potret

Trisara Tinayuh `Memotret` Suasana Sosial Politik Terkini

Purnama | Senin, 05 Maret 2018 10:26 WIB | PRINT BERITA

ist

 

WARTABUANA -  Cerita Trisara Tinayuh yang pagelarkan Wayang Orang Sriwedari  di Teater Kautaman, Museum Pewayangan, TMII, Minggu, (4/3/2018) mencoba mengingatkan para pengelola negara agara tidak melupakan tugasnya sebagai pemimpin yang harus mengayomi seluruh masyarakatnya.

 

“Trisara Tinayuh” menceritakan sosok Arjuna Ksatria, lelananging jagad yang menyandang tiga pusaka utama; Pasopati, Pulanggeni, dan Sarotama. Ketiga pusaka inilah yang menjadi kekuatan `Jatidiri`, `Kebijaksanaan,` dan `Keteguhan` bagi dirinya dalam mengemban amanah `Memayu Hayuning Bawana` (nilai luhur kehidupan).

 

 

Namun saat Arjuna mencapai titik kemuliaannya ia lupa diri. Hal ini yang membuat Prabu Kondho Buwono dendam kesumat. Kemudian ia berupaya menghancurkan Kesatria Madukara. Puncaknya, suatu hari ke tiga pusaka raib, Arjuna justru menimpakan masalah ini kepada orang-orang di sekelilingnya.

 

“Trisara Tinayuh” seakan hendak memotret kondisi sosial politik bangsa yang kurang stabil akibat krisis multidimensi. Terjadi degradasi kepercayaan; pemimpin yang kehilangan wibawa, degradasi moral; koruptif, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, serta berbagai kondisi lain yang dihadapi masyarakat saat ini.

 

Menurut Agus Prasetyo S.Sn selaku sutradara pementasan, cerita Trisara Tinayuh merupakan Carangan (pengembangan) dari berbagai cerita pakem pewayangan yang sudah dikenal selama ini. “Ini memang carangan, tetapi kita pentaskan karena konstekstual dengan keadaan saat ini dimana banyak pemimpin yang lupa diri ketika sudah menjabat,” kata Agus yang dalam pentas berperan sebagai Prabu Kresna.

 

Aduk Emosi Penonton “Trisara Tinayuh” menjadi seni pertunjukan yang menawarkan pengalaman lengkap bagi penikmatnya. Seni kolektif; dari mulai keindahan bermusik, bertutur, bercerita, berperan, gerak dan tari, hingga seni visual; seni rupa, yang melengkapi citra estetis pertunjukan.

 

“Trisara Tinayuh” mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Tidak hanya terhenti pada cerita dan karakter, melainkan unsur entertain yang membuat pergelaran ini menjadi hidup. Misalnya penampilan para Punawakan; Diwasa (Semar), Aby Baskoro (Gareng), Prihat Natalis Nugraha (Petruk), dan Kirno (Bagong), mampu menyegarkan suasana ketika penonton sedang larut dalam cerita yang serius.

 

 

Penonton juga dimanjakan dengan deretan penari yang terampil, energik, dan memesona. Terutama ketika adegan perang yang menampilkan sosok Yaksa Cakil (diperankan Sanggita Setiaji Widyadarma, dan Nur Diatmoko), juga kerap mendapatkan applause penonton.

 

Pergelaran “Trisara Tinayuh” diproduksi oleh Dinas Kebudayaan Surakarta Jawa Tengah. Pementasan wayang orang ini merupakan program reguler yang digelar Teater Wayang Indonesia (TWI).

 

Didukung sejumlah elemen organisasi pewayangan, antara lain SENA WANGI (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia), PEWANGI (Persatuan Wayang Orang Indonesia),  Tri Ardhika Production, dan Yayasan Kertagama.

 

Kepala Bidang Humas SENA WANGI, Eny Sulistyowati S.Pd , MM, mengatakan bahwa, pertunjukan ini adalah bagian dari usaha, menjaga karya seni warisan masa lampau agar tetap hidup, berkembang, dan dipelihara sebagai bagian dari sosio-budaya masyarakat Indonesia.

 

“Upaya pelestarian ini kita harapkan dapat menjadi kekuatan sebagai modal untuk menghadapi penetrasi budaya global. Tapi kita tetap terbuka terhadap budaya bangsa lain, tentu yang sejalan dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia,” ujar Eny, yang mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan `Festival Wayang Internasional` yang akan digelar di Jakarta.

 

 

“Trisara Tinayuh” menampilkan para aktor dan aktris Wayang Orang. Billy Aldy Kusuma, S. Sn (Prb. Kandha Buwana), Guntur Kusuma Widigdo, S. Sn (Prb. Anom Kandha Dewa), Mila Restu Wardati, S. Sn (Dewi Nawang Wulan), Rahma Putri Paramita, S. Sn (Dewi Nawang Siti), Mahesani Tunjung Seto, S. Sn (Pt. Kandha Maruta).

 

Sanggita Setiaji Widyadarma, S. Sn, dan Nur Diatmoko, S. Sn (Yaksa Cakil), Heru Purwanto, S. Sn (Bb. Gondhang Jagad), Dhestian Wahyu Setiaji, S. Sn (Bb. Gondahng Dewa), Diwasa, S. Sn (Semar), Aby Baskoro (Gareng), Prihat Natalis Nugraha (Petruk), dan Kirno (Bagong) Irizal Suryanto (Rd. Arjuna), Eny Sulistyowati. S.Pd, MM (Dewi Sembadra), Rukayah (Dewi Srikandi), Agus Prasetyo, S. Sn (Prabu Kresna), Sulistyanto, BA (Prabu Baladewa), Perdana Pandu Kumara, S. Sn (Prabu Puntadewa), Zamrud HJW (Raden Werkudara), dan Didik Wibowo, A. Md (Raden Gathutkaca).

 

 

“Trisara Tinayuh” disutradarai, Agus Prasetyo, S. Sn, dan Dalang, Heri Karyanto, S. Sn. Penulis Naskah : Billy Aldy Kusuma, S. Sn, Penata Tari, Mahesa Tunjung Seto, S. Sn, Sanggita Setiaji Widyadarma, S. Sn, Noviana Eka Pertiwi, S. Sn. Penata Karawitan, Pujiono, S. Sn, dan Nanang Dwi Purnama, S. Sn.

 

Penata Rias dan Busana, Sri Lestari Purnowirastri, S. Sn, dan Harsini Retno Setyowati, serta Penata Panggung/Artistik, Irwan Riyadi, S. Sn, dan Sutrisno, S. Sn. Swarawati/Sinden, Dwi Rahayu, Dini Sekarwati, Sri Sekar Rabulla, S. Sn, dan Rita Erma Wahyuningsih. []

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber