komunitas

Greget `Sayembara Ratu Nusa Tembini` Pukau Generasi Milenial

Anggi SS | Selasa, 27 Maret 2018 10:23 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB – Ada sesuatu yang beda di pertunjukkan drama tari bertajuk `Sayembara Ratu Nusa Tembini` dan Generasi Millenials di Anjungan Jawa Timur TMII, lebih dari separuh penontonnya adalah generasi milenial. Fakta ini sangat menggembirakan bagi pelestarian dan perkembangan budaya di tanah air.

 

Mestinya banyak orang sepakat jika anak muda merupakan entitas yang anomali, ambivalen dan ambigu. Menurut Dr. Robby Hidajat, M.Sn,  anak muda memiliki keunikan dan berbeda-beda di setiap zaman. Mereka mudah berubah. Tergantung pada dinamika ruang, waktu, dan situasi tertentu.

 

“Oleh karena itu kita yang seharusnya mengkontruksi mereka. Generasi masa depan itu ada di tangan orang yang sudah melakukan. Jika dilepas maka lepaslah,” ujarnya, usai menyaksikan pertunjukan drama tari “Sayembara Ratu Nusa Tembini,” dari Tim Kesenian Kota Malang, di Anjungan Jawa Timur TMII, Jakarta, Minggu (25/3/2018).

 

 

Robby merespon tentang kekhawatiran isu budaya (seni tradisi) yang dikhawatirkan meredup. Seni tradisi tidak lagi menjadi perbincangan menarik. Atau bahkan lepas dari perhatian wacana sosial. Khususnya persepsi generasi millenials, yang jaraknya relatif jauh dari era awal munculnya peradaban budaya Nusantara.

 

“Kesenian (tradisi) tidak akan ditinggalkan masyarakat. Ada ikatan nilai. Masyarakat mewarisi budaya itu sebagai alat komunikasi. Bahannya etnik itu. Sedikit banyak akan terus berkembang, berkesinambungan, dengan materi yang dapat berubah, namun nilainya (etika) tidak,” lanjut Robby optimis.

 

Penonton pergelaran Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, yang diselenggarakan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur ini, memang tampak berbeda dari biasanya. Dari sekitar seribu penonton, lebih dari separuhnya dipadati anak-anak muda, yang notabenenya pelajar, dan mahasiswan alias generasi milenial. Sebagian dari Universitas Muhammadiyah Tangerang, dan Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

 

“Tidak hanya penontonnya, tapi pelaku seninya anak muda. Ini upaya regenerasi yang melibatkan anak-anak muda, pelajar dan mahasiswa,” kata Robby, yang bertindak sebagai penulis cerita dalam pertunjukan ini.

 

 

Tim Kesenian Kota Malang menampilkan drama tari “Sayembara Ratu Nusa Tembini.” Membawa pesan moral penyatuan, melalui simbolisme sakralitas pernikahan. “Melalui pernikahan antar suku diharapkan akan terjadi silang budaya, yang menumbuhkan rasa saling pengertian, dan solidaritas sosial,” ujar Robby.

 

Pergeralan ini disutradarai Drs. Soeryo Wido Minarto, M.Pd. Didukung para aktor dan aktris panggung dari grup seni Putra Manggala, sebagian adalah mahasiswa dan dosen dari Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

 

Cerita digagas Dra. E. Wara SDP, M.Pd, dan skenario ditulis Dr. Robby Hidajat, M.Sn. Bertindak sebagai Penata Tari, Tri Wahyuningtyas, S.Pd, M.Si, Penata Musik, Sumantri, dan Pimpinan Produksi, Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Kota Malang, Achmad Supriadi, SE, MM.

 

Hadir dalam perhelatan budaya ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang,  Ida Ayu Made Wahyuni SH, M.Si, dan Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM.

 

Hadir juga Dewan Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Munarno, SE (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, di Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

 

 

Ida Ayu Made Wahyuni, dalam sambutannya menyampaikan, tiap tahun pihaknya  selalu mengisi annual event di Anjungan Jawa Timur. Upaya tersebut dimaksudkan untuk lebih memperkenalkan potensi seni budaya Kota Malang.

 

Selanjutnya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang ini, mengajak masyarakat untuk mengunjungi Kota Malang, pada event `Festival Panji Nusantara` yang akan digelar di kota Malang, 2-3 Juli 2018, mendatang.

 

“Isu-isu strategis tentang budaya cerita Panji semakin teraktualisasi dan ditampilkan di sejumlah acara di berbagai daerah. Bahkan sampai ke luar negeri; Malaysia, Thailand, Kamboja, Myanmar, dan Filipina,” ujar Ida Ayu.

 

Cerita Panji, menurut Ida Ayu, terinspirasi masa kejayaan Kerajaan Majapahit, di abad ke-13, ketika Prabu Hayam Wuruk berkuasa. “Narasi cerita Panji ini menarik. Pada umumnya mengangkat setting cerita kerajaan masa lalu. Menyoal tentang tata krama kehidupan dan sistem birokrasi yang amanah. Walau yang sering kita saksikan lebih kepada soal asmara sebagai bumbu cerita,” terangnya.

 

Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur kini memasuki bulan kedua penyelenggaraan. Untuk bulan April 2018, pihak penyelenggara telah menyiapkan Duta Seni Budaya, Kota Madiun (1 April 2018), Kota Mojokerto (8 April 2018), Kabupaten Pasuruan (15 April 2018), dan Kabupaten Bondowoso (22 April 2018).

 

Menyusul kemudian paket khusus Tari Jawa Timuran “Sang Guru” dalam rangka memperingati “Hari Tari Dunia “(28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Kabupaten Tuban (29 April 2018).[]

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

HUT ke-4 FORWAN, Bahagiakan 400 Anak Yatim

13 Juli 2018 | 10:53 WIB

Acara santunan kepada 400 anak yatim dan 4 janda  dalam rangka syukuran HUT ke-4 Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia di Lemmon Id Building, Pejaten, Jakarta Selatan, Kamis (12/7/2018) berlangsung meriah, penuh suka cita.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber