ekonomi

Rizal Ramli : Utang Besar Untuk Siapa?

Anggi SS | Rabu, 04 Juli 2018 13:37 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB – Jelang pendaftaran calon presiden untuk Pilpres 2019 nanti, Aliansi Kebangsaan dan Universitas Indonesia menggelar Serial Diskusi Untuk Edukasi Pemilih. Diskusi perdana yang diselenggarakan di Jakarta Convention Center pada Selasa (3/7/2018) menghadirkan Rizal Ramli yang mengulik tuntas soal hutang negara berjudul "Debat-Tak Debat: Utang Besar Buat Siapa?

 

Serial diskusi yang merupakan tradisi akademik  yang pernah dilakukan oleh DGB UI tahun 2014 akan mengudang beberapa pembicara hingga  akhir Agustus 2018. Pembicara tidak dibatasi hanya para bakal maupun calon presiden saja, tetapi semua tokoh yang memiliki gagasan besar dalam membangun dan memajukan Indonesia ke depan bisa jadi narasumber.

 

Selain menghadirkan mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli, juga hadir sebagai panelis Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo, Ekonom Senior HS Dilon, Pakar Soft Skill Universitas Indonesia (UI) Taufik Bahaudin dan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia Bambang Wibawarta. Bertindak sebagai moderator adalah pakar komunikasi politik Effendi Gazali.

 

Sebagai tuan rumah dan penggagas acara, Pontjo Sutowo memiliki harapan besar agar diskusi tersebut dapat memberikan edukasi politik bagi masyarakat luas, khususnya dalam mempersiapkan diri menghadapi Pemilihan Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang.

 

 

“Pendidikan politik yang baik ini bukan saja perlu mencakup latar belakang sejarah lahirnya Negara, tapi juga dasar dan Ideologi Negara, serta struktur, kultur dan prosedur politiknya, baik secara formal, non-formal serta informal,” terang Pontjo di Jakarta, Selasa (3/7/2018).

 

Untuk agenda perdana sekaligus acara penandatangan piagam kerjasama antara lembaganya dengan UI tersebut, Pontjo merasa gembira bisa menghadirkan pakar ekonomi Rizal Ramli. “Kali ini kita mendapatkan kehormatan dengan hadirnya Dr Rizal Ramli yang bukan saja mempunyai pengalaman yang banyak dalam pemerintahan, tetapi juga masih sangat aktif dalam menanggapi berbagai masalah penting nasional,” tuturnya.

 

Menurut Pontjo, pendidikan politik tidaklah bersifat statis, tetapi  dinamis dan berkelanjutan yang harus dilakukan secara terus-menerus dari satu generasi kepada generasi berikutnya.Terputusnya pendidikan politik akan mempunyai pengaruh yang besar pada kualitas kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

 

“Saya percaya bahwa pendidikan politik tentang presiden dan lembaga kepresidenan perlu mendapat perhatian khusus karena presiden dan lembaga kepresidenan merupakan simbol dan personifikasi dari negara dan pemerintah,” papar Pontjo.

 

Kepribadian dan kebijakan seorang presiden menurut Pontjo bukan saja akan mempengaruhi kehidupan masyarakat bangsa dan negara pada suatu kurun waktu,  tetapi juga akan mempengaruhi dan akan diingat sepanjang sejarah.

 

Menurut Ketua Umum FKPPI ini, peran presiden serta koreksi peran presiden dalam sistem pemerintahan presidensial dalam suatu negara kesatuan seperti Indonesia jauh lebih penting dan lebih luas dari peran presiden dalam sistem pemerintahan presidensial dalam negara federal seperti Amerika Serikat

 

 

“Di Amerika Serikat peran presiden relatif terbatas. Selain secara konstitusional diimbangi oleh peran kongres dan Mahkamah Agung juga secara internal telah melembaga sejak tahun 1933 dalam sebuah struktur pendukung yang disebut executive office of the President.  Tatanan demikian belum ada di negara kita khususnya atau apalagi sejak diamandemennya undang-undang Dasar 1945 pada tahun 2002,” ungkap Pontjo.

 

Rizal Ramli sangat piawai mengupas tuntas soal perekonimian nasional, terutama soal hutang Indonesia yang dianggapnya sudah “setengah merah” itu. Sambil memaparkan pemikirannya, mantan Menko Ekuin di era Presiden Gus Dur ini memaparkan kisah suksesnya menyelamatkan perekonimian tanah air saat itu.

 

“Tahun lalu saya sudah bilang, hati-hati hutang kita sudah lampu kuning. Namun banyak yang tidak percaya dengan menyampaikan data-data yang ngawur. Misalnya membandingkan GDB Indonesia dengan Amerika. Amerika itu satu-satunya negara yang bisa cetak uang dolar dan dijual di luar negeri, karena super power militer, politik dan ekonomi,” katanya.

 

Lebih jauh Rizal Ramli menyayangkan jika masih ada pejabat yang menganggap remeh posisi hutang Indonesia. “Mereka bilang,  Indonesia hutang per GDB nya lebih rendah dari Jepang. Lihat lah statistik behind jepang. Sekitar 80 persen hutang Jepang itu sumbernya domestik, dari rakyat dan dari perusahaan dalam negeri. Sehingga jika terjadi gejolak internasional, ketahanan ekonomi Jepang tidak akan terpengaruh,” papar Rizal Ramli.

 

Indikator yang lazim dipakai di seluruh dunia menurut Rizal Ramli adalah debt service ratio, yaitu rasio cicilan hutang dibandingkan dengan ekspor.   “Yang normal itu 20 persen, lebih dari itu tidak prudent. Ini ada menteri keuangan yang selalu ngomong bolak-balik bilang, kami prudent,” tegasnya.

 

Rizal Ramli juga mengkhawatirkan kepemilikan mosal asing di dalam saham di dalam pasar obligasi lebih dari 50 persen. “Itu artinya sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi internasional,” tandasnya. []

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Musim Panas ini Buwas Jamin Stok Beras Aman

13 Juli 2018 | 09:47 WIB

Memasuki musim panas, Direktur Utama Bulog, Budi Waseso (Buwas) menjamin stok beras dimusim kemarau akan aman. Bahkan ia menjamin beras masih tersedia hingga akhir tahun.

Akhirnya Indonesia Akuisisi Saham Freeport

12 Juli 2018 | 18:31 WIB

Pemerintah Indonesia melalui holding BUMN pertambangan, PT Indonesia Asahan Alumunium (Inalum), resmi mengakuisisi 51 persen saham PT Freeport Indonesia (FI). Hal itu ditandai dengan ditandatanganinya Head of Agreement (HoA) antara PT Inalum (Persero) dengan Freeport McMoran selaku induk dari PTFI pada hari ini, Kamis (12/7/2018).

Rupiah Kembali Melempem

12 Juli 2018 | 11:29 WIB

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis pagi bergerak melemah 56 poin menjadi Rp 14.441 dibanding posisi sebelumnya Rp 14.385 per dolar AS.

Menteri Ini Bilang, Piala Dunia Picu Naiknya Harga Telur Ayam

17 Juli 2018 | 07:22 WIB

Selain soal pakan ternak yang naik gegara dolar melonjak menjadi pemicu tingginya harga telur ayam, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita punya asumsi lain. Menurutnya, perhelatan Piala Dunia 2018 ikut andil mendongkrak harga telur.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber