Ceremony

Tari Solah Mediunan Potret Warga Kota Madiun yang Dinamis

Anggi SS | Senin, 02 April 2018 15:37 WIB | PRINT BERITA

ist

 

WARTABUANA – Drama tari dengan cerita “Retno Dumilah Krida” menjadi acara puncak Pagelaran Tari Daerah dan Teater Tradisi Kota Madiun di Anjungan Jawa Timur Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu (1/4/2018). Ratusan pengunjung juga disuguhkan tarian Solah Mediunan dan Tari Janur Kuning.

 

Wali Kota Madiun , H. Sugeng Rismiyanto, SH. M.Hum yang hadir diantara pengunjung yang didominasi warga Paguyuban Madiun (Paguma) tampak puas dan bangga dengan sajian pertunjukkan budaya dari Madiun.

 

 

Selain Wali Kota Madiun, turut hadir di acara tersebut Ketua Paguyuban Madiun (Paguma) Djoko Pramono, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, Juri Pengamat, Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), dan Munarno, SE (Praktisi, Analis Kesenian dan Budaya Daerah Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur), di Jakarta.

 

Sugeng Rismiyanto menyatakan, perlu dukungan semua pihak untuk mengembangkan destinasi wisata di Kota Madiun. Salah satunya dengan menggali kearifan lokal dan memberdayakan semua potensi yang ada termasuk seni budaya berupa seni drama Retno Dumilah Krida.

 

 

“Memang menghasilkan produk wisata membutuhkan proses yang panjang. Juga diperlukan koordinasi kepada pihak-pihak yang ahli di bidangnya. Karena itu, diharapkan adanya masukan-masukan untuk meningkatkan potensi Madiun,” papar Sugeng Rismiyanto.

 

Sugeng Rismiyanto sangat mengapresiasi pertunjukan drama tari Retno Dumilah Krida, menurutnya, semangat juang Retno Dumilah yang gagah berani melawan perlakuan sewenang-wenang Kerajaan Mataram patut jadi panutan.

 

 

Sementara itu, Ketua Paguyuban Madiun (Paguma) Djoko Pramono menuturkan, saat ini hampir 3 ribu orang Madiun yang berdomisili di Jabodetabek. “Meski jauh, mereka tetap memantau perkembangan kampung halamannya. Dia berharap, pemerintahan ke depan semakin baik lagi,” harap Djoko Pramono.

 

Tari Solah Mediunan yang mulai diperkenalkan ke publik saat Pesta Rakyat Malam Tahun Baru 2018 lalu mengadopsi budaya khas kota pecel. Mulai karakter masyarakat hingga pencak silat. Tak heran, jika gerakan tari terlihat energik namun juga gemulai.

 

Tari Solah Mediunan mewakili orang Madiun yang dinamis. Lembut saat diawal. Namun, lincah dan energik kemudian. Gerakan sakral tersaji diawal. Pada gerakan pembukaan mengambil sikap jongkok dengan tangan menengadah memohon restu Tuhan. Gerakan ini, lanjutnya, mirip dengan pembukaan sambung dalam pencak silatyang sudah menjadi ciri Kota Madiun.

 

Walikota Madiun berharap apa yang ditampilkan para seniman muda asal Madiun pada pergelaran tari dan teater tradisi tersebut, dapat menjawab berbagai pertanyaan berbagai pihak.

 

“Tari `Solah Mediunan` karya yang dihasilkan lewat proses panjang, melalui konsultasi, dan supervisi. Ke depan diharapkan kita mampu menciptakan bentuk tari yang lebih spektakuler. Dan itu menunjukkan ciri khas kota Madiun,” ungkapnya.

 

Selain tari `Solah Mediunan,` paket kesenian daerah ini menampilkan, tari `Janur Kuning.` Menceritakan tentang perlawanan rakyat Madiun menghadapi penjajah dengan senjata janur kuning, yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual.

 

 

Puncaknya mereka menampilkan seni teater tradisi bertajuk `Retno Dumilah Krida.` Menceritakan tentang kepahlawan dan keberanian seorang perempuan bernama Retno Dumilah. Pejuang wanita ini menggantikan ayahnya, Adipati Madiun, Raden Rangga Jumena, untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.

 

“Retno Dumilah cerita yang harus dihayati, bahwa di kota Madiun ada seorang perempuan yang memiliki tekad kuat mempertahankan tanah kelahirannya atas ekspansi kekuasaan dari kerajaan lain,” papar Sugeng Rismiyanto.

 

Setelah pergelaran dari Kota Madiun, pihak penyelenggara telah menyiapkan Duta Seni Budaya, dari Kota Mojokerto (8 April 2018), Kabupaten Pasuruan (15 April 2018), dan Kabupaten Bondowoso (22 April 2018).

 

Menyusul kemudian paket khusus Tari Jawa Timuran “Sang Guru” dalam rangka memperingati “Hari Tari Dunia “(28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Kabupaten Tuban (29 April 2018) mendatang. []

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber