Film

Stadhuis Schandaal Mengungkap Romantisme Jaman Belanda

Anggi SS | Minggu, 15 Juli 2018 09:15 WIB | PRINT BERITA

ist

 

WARTABUANA – Sebelum tayang pada 26 Juli mendatang, film “Sara & Fei, Stadhuis Schandaal” garapan Sutradara Adisurya Abdi “dibedah” dalam takl show di Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (13/7/2018).

 

Acara yang dihelat rumah produksi Xela Picture itu dipandu Maman Suherman sebagai moderator dari narasumber budayawan kondang Remy Silado,  Adisurya Abdi, produser Omar Jusma, music director Areng Widodo dan tanggapan menarik dari seorang youtubers Indy.

 

Talk show yang diikuti awak media, cineas dan beberapa budayawan itu mengupas kisah skandal asmara di jaman Belanda yang tersaji dalam film ini. Beragam testimony menarik terungkap dari pemaparan para narasumber.

 

 

Stadhuis Schandaal merupakan karya terbaru Adisurya setelah 14 tahun tidak membuat film.”Saya pernah rasakan bagaimana bikin film di era seluloid dan sekarang ingin belajar lagi di era digital,” jelas Adisurya Abdy.

 

Sutradar kawakan itu menambahkan, sepertinya sudah tidak ada teman sineas seangkatan dirinya  yang hari ini masih membuat film. Karena dirinya kuat dipembuatan film drama, maka dia berkarya melalui film ini. “Saya belum berani membuat film di luar genre drama, komedi masih okelah,” katanya.

 

Cerita film Stadhuis Schandaal dilatarbelakangi kisah cinta jaman Belanda yang terbawa hingga hari ini. Untuk itu dihadirkan dua setting—masa lalu dan masa kini, di Stadhuis atau kini dikenal dengan Museum Fatahilah.

 

Adisrurya Abdi /DSP

Produser Xela Pictures, Omar Jusma mengatakan dengan digelarnya acara talk show sebelum tayang di bioskop agar masyarakat khususnya generasi milenial tahu tentang cerita film yang bersetting sejarah ini.

 

“Saya mengharapkan generasi sekarang tahu akan cerita film ini, tentang cinta dan sejarah. Intinya film ini adalah hiburan yang bersetting sejarah. Tetap menampilkan cerita cinta anak muda, dengan segala romantikanya. Sehingga perlu ditonton oleh generasi milenial,” ujar Omar.

 

Dalam acara talkshow itu turut hadir para aktor dan aktris Stadhuis Schandaal Tio Duarte, Amanda Rigby, Tara Adia, George Taka, Aty Cancer, Iwan Burnani, Septian Dwi Cahyo, Riki Cuaca dan lain lain.

 

Remy Silado /DSP

Areng Widodo sebagai peramu musik adegan masa lalu menyajikan kembali lagu ciptaannya berjudul “Syair Kehidupan” yang dipopulerkan oleh Achmad Albar yang diaransemen ulang dan dinyanyikan oleh Hilda Ridwan Mas.

 

“Esensinya saya buat musik adegan masa lalu dan kini, yang berbeda warna. Saya termasuk musisi yang menolak warna music konvensional. Misalnya musik klasik, saya bikin logikanya di masa itu yang sulit didengarkan,”kata Areng.

 

Musisi peraih Piala Citra itu mengaku senang bekerjama denga Xela Pictures karena merasa tidak didikte sehingga saya menghasilkan karya yang maksimal.

 

Film Stadhuis Schandaal ini ingin menyingkap tabir gelap skandal asmara di lingkungan gedung yang kini dikenal sebagai Museum Fatahilah yang dibangun oleh Jaan Pieter Zoon Coen.”Apakah skandal asmara ini fiksi atau nyata yang pasti karakter tokohnya pernah ada saat itu,”kata Remy Silado.

 

Mengenai gedung Fathilah yang terletak di Kota Tua  itu, Remy mengatakan ini adalah sebuah stadhuis di mana Pangeran Diponegoro sempat di tahan, begitu pula Untung Surapati yang ditahan di sana tahun 1600 an sehingga terjadilah perang.

 

Berbagai problema yang muncul saat itu, termasuk cerita Sarah Fei tokoh yang ada di film ini yang ada di masa lalu. Dulu, ada juga tersiar kabar ada kasus orang yang berzina kemudian diarak.

 

“Orang yang ketahuan berzina akan diarak dan hidungnya dicoret arang hitam. Nah, karena itulah akhirnya muncul istilah ‘hidung belang’ bagi orang yang suka berzinah,” ungkap Remy Silado.

 

Film ‘Sara Dan Fei Stadhuis Schandaal’ menampilkan perpaduan pemain senior dan wajah baru di pentas perfilman Indonesia di antaranya: Amanda Rigby, Tara Adia, George Taka, Anwar Fuady, Tio Duarte, Roweina Umboh, Septian Dwi Cahyo, Rency Milano, Mikey Lie.

 

 

Film ini bercerita tentang Fei, seorang mahasiswi Ilmu Budaya Universitas Indonesia sedang mengerjakan tugas kampus mengenai The Old Batavia bersama teman kuliah yang lainnya.

 

Saat ia mencari bahan dan riset tentang itu di kota tua, ia diperhatikan oleh seorang gadis cantik turunan Belanda – Jepang yang kemudian kita kenal dengan nama Saartje Specx  alias Sarah.

 

 Sarah pernah hidup pada awal abad ke-17, persisnya tahun 1628 masa Gubernur Jenderal Jan Pieterzoon Coen.

 

Sosok Sarah kemudian menghilang dari pandangan Fei manakala dering ponsel membuyarkan perhatian Fei akan sosok Sarah itu. Fei bertanya kemudian apakah temannya ada yang melihat Sarah?  Namun temannya menjawab tidak.

 

Pertemuan antara Fei dan Sarah itu membuat Fei tidak dapat menghilangkan pertanyaan dalam fikirannya akan apa dan siapa sosok perempuan muda cantik yang memperhatikannya di Gedung Fatahillah yang dahulu bernama Stadhuis .

 

Suatu hari tanpa sadar Fei dibawa melalui lorong waktu ke abad 17, menuju Batavia pada tahun 1628. Di sana Fei menyaksikan langsung cerita cinta murni dari Sara dengan Peter Cortenhoof yang penuh intrik.[]

 

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber