Musik

Sebelum Manggung di JoBB, Idang Rasjidi Gelar Jazz Clinic

Anggi SS | Sabtu, 30 Desember 2017 09:25 WIB | PRINT BERITA

Mus Mudjiono, Idang Rasjidi dan Fariz RM /yo


PANGKAL PINANG, WB – Pagelaran musik Jazz on the Bridge (JoBB) di Pantai Koala, Jembatan Emas, Pangkal Pinang dimulai dengan kegiatan `jazz clinic` bagi para pemusik lokal. Acara yang digelar jelang pentas hari pertama itu menjadi angin segar bagi musisi muda Bangka Belitung.

 

Pagelaran JoBB di ujung tahun ini merupakan gagasan dari Gubernur Bangka Belitung DR. Erzaldi Rosman Djohan, S.E., M.M untuk memajukan sektor parisiwata. Gayung bersambut, ide ini ditangkap Idang Rasjidi, maestro jazz tanah air yang kebetulan kelahiran Pangkal Pinang.

 

JoBB yang digelar dua hari itu (29-30 Desember 2017) menampilkan belasan grup band lokal yang manggung di hari pertama, di hari kedua sang maestro dengan gerbong Idang Rasjidi Syndicates akan  ngejam bersama Fariz RM, Mus Mudjiono dan Tompi.

 

Jumat (29/12/2017) sore, para musisi senior itu menggelar jazz clinic di Teras Nusantara, Citraland Botanical City, Pangkal Pinang. Puluhan musisi muda lokal tampak antusias menyimak pemaparan materi bermusik jazz dari para  maestro.

 

Menurut Idang Rasjidi, sebagai pemusik dirinya merasa berkewajiban dan memiliki tanggung jawab moralnya untuk membagikan ilmu bermusik kepada anak-anak muda di tiap lokasi konsernya.

 

"Saya sering sedih. Di banyak konser band-band hebat, tapi anak-anak muda kita cuma menonton. Karena itu, di saat saya konser sebisanya saya akan meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi anak-anak muda musikus setempat. Melalui jazz clinic seperti ini," kata Idang Rasjidi.

 

Bagi Idang Rasjidi, event JoBB ini merupakan tahap akhir dari sebuah awal yang sedang dimulai. Dari sebuah event dengan satu panggung, dapat menjadi sebuah festival musik dengan banyak panggung, banyak musisi di masa yang akan datang.

 

“Panggung jazz on the Bridge adalah point of no return. Ini harus bergerak semakin baik dan sempurna. Masalahnya, tinggal mau atau tidak. Dan, saat ini anak-anak muda Bangka harus bisa katakan: `Kite Pacak`," tegasnya.

 

Sementara itu, menurut Nico Alpiandy selaku ketua Panitia Jazz on the Bridge 2017, event ini memang diproyeksikan untuk menjadi panggung jazz dunia di masa-masa mendatang. "Gabungan antara pantai da jembatan menjadi keunikan dari Jazz on the Bridge," katanya.

 

Pagelaran jazz ini menjadi terasa  mewah dan spektakuler lantaran Jembatan Emas yang menjadi latar belakang panggung dihiasi dengan tata cahaya dengan teknolobi lighting luar biasa ini. Event besar ini merupakan hasil kerjasama tim kerja gubernur dan advisernya yang solid.

 

Duet  Yopi Wijaya (Kadis PU Provinsi) dan Muhammad Arie Aripin (Private Advicer) ini bisa menerjemahkan  keinginan gubernur lewat visual di atas Jembatan Emas. Jembatan Emas hampir sama megahnya  dengan Jembatan Golden Gate di California, USA .

 

Penonton yang datang bersama keluarga dan membawa anak bisa menikmati musik jazz dengan nyaman, sementara anak-anak bermain playground bertaraf internasional persembahan PT. Prolansekap Indonesia.

 

Taman bermain yang kelak lebih besar dari Taman Kalijodo di Jakarta ini merupakan cikal bakal  ruang terbuka tempat  pendidikan karakter mental anak yang langsung dibina oleh istri gubernur Hj. Melati Erzaldi S.,H selaku ibunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).[]

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber