politik

Jika PKI Nongol, Jokowi Perintahkan...Gebuk Saja!

Anggi SS | Jumat, 19 Mei 2017 06:50 WIB | PRINT BERITA

ist


JAKARTA, WB  – Presiden Joko Widodo akan menggunakan kewenangannya secara konstitusi untuk melenyapkan organisasi yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Konstitusi memang menjamin hak berserikat dan berkumpul, tapi jika ada yang mencoba melawan konstitusi akan "digebuk".

 

Hal itu disampaikan Presiden Jokowi saat bersilaturahmi dengan sejumlah pemimpin redaksi media massa di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/5/2017). Jokowi menyebut, langkah menggebuk mereka yang melawan konstitusi merupakan bagian dari penegakan hukum.

 

"Saya dilantik jadi Presiden yang saya pegang konstitusi, kehendak rakyat. Bukan yang lain-lain. Misalnya PKI nongol, gebuk saja. TAP MPR jelas soal larangan itu. Indonesia adalah negara demokrasi sekaligus negara hukum. Kalau ada keluar dari koridor itu, yang pas istilahnya ya digebuk," ujar Jokowi.

 

Di hadapan para pemimpin redaksi media mainstream, Jokowi membuka pembicaraannya terkait kondisi ekonomi Indonesia. Dia menyebut angka pertumbuhan ekonomi sudah baik. Lalu, dia juga sempat menyampaikan soal kondisi jalur TransPapua.

 

Saat bicara soal penegakan hukum, Jokowi mengaku sudah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk melakukan langkah hukum kepada siapa saja yang berusaha memecah belah bangsa. Selama ada fakta dan bukti yang kuat.

 

Nada bicara Presiden Jokowi mulai berubah saat bicara isu kemunculan PKI. Presiden kesal karena isu tersebut sempat dikaitkan dengannya, bahkan sampai keluarganya. Ini sudah terjadi sejak masa kampanye Pilpres 2014.

 

"Saya dilantik jadi Presiden yang saya pegang konstitusi, kehendak rakyat. Bukan yang lain-lain. Misalnya PKI nongol, gebuk saja. TAP MPR jelas soal larangan itu," tegasnya.

 

Penggunaan kata “gebuk” yang digunakan rezim orde baru untuk menindak tegas pengacau keamanan sempat ditanyakan mediasaat sesi tanya jawab. Jokowi menjawab, kata “gebuk” sengaja dipakai karena dirinya sudah sangat jengkel dengan perdebatan yang terjadi saat ini. Sebagai negara demokrasi dan negara hukum, sebaiknya para pendemo tetap berada di koridor itu.

 

“Kalau ada yang keluar dari koridor itu istilah yang tepat adalah gebuk, kalau pakai istilah jewer nanti dibilang Presiden nggak tegas," ujarnya.

 

Meskipun demikian, ketegasan itu diletakkan dalam nilai moral, etika dan keadaban bangsa Indonesia. Di lapangan, Presiden minta Kepala Polri untuk tegas bertindak.

 

"Jika ada bukti dan fakta, lakukan penegakan hukum. Jangan pakai hitung-hitungan lain selain penegakan hukum," ujar Jokowi.

 

Jokowi juga sempat menyinggung Elon Musk dan Jack Ma, dua tokoh entrepreneur dunia yang sibuk dengan hal-hal inovatif. Dia menyayangkan masyarakat yang masih sibuk dengan urusan sepele, sementara orang lain sudah sibuk memikirkan kehidupan luar angkasa. “Orang lain sudah bahas mengenai urusan luar angkasa, kita masih debat urusan cantrang,” kata Jokowi .

 

Di akhir sambutan sebelum makan siang, Presiden meminta agar media ikut berperan untuk tidak menyebarkan kebencian dan perpecahan. Alangkah lebih baiknya bila media memberitakan semangat rakyat di berbagai daerah.

 

Jokowi mencontohkan ada petani di sebuah desa yang belajar dari YouTube. Hal-hal semacam itu, menurut Jokowi, bila diberitakan akan menumbuhkan semangat kebangsaan. []

 

EDITOR : Ade Donovan
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Inilah Sikap Ustadz Bachtiar Nasir Terkait Bom Kampung Melayu

25 Mei 2017 | 21:30 WIB

Aksi teror bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur mengundang keprihatinan berbagai pihak, termasuk  Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI Ustadz Bachtiar Nasir yang menyatakan aksi teror di luar konsensus ulama dan ummat Islam Indonesia.

Ulama Sudah Mengajak Jokowi Untuk Berdialog

25 Mei 2017 | 19:18 WIB

Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI KH Zaitun Rasmin mengungkapkan bahwa pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan diadakannya dialog kepada Presiden RI Joko Widodo.

Isu Bentrok Cuma Hoax, Pontianak Aman dan Kondusif

22 Mei 2017 | 11:17 WIB

Video bentrok antara massa FPI dan Suku Dayak di Pontianak, Kalimantan Barat sempat menjadi viral di mediam sosial. Ternyata video itu terjadi setahun lalu dan tidak ada hubungannya dengan kegiatan Festival Gawai Dayak dan Aksi Bela Islam yang berlangsung bersamaan di Pontianak pada Sabtu (20/5/2017).

Klaim ISIS, Rontokkan Opini Sesat Tentang Bom Kampung Melayu

27 Mei 2017 | 11:15 WIB

Klaim ISIS atas aksi bom bunuh diri di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur otomatis menggugurkan opini sesat yang dikembangkan kelompok tidak bertanggung jawab di media sosial yang menyebut petaka itu adalah upaya pengalihan isu.

Hadapi Ancaman Pembubaran, HTI Siapkan 1.000 Pengacara

24 Mei 2017 | 10:23 WIB

Keputusan pemerintah sudah bulat untuk membubarkan organisasi masyarakat (ormas)  yang berpotensi mengganggu eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber