politik

Jokowi VS Prabowo Seperti Film Usang

Arief Nugroho | Jumat, 13 April 2018 13:22 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB - Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menyebut elektabilitas Prabowo Subianto masih jalan ditempat. Sementara, pengamat poltik, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan duel Jokowi vs Prabowo seperti  film yang sudah usang.

 

“Pada elektabilitas Prabowo sendiri yang nampaknya belum jauh beranjak dari angka 25 persen. Padahal, setidaknya sudah ada tiga partai yang mendukungnya, dan ditambah dengan barisan umat Islam. Tapi, elektabilitas tak juga naik,” kata Ray, Kamis (13/4/2018).

 

Dia mengatakan, di saat yang bersamaan, makin marak dan tinggi intensitas serangan terhadap Jokowi, usungan partai pro pemerintah  dengan nuansa negatif.  “Suara Jokowi tidak turun, tapi merambat naik. Sementara Prabowo statis dan punya kecenderungan malah turun,” ungkapnya.

 

Sementara itu, ia juga melihat permasalahan lain pada kubu Partai Gerindra, yakni tak adanya calon wakil presiden yang menarik dan dapat mendulang suara bagi Prabowo.

 

“Saya melihat figur yang kemungkinan besar akan banyak membantu naiknya suara Prabowo ada pada AHY atau Muhaimin. Tapi masalah lainnya adalah, Muhaimin sudah menyatakan diri melamar menjadi cawapres Jokowi. Sementara AHY adalah figur militer, profesi yang sama dengan Prabowo,” kata dia.

 

Di tempat terpisah, pengamat poltik, Pangi Syarwi Chaniago mengatakan Jokowi dan Prabowo adalah tokoh usang. Jika hanya dua figur tersebut ungkapnya, masyarakat sudah menebak akhir ceritanya.

 

"Bicara Prabowo dan Jokowi adalah figur usang, ada yang kurang menarik lagi apabila kembali terulang head to head, karena kita tahu ujung ceritanya bagaimana," ujar Pangi, Jumat (15/4/2018).

 

Selain itu terang Pangi, justru membuat Indonesia terlihat miris karena tidak memiliki figur pemimpin yang lain. Padahal Indonesia masih tokoh-tokoh hebat yang masih bertebaran.

 

"Republik ini seperti kekurangan figur dan sosok pemimpin saja, Jokowi dan Prabowo (itu) film usang yang tak menarik (lagi) ditonton tanpa ada aktor baru," kata Pangi.

 

Menurutnya, semakin banyak calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) akan sangat baik bagi demokrasi Indonesia. Dengan begitu masyarakat akan dihadapkan dengan banyak alternatif atau lebih bervariatif.

 

"Padahal tokoh sekaliber pemimpin dunia bertebaran ada di Indonesia. Namun (yang terlihat seolah) sekarang hanya ada Prabowo dan Jokowi," ujar Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini.

 

Menurut Pangi parpol merupakan rahim untuk melahirkan sosok pemimpin yang hebat. Namun jika yang kemudian muncul ke pemukaan lagi-lagi hanya Jokowi-Prabowo justru membuat parpol terkesan gagal.

 

"Negeri ini seolah kekurangan figur dan parpol terkesan gagal memunculkan figur alternatif," kejarnya.

 

Oleh karena itu, dalam sudut pandang pangi dengan munculnya poros ketiga dalam Pilpres 2019 akan lebih baik. Sehingga persaingan untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia nanti semakin menarik. []

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Inilah Alasan Andi Undru Mario Jadi Wakil Rakyat

18 Juli 2018 | 12:28 WIB

Kapten TNI (Purn) Andi Undru Mario, SSos MSi., telah dinyatakan lolos menjadi calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Wajo lewat Partai Gerindra dengan nomor urut 4.

Soal Cawapres, PAN Mau ada Kekeluargaan

13 Juli 2018 | 10:54 WIB

Partai Amanat Nasional (PAN), masih meyakini jika pembahasan calon wakil presiden (cawapres) Prabowo akan dibicarakan secara kekeluargaan sesama koalisi. Hal ini terkait klaim Demokrat di mana Prabowo Subianto akan mengambil Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai cawapres.

Pengamat : Tudingan TGB Dukung Jokowi Terlalu Dini

12 Juli 2018 | 11:45 WIB

Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Tuang Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mendukung Joko Widodo (Jokowi) melanjutkan kepemimpinannya sebagai presiden. Menyikapi hal itu, analis politik dari lembaga survei Kedai Kopi, Hendri Satrio menilai terlalu dini jika hal tersebut dinilai sebagai keberpihakan.

SIGMA : Jokowi Istimewakan Cak Imin

16 Juli 2018 | 12:06 WIB

Pengamat politik dari Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi Indonesia (SIGMA), Said Salahudin menilai keistimewaan yang diberikan Joko Widodo (Jokowi) kepada Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar bisa memunculkan kecemburuan bagi parpol pendukung yang lain. Sebab dari lima nama bakal cawapres, Jokowi secara langsung menyebut salah satunya adalah Muhaimin Iskandar.

PDIP Klaim Cawapres Jokowi Tinggal Diumumkan

11 Juli 2018 | 15:07 WIB

Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengaku bahwa Calon Wakil Presiden (Cawapres), pendamping Jokowi untuk Pemilu Presiden 2019, sudah di tangan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Seokarnoputri. Kata Hasto, pengumuman cawapres ke publik tinggal menunggu waktu yang tepat.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber