potret

Kopi Warung Tinggi Coffee, Referensi Istana Negara

0 | Minggu, 29 Januari 2017 18:26 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB -  Bicara Ngopi, bicara soal selera. Cuma di Warung Tinggi Coffee memiliki kualitas kopi pilihan. Lantaran kualitaslah kopinya sudah dikenal di mancanegara. Maka tak heran kopi dari tempat ini pun menjadi referensi utama Istana Negara.

 

Kopi Warung Tinggi yang sudah memasuki generasi kelima, merupakan kedai kopi tertua di Indonesia. Bisnis ini telah ada sejak 1878, mulai dari Tek Soen Ho, Liauw Tek Soen,  Liauw Thian Djie, Liauw Hiong Yan alias Rudy Widjaja dan kini oleh Angelica Widjaya, puterinya.

 

Sampai sekarang, lokasi Warung Tinggi Coffee masih dipertahankan (Jalan Tangki Sekolah No 26, kawasan Mangga Besar, Jakarta Barat). Hanya saja, cuman untuk tempat nge-blend kopi yang kemudian dijual sesuai kebutuhan pembeli, baik dalam bentuk biji mau pun bubuk. Namun, jika ingin menikmati langsung juga bisa.

 

Di Warung Tinggi Coffee tidak cuma disuguhkan soal ragam kopi berkualitasnya saja,  tapi kita juga musti paham ragam kopi nusantara. Bayangkan saja, meski tempatnya kecil, Rudy Widjaya telah mengkoleksi hampir 200 jenis kopi terbaik di Indonesia. Bahkan Rudy pun tengah menuntaskan racikan andalanya untuk Kopi Jahe dan Kopi Wijen.

 

 Rudy Widjaya

Setelah lama hanya menjual satu jenis kopi, Warung Tinggi Coffee mulai berkembang dan di tahun 1938 mulai menambah jenis kopi lainnya yang diracik sendiri oleh Liauw Thian Djie, generasi ketiga pemiliki warung ini.

 

Kopi pertama yang diracik adalah Kopi Luwak (Asli dan bukan ternakan, red). Kemudian bertambah jenis racikan kopi, Rajabika, Arabica Spesial, Arabica Super dan Robusta.

 

Dan di tahun 1978, Liauw Hiong Yan atau Rudy Widjaja, menambah beberapa jenis racikan kopi Warung Tinggi Coffee, yakni Kopi Jantan, Kopi Betina dan Kopi Excellent, termasuk yang segera akan diproduksi Kopi Jahe dan Kopi Wijen.

 

Sejak 1998 hingga saat ini, Warung Tinggi dikelola oleh generasi kelima, yaitu Angelica Widjaja. Dari tangan dinginnya, Warung Tinggi Coffee kian dikenal, dan mampu menembus pasar seperti supermarket, hotel dan perkantoran. Selain di ekspor ke Jepang dan Amerika Serikat, bahkan hingga menembus Istana Negara.

 

Bagi pecinta kopi, tempat ini menjual kopi berkualitas baik (kacang dan bubuk) bahkan Kopi Luwak. Kopi murni 100% dengan resep lebih 100 tahun.

 

Warung Kopi Tertua

Liauw Tek Soen. Ia pendiri Warung Tinggi Coffee pada tahun 1878. Warung kopi tertua di Indonesia. 138 tahun yang lalu merupakan warung nasi di Jalan Hayam Wuruk (Molenvliet Oost) Jakarta, dan ramai dikunjungi para pengayuh becak. Tahun 1927, didirikan pabrik kopi pertama di Weltervreden dan dinamakan Tek Soen Hoo (Tek Sun Ho) Eerstee Weltreverdenschee Koffiebranderij.

 

Pada tahun 1987, Warung Tinggi Coffee beralih dari warung nasi menjadi warung kopi karena pengunjung lebih menyukai kopi mereka daripada masakan mereka. Tahun 1930, mereka mulai mengekspor bubuk kopi ke Belanda.

 

Tahun 1938, pada perayaan ulang tahun toko yang ke-60, ada pesta besar di mana pengunjung boleh minum kopi sebanyak yang mereka inginkan. Tahun 1969, hanya 4 orang dari 11 bersaudara yang meneruskan usaha: 1 orang yang mengurus bagian produksi dan penjualan, 1 orang di bagian pembelian bahan mentah, 1 orang bagian akuntansi, dan 1 orang yang berfokus di pemasaran. Mereka meluaskan ekspor ke Jepang dan Timur Tengah.

