nasional

Narkoba Lebih Mengancam Dibanding Terorisme

Anggi SS | Senin, 09 Juli 2018 10:18 WIB | PRINT BERITA

ist

 

JAKARTA, WB – Banyak faktor yang bisa menjadi ancaman bagi ketahanan bangsa Indonesia, seperti konflik, terorisme dan narkoba. Peredaran dan penggunaan narkoba yang sudah menyusup hampir ke semua desa di tanah air menjadi ancaman serius ketimbang bahaya terorisme.

 

Hal itu terungkap dalam Diskusi Panel Serial (DPS) dengan tema ATHG Keamanan Dalam Negeri yang menghadirkan pembicara Prof. Dr. Ir. Bambang Wibawarta, Prof. Dr. Irfan Idris, MA, dan Brigjen Pol Drs Antoni Hutabarat di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

 

Hadir pula Ketua FKPPI sekaligus Ketua Aliansi Kebangsaan, dan Pembina YSNB Pontjo Sutowo, serta Ketua Panitia Bersama DPS Iman Sunario, dan Prof. Dr. La Ode Kamaludin yang bertindak sebagai moderator.

 

Pontjo Sutowo sebagai tuan rumah acara menyampaikan dalam sambutannya, proses pembentukan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak serta merta hadir, tetapi melalui tahapan dan proses. 

 

“Setelah Indonesia terbentuk, ternyata tidak serta merta kita dapat berdampingan tanpa konflik. Bahkan Timor-Timur pada tahun 1999 lepas dari Indonesia. Pemerdekaan diri Timor Timur itu merupakan puncak konflik yang ada,” ujar Ponto Sutowo.

 

Menurut Ketua FKPPI itu, konflik yang ada di Indonesia diantaranya berlatar belakang ideologi dan ketidakpuasan terhadap kebijakan pusat.  "Untuk mengatasi konflik yang ada, kita harus bijaksana, cerdas, dan waspada. Perlu dicari segera format pencegahan dan penangkalannya dengan melibatkan masyarakat luas,” kata Pontjo Sutowo.

 

 

Sementara itu menurut Bambang Wibawarta, secara umum konflik terjadi akibat situasi dimana keinginan atau kehendak yang berbeda atau berlawanan antara satu dengan yang lain, sehingga salah satu atau keduanya saling terganggu.

 

Dan akar konflik yang ada di Indonesia bahkan di dunia adalah modernitas atau individual, kemarahan, dan keserakahan manusia. Berdasarkan sumber konflik merujuk pada ketentuan dalam UU No. 7/2012 pada data tahun 2013-2015 dari 201 kasus konflik yang ada di Indonesia, terdapat 159 kasus konflik karena ideologi, politik, ekonomi dan sosial budaya, 9 kasus konflik karena SARA, dan 33 kasus konflik karena SDA atau lahan.

 

Konflik tersebut juga dapat terjadi karena faktor luar negeri. Konflik dari luar negeri terjadi dari imbas krisis energi, food, water, dan enviromental.

 

"Untuk mengatasi konflik yang ada harus dilakukan secara bersama, dan diperlukan langkah-langkah koordinatif dan kemitraan yang integratif, dengan suatu kerangka kebijakan strategis dalam pencegahan konflik/separatis dan harmonisasi masyarakat,” ungkapnya.

Bambang juga menegaskan agar radikalisme, dan terorisme sebagai penyebab utama konflik sebaiknya juga didefinisikan secara benar, agar tidak terjadi ketakutan anak bangsa dalam melakukan perubahan secara masif ke arah yang  baik.

 

Sebagai Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris menyatakan, jika terorisme yang berawal dari radikalisme menyebabkan dampak serius kepada ketahanan negara, karena ia dapat merusak sendi keamanan negara serta ekonomi nasional sebagai misalnya.

 

Menurutnya Irfan, pentahapan radikalisasi yang mampu melahirkan terorisme pada dasarnya diawali dari Pra Radikalisasi, Identifikasi Diri, Indoktrinasi, dan terakhir Jihadisasi. Dan untuk mengatasi terorisme, pemerintah telah melakukan pendekatan lunak dan pendekatan keras serta melakukan kerjasama internasional.

 

"Deradikalisasi khususnya dalam pendekatan lunak harus dilakukan secara bijaksana. Seperti misalnya deradikalisasi dalam rangka reintegrasi, " kata Irfan Idris.

 

Sebagai pembicara terakhir, Antonius Hutabarat memaparkan ancaman serius  narkoba sebagai faktor yang melemahkan ketahanan nasional selain korupsi dan terorisme. Dan masalah narkoba lebih serius dari korupsi dan terorisme.

 

“Narkoba merusak otak yang tidak memiliki jaminan sembuh. Setiap hari ada 30 orang meninggal karena narkoba. Fakta lain, peredaran narkoba sudah masuk ke semua desa di Indonesia. Jadi ancamannya lebih serius ketimbang terorisme,” jelasnya.

 

Menurut Antonius, pengedar narkobanya sangat  “kreatif” memproduski narkoba jenis baru. Jika di Amerika Serikat, India, dan Kolombia misalnya, jenis narkoba yang ada hanya sekitar 9 buah, namun di Indonesia terdapat 71 jenis narkoba baru.

 

“Narkoba ini memang dibuat untuk mengelabui hukum yang ada di Indonesia. Sebagai akibatnya terdapat 3,3 juta orang yang dicatat menyalahgunakan narkoba di Indonesia,” ujarnya.

 

Pemberantasan Narkoba menurut Antonius harus lebih terus didukung seluruh anak bangsa. Jika secara ekonomi, kerugian biaya ekonomi akibat narkoba diperkirakan sekitar Rp63,1 triliun di tahun 2014, berapa besar kerugian dari dampak sosial dan sosial dan sebagainya. Dikhawatirkan tanpa dukungan semua pihak, terjadi lost generation dan tidak tercapainya potensi demografi akibat narkoba.[]

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Mutasi TNI, Letjen Andika Perkasa Jabat Pangkostrad

14 Juli 2018 | 14:12 WIB

Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklatad), Letjen TNI Andika Perkasa dipromosikan menjabat sebagai Panglima Komando Strategis TNI Angkatan Darat (Pangkostrad), Letjen TNI Andika akan menggantikan Letjan Agus Kriswanto yang akan memasuki masa pensiun.

Empat Nama Mengerucut Dampingi Jokowi

10 Juli 2018 | 17:33 WIB

Maraknya bursa calon pendamping presiden petahana, Joko Widodo (Jokowi), Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby menjelaskan, setidaknya ada empat kategori asal nama calon wakil presiden untuk disandingkan dengan Jokowi.

Kemenpora Siapkan Bonus 250 Juta untuk Lalu Zohri

14 Juli 2018 | 13:12 WIB

Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, akan memberikan bonus untuk juara dunia lari 100 meter U-20, Lalu Muhammad Zohri. Kemenpora akan mengguyur bonus pemuda asal Pulau Lombok itu sebesar Rp250 juta

Kejar Paket C, Nilai Ujian Menteri Susi Tertinggi di Ciamis

14 Juli 2018 | 11:36 WIB

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti akhirnya resmi lulus ujian kesetaraan paket C jurusan IPS. Nilai Susi menjadi yang tertinggi dalam periode ujian paket C yang diikutinya pada Mei lalu.

Info Soal SKM Bikin Resah, Ini Penjelasan BPOM

11 Juli 2018 | 09:26 WIB

Surat Edaran yang dikeluarkan oleh BPOM bernomor HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada Produk Susu Kental dan Analognya telah membuat  masyarakat resah.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber