dunia

Kepemimpinan Erdogan akan Lebih Kuat

Purnama | Rabu, 27 Juni 2018 10:24 WIB | PRINT BERITA

ist

ANKARA, WB - Recep Tayyip Erdoga terpilih kembali memimpin Turki dalam Pemilu Turki. Seperti dilansir Aljazirah, Selasa (26/6/2018), menurut hasil tidak resmi yang diumumkan oleh media pemerintah, Erdogan memenangkan 52,5 persen suara untuk menjadi presiden eksekutif pertama negara itu dengan kekuatan yang meningkat secara signifikan.


Paska pemilihan, Pemerintah Turki sekarang mulai menerapkan serangkaian amandemen konstitusi yang disetujui dalam referendum tahun lalu. Di bawah sistem baru, Erdogan dapat menunjuk wakil presiden, menteri, pejabat tingkat tinggi, dan hakim senior, serta membubarkan parlemen. Ia juga dapat mengeluarkan keputusan eksekutif dan memberlakukan keadaan darurat.


Erdogan, yang telah berkuasa selama lebih dari 15 tahun, telah berulang kali menekankan perlunya memiliki presiden eksekutif yang kuat untuk menciptakan negara yang memiliki kepercayaan diri dan stabil. Ini akan menentukan masa depan suatu negara dengan cara lebih kuat.


Oposisi, sekutu Barat Turki dan kritikus lainnya, bagaimanapun, mengatakan bahwa sistem ini memberikan kekuasaan baru kepada presiden. Namun, hal tersebut mengabaikan pemeriksaan dan keseimbangan yang diperlukan.


Analis dan kolumnis Avni Ozgurel mengatakan, sistem baru akan memungkinkan Turki untuk diatur dengan cara lebih efisien dan stabil dalam jangka panjang. Sistem ini akan mengalami masalah selama tahap awal pelaksanaan.


"Erdogan dan timnya akan mendapatkan pengalaman dan akan mencoba memperbaiki kekurangan sistem saat mengimplementasikannya," katanya.


Ia menambahkan, akan ada keputusan baru dan undang-undang untuk mencapai itu.Situasi ekonomi mendominasi diskusi menjelang pemilihan. Mata uang Turki, lira, turun 20 persen terhadap dolar AS. Mata uang yang terdepresiasi, bersama dengan meningkatnya inflasi dan defisit transaksi berjalan, akan tetap menjadi isu yang paling mendesak untuk pemerintahan baru Erdogan. Sementara itu, secara internasional, fokusnya adalah pada hubungan Ankara dengan Barat yang dipenuhi ketegangan.


Sekutu Barat Turki dan kelompok-kelompok hak asasi manusia telah berulang kali mengutuk penahanan dan pembersihan pemerintah di tengah keadaan darurat yang telah ada sejak kudeta pada 2016.


Ankara, bagaimanapun, mengatakan bahwa langkah-langkah tersebut sejalan dengan aturan hukum dan bertujuan untuk menghapus para pendukung Fethullah Gulen dari lembaga-lembaga negara dan bagian lain dari masyarakat. Gullen merupakan ulama Muslim yang dituduh melakukan kudeta. Ia menetap di AS.[]






EDITOR : M. Jasri
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Floyd Mayweather Gagal Tarung UFC

12 Juli 2018 | 12:35 WIB

Petinju Amerika Serikat (AS), Floyd Mayweather Jr sempat mengungkapkan keinginannya untuk mencicipi bertarung diarena gaya bebas Ultimate Fighting Championship (UFC) pada Januari 2018 lalu.

Obama Sindir Trump Soal Kebijakan Politik

18 Juli 2018 | 10:08 WIB

Pada peringatan 100 tahun hari lahir pemimpin anti-apartheid Nelson Mandela, mantan presiden AS Barack Obama seperti menyindir presiden Donald Trump.

Nerobos Pertandingan Final Piala Dunia, Band Pussy Riot Dihukum Penjara

18 Juli 2018 | 13:13 WIB

Anggota band Pussy Riot yang telah `membuat kejutan` karena menerobos masuk ke lapangan saat pertandingan final Piala Dunia antara Prancis vs Kroasia Ahad lalu. Mereka akhirnya dihukum penjara 15 hari oleh pengadilan Moskow.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber