teropong

Membaca Ramadhan Bombing ISIS Dari Sudut Pandang Intelijen

0 | Kamis, 07 Juli 2016 10:09 WIB | PRINT BERITA

ist

 

TEROPONG - Teroris ISIS yang kini mengganti nama menjadi IS (Islamic State) atau Negara Islam berani mengangkat dada, merasa sukses melakukan tujuh serangan mematikan di luar basis utamanya di Suriah. Masyarakat internasional menjadi resah dan merasa tidak aman, khawatir bisa menjadi korban bom.

 

Secara umum kondisi psikologis itu yang coba dilemparkan oleh para perencana dari teroris Islamic State. Pesan yang terbaca dari aksi teror mereka adalah "Kita bisa memukul Anda di mana saja."

 

 Nah, penulis mencoba mengulas beberapa serangan bom bunuh diri yang khususnya terjadi pada bulan Ramadhan di beberapa negara dari sudut pandang intelijen. Mengapa mereka menyerang pada bulan suci bagi umat Islam ini.

 

Ini pertanyaan menggelitik, karena selain IS melakukan strategi teror, ada counter terrorism dari badan intelijen internasional yang terus beroperasi. Serangan pada bulan Ramadhan telah terjadi pada tujuh lokasi/negara dimana serangan telah membuktikan bahwa dalam dua tahun sejak dinyatakan keberadaan khalifah Negara Islam, telah berhasil mengembangkan kapasitas untuk melakukan serangan di lokasi yang beragam di seluruh dunia.

 

Pada tanggal 29 Juni 2014, Abu Bakr al-Baghdadi mendeklarasikan Khilafah Islamiyah dengan nama “Ad Daulah Al Islamiyyah” dengan pengakuan wilayah kekuasaan dari Provinsi Aleppo Suriah hingga Provinsi Diyala Irak.

 

Rencana lima tahun perluasan wilayah ISIS di Eropa Timur yaitu Rumania, Bulgaria dan Yunani, kemudian mereka akan menaklukan Austria, Timur Tengah, Afrika Utara, Asia Tengah, Pakistan, Afghanistan, Turki dan Iran. Itulah rencana strategis (Renstra lima tahunan) yang dicanangkan.

 

Oleh karena itu, beberapa serangan pada bulan Ramadhan dapat dikatakan peringatan dua tahun berdirinya Islamic State, dan intinya expose eksistensi negara Islam yang memiliki kemampuan serangan tingkat global.

 

 

Serangan Teror Menonjol Dari Islamic State

1. Serangan bom di Bandara Attaturk, Istanbul

Serangan teror terjadi Selasa malam, 28 Juni 2016, di Bandara Attaturk, Istanbul, Turki. Tercatat 41 orang tewas dan 239 orang terluka. Gubernur Istanbul Vasib Sahin menyebutkan ledakan ini diduga dilakukan tiga pelaku bom bunuh diri yang bersenjata.

 

Beberapa saksi mata mengatakan, melihat dua pria yang turun dari mobil taksi di terminal kedatangan internasional yang kemudian melepaskan tembakan membabi buta dengan senapan serbu AK (Kalashnikof).

 

Menurut saksi seorang wisatawan asal Afrika Selatan Paul Roos, dia melihat seorang pria bersenjata menembaki orang-orang tanpa pandang bulu secara acak. Pelaku berpakaian hitam tanpa topeng dan menembaki siapa pun yang terlihat atau melitas di depannya.

 

Para penyerang itu tidak dapat melewati pintu pemeriksaan keamanan bandara, (X--ray) dan mereka kemudian terlibat dalam baku tembak dengan petugas keamanan dan polisi. Para pelaku kemudian meledakkan diri dengan bom rompi. Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan hasil temuan mengenai pelaku ledakan bom bunuh diri di bandara internasional Ataturk, Istanbul, tadi malam, 28 Juni 2016, mengarah ke ISIS.

 

2. Bom di Punchong, Malaysia

Pada tanggal 28 Juni 2016, sekitar pukul 2.30/LT. Sebuah bom meledak di sebuah klub malam di Kota Punchong, Malaysia. Sebanyak 15 orang ditangkap dan dua di antaranya adalah anggota kepolisian. Ledakan terjadi di sebuah klub malam Movida, Puchong di Malaysia yang mencederai delapan orang.

 

Saat itu kegiatan nonton bareng (nobar) Euro 2016, pertandingan antara Spanyol dan Italia, tengah digelar. Ledakan dipicu oleh sebuah granat tangan, demikian disampaikan oleh Deputi Komisaris Kepolisian Selangor Abdul Rahim Jaafar. Dari 20 orang yang berada dalam klub malam itu, sebanyak delapan orang cedera, yang di antaranya adalah empat laki-laki dan empat perempuan.

 

3. Serangan bom di restoran, Dhaka, Bangladesh

Pada hari Jumat malam,(1/7/2016), sebuah ledakan terjadi di sebuah restoran Spanyol yang cukup terkenal di Dhaka. Sebanyak 20 orang tewas dalam tragedi ini. Pemerintah Bangladesh mengungkapkan bahwa para penyerang di Kafe Holey Artisan Bakery, Gulshan, menewaskan 28 orang, 20 di antaranya para sandera, enam militan dan dua polisi selama 11 jam pengepungan. Sebanyak 13 sandera, termasuk seorang warga negara Jepang dan dua Sri Lanka, berhasil diselamatkan.

 

Teroris adalah anggota Jumatul Mujahedeen Bangladesh (JMB). Polisi telah mengungkap identitas tiga dari keenam pelaku serangan yaitu Mir Samih Mubashir, Rohan Imtiaz, dan Nibras Islam.

 

Laporan polisi menyebutkan bahwa Nibras pernah terdaftar di sebuah universitas di Malaysia. Dia disebut-sebut belajar di kampus Malaysia yang bekerja sama dengan Monash University Australia, sebelum akhirnya kembali ke Dhaka dan melanjutkan pendidikan tinggi di sebuah lembaga swasta.

 

Sedangkan, dua pelaku lainnya, yakni Samih dan Rohan, kini tengah menyelesaikan studinya dan masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Dhaka. Kelompok Jumatul didirikan pada 1998 oleh Shaikh Abdur Rahman, seorang guru agama lulusan Arab Saudi.

 

Kelompok ini mulai menjadi perhatian pada 2001 saat terlibat konflik dengan ekstremis komunis di Dinajpur, Bangladesh utara. Kelompok itu membentuk jaringan dengan sedikitnya 10 ribu anggota. Meski terlarang, kelompok itu tetap aktif. Dabiq, majalah ISIS mengklaim Rahman sebagai pendiri dari gerakan jihad di Bangladesh.

 

Seorang pejabat Hubungan Masyarakat Antar-Lembaga Angkatan Darat Bangladesh (ISPR) mengkonfirmasi kewarganegaraan korban kepada Xinhua pada Sabtu larut malam, 2 Juli 2016. Ia mengatakan sembilan orang Italia, tujuh warga negara Jepang, dua Bangladesh, satu orang India, dan seorang warga Amerika kelahiran Bangladesh termasuk di antara 20 orang yang tewas oleh penyerang yang menyerbu restoran itu pada Jumat malam, 1 Juli 2016.

 

Sekitar lima jam setelah serangan dimulai, menurut portal pemantau ancaman mujahidin, SITE Intelligence Group, IS mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap restoran papan atas tersebut.