Lathifa Anshori: Politik Itu Seni Membangun Bangsa

153

WARTABUANA – Lama menjadi wartawan di salah satu stasiun televisi nasional indonesia, akhirnya Calon Legislatif (Caleg) DKI II nomor urut 2 dari Partai Nasdem, Hj Lathifa Marina Al Anshori terjun ke dunia politik. Menurutnya politik itu baginya sebuah seni dalam membangun bangsa.

“Karena saya sarjana ilmu politik dari kairo di Mesir, Jadi saya melihat politik itu adalah sebuah seni didalam membangun negara dan bisa dilakukan dengan apa saja,”ujarnya kepada Wartabuana.

Perempuan muda kelahiran Samarinda, 20 Agustus 1991 ini mengatakan yang ada di persepsi orang-orang saat ini politik itu adalah lingkaran setan, lingkaran hitam dan tidak ada intinya, itu masyarakat yang melihatnya di Televisi. Tapi pada dasarnya itu sebuah seni untuk membangun negara.

Dia mengaku proses dari awal masuk ke partai pimpinan Surya Paloh tersebut pada saat meliput konflik Mesir di stasiun televisi nasional, lalu bertemu dengan perwakilan Partai Nasdem kemudian ditawarin untuk membuka perwakilan luar negeri partai Nasdem di Mesir.

“Perjalanan saya ditunjuk sebagai perwakilan luar negeri dari timur tengah untuk membesarkan nama Nasdem di timur tengah, alhamdulillah kita berjalan disana terus dan akhirnya menjadi caleg,”tuturnya.

Dia bercerita soal angka 2 dalam perjalannya menjadi caleg. pada kongres Nasdem lalu dalam DCS namanya dapat nomor urut 2 dan terus hingga tahap DCT.

“Yang lucunya DCT itu keluar tanggal 22 agustus, saya kan ulang tahun tanggal 20 agustus , jadi DCT pengumumannya tanggal 22 dan dapat urut 2 di Jakarta 2,” tuturnya.

Perempuan berparas manis ini merupakan Caleg termuda diantara caleg-caleg lainnya dengan usia masih 22 tahun .

“Di dapil, saya caleg paling muda yang meliput, jakarta selatan, Jakarta Pusat dan luar negeri,” akuinya.

Untuk perolehan suara, ia membidik WNI diluar negeri. Namun dia mengaku kalau untuk di Jakarta dia harus memulai dari nol karena lama tinggal di Mesir.

“Saya punya teman banyak diluar makanya saya mewakili dapil ini. Jadi tidak meninggalkan suara kawan-kawan saya diluar, lalu di Jakarta ini saya memulai darinol , benar-benar darinol saya masuk dari bulan Juli, karena saya 8 tahun di mesir dapat beasiswa dari kemenag,”ungkap Lathifa.

Ingin Perhatikan Suara WNI Diluar Negeri

Sadar dirinya punya banyak teman dan kerabat diluar negeri dan pernah merasakan menjadi ekspatriat selama delapan tahun lebih, membuat Lathifa sadar bahwa WNI kurang diperhatikan terutama dalam hal birokrasi.

“Saya, tidak ingin meninggalkan siapapun dan tidak ingin melupakan sesuaatupun , karena satu suarapun sangat berharga. Ini dari suara yang di WNI, karena terkadang WNI luar negeri di cuekin juga oleh pemerintah, jadi saya tau satu suara sangat berarti,” ungkapnya.

Lathifa mengakui, modalnya menjadi caleg juga dibantu oleh partainya dalam bentuk atribut seperti sepanduk, bendera dan lain-lain.

“Sisanya dari saya sendiri,”pungkasnya.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here