" /> Gifson Ubah Kaleng Minuman Bekas Jadi Duit   "/>


enterpreneur

Gifson Ubah Kaleng Minuman Bekas Jadi Duit

M. Jasri | Sabtu, 22 Novermber 2014 14:08 WIB | PRINT BERITA

Gifson Harianja dan karyanya / Jasri

JAKARTA, WB - Sempat patah arang disaat usahanya sebagai agen koran gulung tikar, tidak membuat Gifson Harianja hilang semangat. Dengan kaleng bekas,  Gifson mampu menyulap bahan sampah menjadi produk bernilai jual tinggi.

 

Seiring majunya tehnologi informasi yang bernama internet, peralihan masyarakat terhadap kebutuhan akan informasi pun ikut berubah. Sajian informasi  berpindah haluan dari media cetak ke online yang serba praktis dan ekonomis. Perubahan itupun secara tidak langsung berimbas pada usahannya.

 

Informasi internet yang diakses melalui smartphone, diakuinya membuat minat beli masyarakat terhadap media cetak, turun drastis. Alhasil, target penjualan tidak tercapai, disisi lain setoran tagihan dari penerbit pun kian melonjak. Merasa selalu merugi, Gifson pun terpaksa menutup kios loper korannya itu.

 

"Tahun 2009, saya bisa dibilang habislah. Mobil sampai kejual, bener-bener habis," ujar Gifson mengawali pembicaraan saat dijumpai wartabuana, di gerai miliknya "Rey Art" dibilangan Kalimalang, Jakarta Timur, Jumat (21/11/2014).

 

 

Gifson memang terpukul, namun hal itu tidak dibiarkannya larut. Dia sadar, saat itu ada istri dan anak yang harus dinafkahi. Kata dia waktu terus  berjalan.

 

Ditengah situasi himpitan ekonomi itupun, Gifson mulai mencari-cari peluang usaha. Tanpa disadari, dia melihat banyak kaleng bekas minuman berserakan di warung tempat biasa dia nongkrong. Dari situlah kreatifitasnya mulai muncul.

 

"Waktu itu saya berfikir kaleng itu kan limbah yang susah diurai sama tanah. Mangkanya saya iseng ambil terus saya coba-coba mau saya bikin mainan," kata Gifson mengenang.

 

Berbagai kaleng yang berserakan itupun ia bawa pulang. Gifson mencoba merangkai kaleng-kaleng berbahan seng ringan tersebut sesuai keinginannya. Bermodal gunting, tang dan lem khusus, Gifson mencoba merangkai dan menyulap kaleng-kaleng bekas menjadi berbagai miniatur unik nan lucu. Dan salahsatu hasil karyanya yang pertama saat itu adalah miniatur patung pemulung.

 

"Pertama kali iseng nyoba, emang enggak sama persis, tapi hampir mirip lah. Dan pelan-pelan akhirnya bisa juga," ujar Gifson, sesekali diselingi hisapan rokoknya.

 

Berhasil membuat miniatur pemulung, Gifson pun  memperluas daya imajinasinya. Kali ini, kendaraan roda dua yang menjadi targetnya. Tidak butuh waktu lama baginya, untuk membentuk dan mendisign kaleng bekas itu, menjadi miniatur motor, Gifson cuma sepekan mempelajarinya.

 

Tidak Dijual

Perlahan dan pasti, hasil rakitan miniaturnya kian banyak dihasilkan. Karena menumpuk dirumah, Gifson pun membawa hasil rakitan miniaturnya ke kiosnya dibilangan Kalimalang. Di kios kopi miliknya itu kebetulan berada dipinggir jalan, Gifson memajang berbagai miniaturnya, tak disangka, tiba-tiba ada seorang yang lewat, tertarik dan menawar hasil karyanya itu dengan harga Rp 25 ribu.

 

"Awalnya enggak mau dijual, iseng saya pajang. Eeh ternyata ada yang suka, dia tawar ya udah saya jual," katanya.

