, sejak semula pengembangan Batam tujuannya menjadi kawasan Free trade zone (FTZ) dengan pendekatan supply-side.

Hal itu diungkapkan pakar kebijakan publik Danang Girindrawardana di Jakarta, Jumat (11/01/2019) kepada sejumlah awak media. Menurut Danang, sejak jaman orde baru, Batam dijadikan gerbang ekspor impor untuk mendongkrak investasi dan industrialisasi.

“Jika melihat di Hanoi dan Penang, kawasan industri diserahkan ke Pemerintah daerah tapi kelembagaannya kuat. Jika ada masalah maka langsung bisa ke pusat, tidak perlu lobi-lobi dulu. Kita sekarang bicara Indonesia yang birokrasinya berbelit-belit, mengurus BP Batam yang punya ekspektasi besar terhadap pertumbuhan ekonomi secara nasional. Apakah relevan jika di kelola oleh walikota? Belum lagi di Indonesia rentan terjadi benturan komplikasi kewenangan yang diakibatkan adanya undang-undang otonomi daerah,” papar Danang.

Lebih jauh mantan Ketua Ombudsman Indonesia menegaskan, negara memiliki harapan besar terhadap BP Batam sebagai dongkrak ekonomi nasional. “Tapi jika dikelola oleh daerah, sementara daerah jika ada tekanan dari pusat langsung ciut. Belum lagi, pengambilan kebijakannya harus lobi sana-sini.  Ini tidak logis pasti ada apa-apanya, dan banyak kepentingan dibelakangnya,” katanya.

Danang Girindrawardana /ist

Harusnya, sambung dia, melihat potensi BP Batam menjadi garda depan kekuatan pintu ekspor Indonesia dan minimalisir impor sepatutnya BP Batam diberikan power lebih dengan pengelolaan yang lebih professional. Sehingga mampu bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia bukan malah dilemahkan hanya dikelola oleh daerah yang kekuatan kebijakannya terbatas. Harusnya kekuatannya harus lebih diperkuat bukan malah dibatasi.

Jika ganti wali kota akan ganti kebijakan dan ganti arah. Karena wali kota itu jabatan politis sehingga setiap kebijakannya ada kepentingan politik  didalamnya.

Lantas, ujar dia lagi, untuk menarik dan mengelola investor besar, masa hanya urus di daerah. izin investasi kan ada  BKPM, ada juga Kementerian Perekonomian, Kementerian Keuangan. “Investor kan butuh kepastian, kalau udah rancu seperti  ini, investor bisa pada lari,” ujarnya.

Ditempat terpisah,  Wakil Ketua Umum Kadin Suryani S Motik, menuturkan antara BP Batam dan Pemkot Batam itu dua hal yang berbeda. BP Batam itu profesional yang memang kepanjangan tangan dari pusat. Sementara wali kota itu pemerintah daerah. Wali kota sendiri, itu sifatnya lima tahunan. Jika ganti wali kota akan ganti kebijakan dan ganti arah. Karena wali kota itu jabatan politis sehingga setiap kebijakannya ada kepentingan politik  didalamnya. “Wacana peleburan ini jelas ada kepentingan politik besar didalamnya,” katanya.

Suryani S Motik /ist

Padahal menurut Suryani, apa yang sudah ada di Batam sekarang ini sudah bagus.  Dibawah kepemimpinan Lukita Dinarsyah Tuwo yang profesional, investasi di Batam mulai mengeliat. Batam yang 2017 masih tumbuh dikisaran 2 persenan, 2018 umbuh diatas 4 persen.

“Jika nanti pengelolaannya dipegang oleh wali kota, setiap lima tahun sekali arah kebijakannya berubah, tergantung pemenang dan arah kepentingannya. Bicara politik di Indonesia sangatlah rentan, jika Batam dikelola oleh wali kota yang  open minded, bagus dan profesional masih oke lah. tapi kalau tidak, akan jadi bencana,” tegasnya.

Untuk itu, Anggota Komisi VI DPR Bowo Sidik meminta, agar pemerintah untuk duduk bersama dengan DPR RI dalam mengambil keputusan terkait BP Batam.  “Karena UU FTZ menyebut BP Batam dikelola oleh lembaga setingkat menteri yang menjadi mitra di Komisi VI DPR,” kata Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar ini.

Menurutnya, peleburan itu melanggar UU 23/2014  tentang Pemerintahan yang melarang walikota merangkap jabatan. Dan UU 53/1999 yang dengan jelas membagi wewenang dua lembaga tersebut. “Sebagai mitra koalisi, kami mengingatkan pemerintah untuk tidak melanggar UU. Sebaiknya pemerintah duduk bersama dengan DPR RI mengevaluasi semua permasalahan terkait Batam sehingga semua keputusan yang diambil tidak menabrak UU,” tandasnya. []

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here