Ini Wasiat Presiden Soeharto Tentang Pengelolaan Yayasan

34

WARTABUANA – Banyak pihak menuding keluarga besar Presiden kedua RI HM. Soeharto menikmati uang dari beberapa yayasan yang dikelola. Faktanya, Soeharto sudah memberi wasiat melarang semua keluarganya menikmati dana yayasan.

Empati menjadi kunci kedalaman hubungan dengan orang lain. Inilah antara lain sikap dan keteladanan yang dicontohkan almarhumah Raden Ayu Siti Hartinah, alias ibu Tien Soeharto.

“Ikut merasakan kesusahan atau penderitaan yang dialami orang lain. Bersimpati dan kemudian tergerak ikut membantu menyelesaikan masalah,” ujar Siti Hardiyati Rukmana, putru sulung Presiden Soeharto disela-sela tasyakuran ’51 Tahun Yayasan Harapan Kita’ (YHK) dan ‘Milad 33 Tahun Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan’ (YDGRK), yang digelar di Gedung Granadi, Kuningan, Jakarta Selatan, Jum’at (23/08/2019).

Terkait ibu kandungnya, perempuan yang akrab disapaMmbak Tutut ini, mengatakan,beliau  tak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. “Ketika melihat penderitaan orang lain ibu langsung bertindak. Dalam keterbatasannya sebagai ibu rumah tangga beliau maju berkiprah, turun tangan sendiri membantu orang,” kenang Tutut.

Siti Hadijanti Rukmana /ist

Semangat inilah, kata putri sulung Presiden RI Kedua, H.M. Soeharto ini, yang kemudian menjadi tonggak berdirinya ‘Yayasan Harapan Kita’ (YHK) dan ‘Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan’ (YDGRK), dalam rangka memenuhi panggilan kemanusiaan. Dua yayasan sosial ini menjadi penanda dan jejak pengabdian almarhumah ibu Tien Soeharto.

“Ibu sedikit lain dari sekedar ibu rumah tangga. Setiap kali ada masyarakat yang perlu ditolong, atau ada bencana ibu langsung berinisiatif membantu. Terdepan berada di lapangan memegang langsung komandonya,” ujar Tutut.

Tutut juga menjelaskan, bahwa seluruh yayasan yang didirikan orangtuanya sepenuhnya diperuntukkan demi kemaslahatan masyarakat. Orangtuanya mengamanatkan agar putra putri Soeharto tidak boleh sedikitpun menikmati dana yayasan.

“Bapak melarang anak-anaknya menggunakan dana yayasan untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Jadi terpisah. Yayasan ada yang mengurusnya,” terang Tutut.

Saat ditanya tentang pengelolaan Rumah Sakit Harapan Kita, Tutut menjelaskan, bahwa rumah sakit tersebut didirikan Yayasan Harapan Kita. Namun sejak tahun 1998 pengelolaan rumah sakit secara resmi diserahkan ke Pemerintah (Departemen Kesehatan RI). “Itu juga sesuai keinginan para dokter pada waktu itu,” terangnya.

Mengenai status kepemilikan dan pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), juga sempat kembali dipertanyakan wartawan. Tetapi sama halnya dengan status kepemilikan Rumah Sakit Harapan Kita, situs budaya tersebut juga telah diserahkan ke Negara. “Masyarakat yang mengelolanya, dan hasilnya sepenuhnya dikembalikan untuk kepentingan masyarakat,” ujar Tutut.

Tutut menyampaikan, yayasan yang didirikan orangtuanya tidak hanya berhasil membangun berbagai sarana secara fisik. Antara lain, rumah sakit anak dan bersalin, rumah sakit jantung, sarana pendidikan dan kebudayaan, seperti Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Termasuk Perpustakaan Nasional, hingga Taman Anggrek Indonesia Permai.

”Namun kita dapat menjadi saksi bagaimana Yayasan Harapan Kita (YHK) berhasil mengurangi ketergantungan warga Indonesia berobat ke luar negeri. Yayasan Harapan Kita bertekad kuat sebagaimana  keinginan ibu Tien sebagai pendirinya membela kesehatan rakyatnya,” ujarnya.

Sementara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK), dalam rentang waktu 33 tahun telah menunjukkan berbagai pengabdian bagi korban bencana. “Kami selalu hadir di mana rakyat menderita karena bencana. Tak hanya sekali. Pada bencana tsunami di pesisir Banten dan Lampung, akhir tahun 2018 hingga awal 2019 lalu, saya sendiri terlibat. Sedikitnya dalam dua kali kedatangan,” kata Tutut.

Selama 33 tahun berkiprah, Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK) telah menyalurkan bantuan sekitar Rp. 64 miliar. Semua untuk korban bencana, meliputi korban bencana banjir, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus dan bencana sejenisnya.

“Yayasan telah menyalurkan bantuan di 1.099 lokasi bencana, 899 kejadian bencana di 34 Provinsi di Indonesia. Dilakukan melalui kerjasama luar biasa dengan semua pihak. Kami percaya kehidupan lebih baik, dan sejahtera, bisa diraih bersama melalui tolong-menolong di antara kita,” ujar Tutut.

Atas dukungan semua pihak, Tutut berharap, sumbangsih kedua yayasan ini dapat lebih optimal memberi kontribusi bagi kemajuan bangsa dan Negara.[]a

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here