 

Ternyata peminat miniaturnya tidak sedikit, semakin banyak miniatur yang dipasang, ternyata menarik minat pengendara yang lewat. Alhasil Gifson pun berkonsentrasi pada pembuatan miniatur dari kaleng bekas itu.

 

"Sekarang kalau dilihat hasil, ya bisa lebih dari gaji UMR lah. Meski enggak tentu sehari bisa laku tiga miniatur," tuturnya.

 

Meski enggak tentu didalam meraup hasil, namun Gifson mengaku kalau sebulan setidaknya cukup untuk dia makan bersama keluarganya, bahkan tak jarang dia bisa meraup hasil lima juta sampai tujuh juta sebulan.

 

Untuk satu jenis miniatur waktu pembuatannya berbeda-beda. Misalnya untuk membuat motor Vespa, Gifson mengaku sehari mampu membuat tiga miniatur Vespa. Untuk pembuatan miniatur itu, kata Gifson membutuhkan 15 kaleng bekas minuman.

 

"Yang lama itu bikin Harley, soalnya rumit. Dan untuk pengerjaanya bisa sampai tiga hari," ujarnya.

 

Untuk bahan bakunya, Gifson mengaku mendapatkannya dari

teman yang membuka usaha kafe, suplai kaleng bekas pun diperolehnya dari teman-temannya itu. Selain itu ia juga mengandalkan para pengasong. Kaleng bekas dia bayar dari pemulung 12 ribu rupiah per kilonya. Dengan harga tersebut, setidaknya Gifson tidak perlu membandrol mahal produknya, terkecuali jika memang pembuatannya cukup rumit.

 

"Kalau harga bervariasi dari Rp. 50 ribu sampai Rp.400 ribu, tergantung orang yang mesan juga," ujar Gifson kembali.

 

Untuk produknya itu, ia memilih untuk tidak memberi warna sebagian hasil karyanya, menurutnya, proses pewarnaan justru akan menghilangkan kesan dari daur ulang produknya.

 

 

Dana Koperasi

Karna hasil karyanya yang cukup unik itu, Gifson pun kerap diundang untuk menjadi pembicara dibeberapa sekolah dan juga kampus. Namun hal itu diakuinya jika memang ada kesempatan dan waktunya memungkinkan, pasalnya untuk urusan ini, Gifson masih bekerja sendiri alias belum punya tenaga pembantu.

 

Diprofesi barunya ini, Gifson mengaku senang karena dapat berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan. Kata dia, tidak semua pabrik dapat mengolah kembali kaleng-kaleng bekas, maka disinilah perajin berperan memanfaatkan kaleng bekas.

 

Dengan usaha yang dilakoninya itu, Gifson pun optimistis akan masa depan usahanya. Pasalnya, meski di Indonesia banyak yang menjual miniatur, namun sedikit yang menggunakan kaleng bekas sebagai bahan baku.

 

Namun sayangnya usahanya itu masih sulit diwujudkan oleh Gifson. Pasalnya dia saat ini terkendala dengan modal. Barang poduknya hingga kini hanya dia seorang yang membuat. Gifson tidak berani mengambil pegawai lantaran tidak cukup dana untuk membayarnya.

 

Sebetulnya dia sendiri berharap kepada pemerintah khususnya pemprov Bekasi untuk dapat memberikan bantuan dana usaha koperasi. Namun kata dia, untuk mendapatkan dana bantuan ternyata sulit dan berbelit-belit. Bahkan dia pernah diminta untuk menaruh agunan (jaminan) surat rumah dan lainnya untuk mendapatkan dana dari koperasi.

 

"Saya udah ajukan ke UKM koperasi di Bekasi, dikasih pinjaman tapi kita harus beri agunan. Ya saya tolak. Kalau gak ada agunan tidak bisa," kecewa Gifson. []

 

 

EDITOR : Ade Donovan
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber