Ceremony

Keren, 'Kids Jaman Now' Main Ludruk

Nana Sumarna | Senin, 09 April 2018 10:41 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB - Panggung Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur tampak beda dari biasanya. Kali ini penonton terpukau dan terharu menyaksikan kreativitas `kids jaman now` melakoni peran dalam pentas Ludruk Anak, bertajuk “Legenda Watu Blorok.”

 

“Saya berharap kemampuan ini dapat menginspirasi anak-anak lain. Seni `Ludruk` lestari, bertahan, dan tetap ada. Tidak hanya dikenal dan berkembang di Mojokerto dan Jawa Timur. Tapi bisa mendunia seperti Kabuki, seni teater klasik Jepang,” ungkap inisiator pertunjukan ini, Kukun Triyoga, kepada Wartawan, di Anjungan Jawa Timur, TMII, Jakarta, Minggu (08/04/2018).

 

Di saat kesenian berpredikat warisan budaya bangsa ini dipandang miskin pewaris, justru sekelompok anak dari SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto, Jawa Timur, tampil luar biasa memukau memainkan lakon `Ludruk.` Tak satu pun pemain orang dewasa. Dari mulai pelakonnya; aktor, aktris, pengrawit (pemusik), sinden (penyanyi), hingga pembawa acaranya semuanya anak-anak.

 

 

Menurut Kukun, tak banyak kelompok teater anak yang menekuni seni `Ludruk.` Di Mojokerto, di Jawa Timur, atau di Indonesia, bahkan dunia,  mungkin cuma ada satu grup yang ada di Mojokerto ini. “Kami berharap Pemerintah konsisten mendukung, agar kesenian Ludruk tidak punah, seperti nasib kesenian Jawa Timur lainnya,” harap Kukun.

 

Sejarah menunjukkan, Ludruk menjadi alat perjuangan bangsa. Pada masanya Ludruk dijadikan sebagai alat perlawanan terhadap penjajah Belanda dan Jepang. Ludruk juga tak lepas dari perkembangan kondisi politik. Sarana menyampaikan kritik sosial.

 

Penampilan Ludruk Anak yang diusung Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto ini, sekaligus menjawab bahwa kesenian Ludruk tidak akan pernah mati. Walau panggung atraksi untuk mereka sulit dicari. Para seniman bahkan mengaku kerap `ngos-ngosan` mempertahankan warisan syarat nilai-nilai luhur ini.

 

 

“Alhamdulillah di Mojokerto masih ada Ludruk Arek (anak-anak). Kita memang tidak cukup mengatakan lestarikan-lestarikan, tapi harus berbuat. Kehadiran kami di Anjungan Jawa Timur TMII, sebagai bukti bahwa Pemerintah Daerah mendukung kesenian Ludruk,” ujar Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Mojokerto, Drs. Subambihanto, M.Si, yang ikut mendampingi delegasi kesenian daerah ini.

 

Ikut menyaksikan pertunjukan ini, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, serta Juri Pengamat, Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII), dan Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya).

 

 

Selanjutnya, Sub Bidang Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah Provinsi Jawa Timur, telah menyiapkan penampilan kesenian dari daerah lainnya. Akan tampil Duta Seni Budaya, dari Kabupaten Pasuruan (15 April 2018), dan Kabupaten Bondowoso (22 April 2018). Selain itu, ada pergelaran paket khusus Tari Jawa Timuran “Sang Guru” dalam rangka memperingati “Hari Tari Dunia “(28 April 2018), serta penampilan duta seni dari Kabupaten Tuban (29 April 2018) mendatang.

 

Pergelaran Ludruk Anak `Legenda Watu Blorok` melibatkan lebih dari 50 anak-anak sekolah dasar. Ide cerita dan skenario, ditulis Agus dan Tanti. Penata Musik, Adang, Penata Tari Ari, Setting Panggung dan Artistik, Sasmito, dan Darmaji. Sementara penyutradaraan dipercayakan kepada Kukun Triyoga.

 

`Legenda Watu Blorok` menceritakan istri Sinuwun Brawijaya dari Kraton Majapahit, yang sedang hamil dan `ngidam` hati Kijang Kencono. Raden Brawijaya selanjutnya mengutus Wiro Bastam untuk berburu mencari hati Kijang Kencono, dengan dibekali Pusaka Tombak Kiyai Gobang.

 

 

Malang bagi Wiro Bastam, tombak yang tertancap di tubuh Kijang justru terbawa lari karena hewan buruan tersebut tidak langsung mati. Akibatnya Wiro Bastam tidak berani kembali ke Kraton Majapahit.

 

Cerita ini sangat menarik ditampilkan dengan kemasan sendratari (seni drama, dan tari) dengan iringan musik dan lagu. Semua dilakukan oleh para pelajar kelas III hingga kelas VI SD Negeri Gedongan 2 Kota Mojokerto.

 

Penampilan mereka sekaligus membuktikan bahwa mereka bukanlah `kids zaman now` yang hanya hobi nyinyir, dan bersolek, atau sekedar `narsis` di media sosial. Mereka adalah generasi penyangga budaya, yang membuat kesenian Ludruk lebih fenomenal, sebagai kesenian Indonesia yang mendunia.[]

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Active Muslima Community Gelar Seminar di Mall

22 April 2018 | 15:15 WIB

Active Muslima Community (AMC) menggelar seminar edukasi bertema Active Muslima Way, Happy Family, Success Career di FX Sudirman, Jakarta, Kamis (19/4/2018). Seminar tersebut diikuti para para muslimah aktif.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber