Mori Vurqaniati, Blusukan dan Pendekatan Psikologis Jadi Modalnya Nyaleg

222

WARTABUANA – Jadi Calon Legislatif (Caleg) kini tak melulu harus orang yang mendalami ilmu kenegaraan atau politik. Orang dari berbagai disiplin ilmu dan profesi pun kini berpeluang menjadi legislator DPR. Tak terkecuali bagi Mori Vurqaniati, S.Psi Caleg DPR-RI dari Partai Hanura nomor urut 3 Dapil NTB, ilmu psikologi yang ia miliki bisa jadi modalnya melenggang ke Senayan.

Dunia politik bagi Mori bukanlah hal yang baru, Ia mengaku suka mengikuti perkembangan politik tanah air, dari keluarga besarnya yang berlatar belakang politik.

“Kebetulan kakek saya (alm)  Lalu Abdullah mantan anggota konstituante sampai dekrit presiden tahun 1959 dan anggota DPR tingkat 1 NTB sampai dengan tahun 1977, kemudian, Bapak saya almarhum juga salah satu aktivis di partai politik pada jamannya, saya juga menyukai dan mengikuiti perkembangan dunia politik. Karena ketika kita berbicara politik, maka kita bicara tentang mengatur kebijakan yang nantinya akan bermanfaat untuk publik secara luas atau untuk orang banyak,” terangnya saat ditemui wartabuana di Jakarta.

Awalnya terjun ke Partai politik, ia menjelaskan dirinya mendaftar atas dorongan dari Sang Kakak yang juga aktif di Partai Hanura dan serta atas dasar keinginannya yang kuat untuk nantinya dapat bermanfaat untuk keadaan yang lebih baik terutama di daerah konsituennya yang merupakan tanah kelahirannya Nusa Tenggara Barat..

“Ketika saya punya kekuatan serta kemampuan  untuk membuat suatu kebijakan untuk orang banyak, maka saya akan menggunakan kemampuan  tersebut. Hal-hal yang menjadi pemikiran saya adalah mengenai masalah pendidikan serta kesehatan saya percaya ketika kita memiliki pendidikan yang baik maka otomatis kita memiliki cara berfikir yang lebih baik tentunya nantinya dengan demikian kita mampu menyelesaikan masalah dengan baik untuk itu pendidikan memang sangat penting  mengembangkan kehidupan yang lebih layak juga masalah kesehatan dengan sehat kita mampu beraktifitas dalam hal ini sehat selain secara fisik juga psikis seperti motivaasi yang kuat. Itulah alasan saya mau jadi Caleg,” katanya.

Sebagai mahasiswa yang sedang mengambil gelar Magister Profesi Psikologi klinis ini, ilmu psikologi sangat berkaitan dengan politik. Menurutnya psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia, sedangkan politik juga menggambarkan perilaku orang-orang di dalamnya.

“Artinya Ketika saya terjun dan bergabung ke partai politik maka saya tergabung dalam salah satu organisasi dan suatu organisasi digerakkan oleh suatu sistem dimana sistem tersebut mampu berjalan dengan baik kembali pada perilaku manusia atau orang-orang di dalamnya nah menurut saya disanalah ilmu psikologi sangat dibutuhkan” ujarnya.

Dalam strateginya guna melenggang ke Senayan, Mori mengaku `blusukan` untuk menemui calon pemilihnya terutama yang berada di pedalaman desa-desa di NTB. Disana ia menggunakan pendekatan interpersonal yang lebih mengedepankan pendekatan secara emosional yaitu dari bertemu, menyapa dan berkenalan serta sharing masalah-masalah yang selama ini dihadapi oleh konsituen.

“Saat `blusukan` ke desa-desa di NTB, saya melakukan pendekatan dalam ilmu psikologi itu namanya pendekatan interpersonal. Dari sana saya bisa merasakan perasaan dan apa yang mereka inginkan kepada wakilnya,” ujar wanita 26 tahun ini.

Selain itu modal lainnya adalah keluarganya yang masih merupakan salah satu tokoh agama islam di Lombok, NTB yakin Tuan Guru Haji Ali Batu yang mengembangkan tarekat Naqsabandiyah yang makamnya terletak di Sakre Batu Bangka Lotim dan Mori Vurqaniati sendiri merupakan keturunan ke-enam.

“Sebagian besar warga mungkin mengetahui hal tersebut tapi buat saya selain itu yang terpenting adalah bagaimana dari diri saya mampu menampilkan perilaku yang apa adanya dan berniat tulus untuk konsituen dapil saya, tiap kali sosialisasi saya selalu mengatakan bahwa  kita bersama-sama sebagai orang asli NTB pasti bisa membangun daerah kita” jelasnya lagi.

Untuk urusan dana, perempuan yang memahami ilmu grafologi ini tak mengeluarkan modal yang besar, selain modal atribut dari partainya. Ia hanya mengandalkan ilmu psikologi yang dikuasainya untuk mempersuasi konstituennya yaitu acap kali bertemu dirinya kerap mengedukasi tentang ilmu-ilmu psikologi yang ternyata juga cukup di apresiasi dalam beberapa kali dirinya menemui konsituennya.

“Dana jujur saja saya tak mengeluarkan banyak ya, paling cuma untuk ongkos transportasi Jakarta-Lombok,. Saya lebih suka ngobrol langsung, nanya apa yang mereka butuhkan, gimana keadaan hidupnya, saya lebih mengandalkan itu karena yang terpenting adalah bagi saya saya menemui konsituen saya karena dengan menemui konsituen saya akan mengetahui masalah mereka sebenarnya dengan demikian ketika nanti Allah swt ijinkan saya terpilih maka saya tau apa yang menjadi pekerjaan saya,” tambahnya.

Ia tak banyak menjanjikan apapun buat pemilihnya. Ia hanya menemui, saling mengenal dan kemudian mencatat apa keluhan, masalah dan apa yang diperlukan oleh warga NTB.

“Saya selama menemui warga-warga desa yang pernah saya datangi saya  punya catatan tentang apa yang mereka utarakan, apa yang mereka keluhkan, apa yang mereka mau. Catatan ini akan saya bawa terus sampai bila dipercaya ke DPR,” pungkasnya.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here