 

Generasi ke-4 ini memutuskan untuk berbagi warisan pada tahun 1990-an. Satu orang mendapatkan gedung awal di Jl. Hayam Wuruk dan satu orang mendapat hak atas nama dagang Warung Tinggi. Saudara-saudara yang lain mendapatkan warisan uang.

 

Pewaris nama dagang lalu membuka gerai Warung Tinggi Coffee, sedangkan pewaris gedung awal lalu membuka gerai-gerai kopi modern dengan nama lain: Bakoel Koffie. Merk itu dipilih berdasarkan sejarah penting: selama puluhan tahun Liauw Tek Soen membeli biji kopi dari wanita yang membawanya dengan bakul.

 

Namanya PT Warung Tinggi Coffee. Usianya sudah lebih dari seabad, tepatnya 135 tahun. Pabrik penggorengan dan penggilingan kopi ini merupakan divisi consumer goods Grup Pintu Air Mas (PAM) sejak 2001, atau 123 tahun setelah Warung Tinggi Coffee berdiri di tangan generasi pertama. Tahun 1998, di tangan generasi keempat, yakni Rudy Widjaja, usaha sempat jatuh ke titik nadir akibat tragedi krisis ekonomi 1998.

 

Rudy juga mulai berekspansi dengan mengekspor kopi ke Jepang, Belanda dan Timur Tengah. Pasar lokal pun diperbesar, dengan masuk ke supermarket. Pada 2001, Rudy ingin memacu pertumbuhan Warung Tinggi Coffee supaya lebih besar lagi, lalu melakukan penggabungan usaha dengan Grup PAM, maka Warung Tinggi Coffee menjadi divisiconsumer goods PAM.

 

 Angelica Widjaja

Namun pada 2013, Warung Tinggi Coffee sudah kembali ke kancah industri beverage di bawah pengelolaan generasi kelima, Angelica Widjaja. Angelica memegang kendali Warung Tinggi Coffee pada 2004. Lulusan Jurusan Public Relation Universitas Pelita Harapan ini sebenarnya ingin berkarier di bidang PR atau media. Begitu lulus, Angelica bekerja di sebuah resto Jepang, Enoki, sebagai staf PR. Setelah setahun, Angelica pergi ke Taiwan untuk memperdalam bahasa Mandarin.

 

Angelica meresapi betul wejangan dari ayahnya untuk bertindak jujur dalam berbinis. “Jangan bilang kopi bagus, tapi di belakang yang kamu kasih kopi jelek,” tutur Angelica menirukan ucapan ayahnya.

 

Selain kejujuran, dia juga mengajarkan, setiap kali membeli bahan baku, harus dites dulu. Tanpa perkecualian. Tidak boleh sampai tidak. Itu paling penting. Dan, proses tes kopi tidak pendek. “Padahal dalam sebulan, kami bisa memesan bahan baku beberapa kali,” kata Angelica.

 

Kini Warung Tinggi Coffee memproduksi 25-30 ton kopi per bulan. Hasil produksinya sebagian besar dilempar ke industri kopi (dengan model maklun), dan disalurkan ke hotel restoran kafe (horeka). Setidaknya ada 10 hotel di Jakarta yang mendapat pasokan kopi dari Warung Tinggi Coffee. Adapun penjualan ritelnya hanya dilakukan di Warung Tinggi Coffee.

 

Selain pasar domestik, kopi Warung Tinggi juga sudah dilempar ke Jepang dan Amerika Serikat. Sekarang sedang bersiap-siap untuk mengekspor ke Korea Selatan. Angelica bertekad menggenjot kapasitas produksinya hingga mencapai 100 ton per bulan. “Masih jauh,” ujarnya.

 

Angelica yakin, bisnisnya bisa bertahan dan terus berkembang dengan mengandalkan kualitas kopi dan metode penggorengannya. Kiatnya untuk tetap bertahan hanya satu: menjaga kualitas. “Kami memilih biji kopi terbaik sesuai dengan kriteria Warung Tinggi Coffee. Kalau bukan kualitas yang dijaga, apa lagi?” katanya.

 

Ia mengaku sudah mengajarkan semuanya tentang kopi kepada Angelica, mulai dari biji mentah, mutu kopi, cara roasting dan blending-nya, sampai kemudian menyeduhnya.“Itu sudah ada pada Angel. Mungkin masih butuh beberapa proses. Tapi, itu akan didapat dari pengalaman.

 

Pada akhirnya, “Saya mau Warung Tinggi Coffee bertahan sampai seterusnya, generasi ke-6, ke-7, ke-8. Karena kata orang China, kalau bisa mempertahankan usaha sampai keturunan ke-7, pengusaha itu sukses sekali,” ungkap Rudy. []

 

EDITOR : Ade Donovan
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber