Taufik Basari, Aktivis HAM Yang `Nyemplung` ke Parpol

244

WARTABUANA –  Berawal aktif di organisasi HAM dan antikorupsi, Calon Legislatif (Caleg) Dapil DKI Jakarta 1 no urut 1 dari Partai Nasdem, Taufik Basari akhirnya terjun ke dunia politik untuk menyalurkan aspirasi suara rakyat.

Taufik mengatakan Politik itu bagaikan `Pisau`. Yaitu sarana untuk mendapatkan suatu kekuasaan, jadi politik merupakan alat dimana dan tergantung siapa yang menggunakannya. Menurut dia, Pisau kalau di pergunakan di

dapur akan sangat berguna, tetapi kalau pisau di buat kejahatan dan melukai orang lain hasilnya adalah negatif.

“Jadi politik akan menjadi positif atau negatif bergantung dengan siapa yang menggunakan politik itu,” ujarnya kepada Wartabuana di Jakarta.

Oleh karena itu, dia berharap orang-orang yang berkecimpung di dunia politik adalah orang-orang baik, sehingga hasil dari proses politik itu merupakan hasil yang baik.

Ia mengaku merupakan orang baru di Partai Politik (Parpol), namun selama ini dia aktif di luar parpol bersama pergerakan masyarakat sipil untuk isu-isu anti korupsi dan hak azasi manusia. Lalu selama selama keaktifannya

diluar Parpol akhirnya dia diminta untuk bergabung oleh partai Nasdem diawal tahun 2013.

“Setelah saya berdiskusi oleh beberapa orang atau tokoh, yang kata mereka menggambarkan para tokoh, yang menggambarkan peran partai politik, bagaimana menggambarkan kita sebagai orang tua, orang muda, orang

idealis dan sebagainya, maka akhirnya saya menerima tawaran tersebut,”ungkapnya.

Kemudian ia ditunjuk sebagai ketua DPP Nasdem dan memilih Jakarta Timur sebagai daerah pemilihannya (dapil), karena dia mengatakan memang sejak kecil tinggal di daerah tersebut.

“Kebetulan saya sekolah di sana jadi saya orang yang cukup berkeliling di daerah sana, sehingga biografinya dan karakteristiknya saya sangat paham,”akuinya.

Selain itu juga dia merasa Dapil yang cocok baginya adalah Dapil Jakarta Timur meski banyak orang yang mengatakan bahwa Dapil wilayah itu dapil `neraka`,

“Justru itu menjadi tantangannya buat saya,”tegas Taufik.

Kontrak Politik Untuk Konstituen

Taufik mengakui alasannya akhirnya `nyemplung` ke parpol karena merasa gemas dengan kondisi saat ini, dimana kondisi yang sekarang orang-orang Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI banyak punya pikiran pendek,

kemudian banyak yang terlibat kasus-kasus korupsi dan banyak yang tidak menjalankan amanat rakyat. Oleh karena itu dia ingin mengubah itu semua dengan visi dan misi yang dia punya.

“Sebenarnya visi saya ini bukannya janji-janji karena saya hanya melanjutkan visi misi saya di luar untuk dilanjutkan didalam sistem, jadi visi mengenai penegakan HAM, penegakan hukum, anti diskriminasi, anti korupsi

itulah yg saya bawa ketika nanti saya menjadi anggota DPR kelak,”kata lulusan Master Hukum HAM Internasional di Norwest University, Chicago.

Soal modal nyaleg, ia mengaku merogoh dari koceknya sendiri, sementara itu parpol hanya menyediakan atribut-atribut yang diperlukan oleh para Caleg.

“Saya menggunakan dana pencalegan biaya sendiri, partai sejauh ini membantu atribut-atribut yang dibutuhkan oleh para Caleg-caleg,”ujar mantan Direktur Bntuan Hukum di LBH ini.

Jika dia terpilih menjadi anggota DPR RI, untuk yang pertama dirinya akan membuat program-program kerja, dan kemudian akan menjadi kontrak politik bagi para konstituennya.

“Paling tidak untuk masyarakat yang ada di Dapil saya, bahwa program inilah yang akan saya gunakan untuk lima tahun ke depan,”katanya.

Pria yang lahir di Jakarta 17 November tahun 1976 ini juga meminta kepada masyarakat untuk diawasi.

“Tolong juga saya di kawal agar semua perjalanan saya ini tidak keluar dari koridor yang sudah diamanatkan oleh rakyat,” pintanya.

Yang kedua, lanjut Taufik, dia akan mengevaluasi ketentuan perundang-undangan yang selama ini, sedang atau sudah masuk dalam agenda legislasinya.

“Yang ke tiga tentu saya akan mengajak aktivis-aktivis diluar untuk bersama kita merumuskan program kedepan,”terangnya.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here