komunitas

Banyak Anak Berprestasi Didikan Homeschooling

Anggi SS | Selasa, 24 Juli 2018 08:30 WIB | PRINT BERITA

ist

 

WARTABUANA -  Pendidikan anak menjadi tanggung jawab orang tua. Cara bagaimana memberikan pendidikan kepada anak, adalah pilihan. Dan homeschooling menjadi satu dari tiga pilihan bentuk pendidikan yang ada dan dikenal masyarakat Indonesia.

 

Pendidikan di Indonesia ada 3 jenis, formal, nonformal dan informal. Jalur formal terjadi di sekolah dan lembaga pendidikan resmi, jalur nonformal berupa pendidikan tambahan seperti kursus bahasa, keterampilan dan lainnya. Kedua jalur itu memiliki struktur yang pasti.

 

“Sedangkan  homeschooling masuk dalam katagori informal yang bisa dilakukan dimana saja, terutama di rumah dan tidak memiliki struktur yang baku,” ujar  Simon Fauzan Priyanto, Ketua Panitia Festival Pendidikan Berbasis Keluarga yang digelar beberapa komunitas orang tua praktisi homeschooling.

 

 Mereka unggul lewat homeschooling /ist

Acara bertajuk “Sukacita Belajar” yang diadakan di Anjungan Kalimantan Barat, Taman Mini Indonesia pada Minggu (22/7/2018) itu mendapat animo sangat besar dari masyarakat, terutama para praktisi homeschooling dan mereka yang mulai tertarik dengan cara mendidik anak seperti ini.

 

Menurut Simon, bicara homeschooling adalah bicara soal mindset. Bukan persoalan apakah anak kita mendapat pendidikan di sekolah, atau anak kita tidak sekolah tapi mendapat pendidikan yang maksimal dari orang tuanya.  “Yang terpenting, kita menyadari bahwa proses pendidikan anak menjadi tanggung jawab orangtuanya,” jelasnya.

 

Festival ini diadakan oleh beberapa komunitas praktisi sekolahrumah alias homeschooling . Kegiatan ini menurut Simon merupakan wujud dari kepedulian para praktisi homeschooling yang dalam kesehariannya masih belum mendapatkan pengakuan di masyarakat.

 

“Sehingga mereka harus selalu berhadapan dengan berbagai kesulitan akibat dari minimnya informasi mengenai homeschooling. Beberapa kesulitan di antaranya adalah kesalahan masyarakat dalam memahami legalitas homeschooling,” papar Simon.

 

Kegiatan yang akan digelar secara reguler ini diharapkan menjadi  sarana edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat  mengenai homeschooling, sehingga  tidak ada lagi kesalahpahaman dan praktisi homeschooling tidak lagi dipandang sebelah mata.

 

“Festival ini juga diharapkan dapat membantu para orangtua yang sedang mencari informasi mengenai homeschooling untuk memenuhi kebutuhan belajar anaknya,” kata Simon yang lebih nyaman mendidik putri sulungnya  yang belum genap 7 tahun dengan metode homeschooling.

 

 Belajar tidak harus dilembaga formal /ist

Simon merasa istilah homeschooling kurang tepat jika ingin menyebut cara belajar di luar sekolah ini.  “Cara ini lebih pas disebut home education, bukan homeschooling. Makanya tagline kita itu pendidikan berbasis keluarga, buka sekolah. Kalau homeschooling itu sekolah yang dipindahkan ke rumah, sementara home education itu pendidikan berbasis keluarga,” papar Simon.

 

Berdasarkan pengalaman dan referensi ilmiah, menurut Simon anak dibawah 7 tahun itu tidak perlu belajar apa-apa. “Mereka cukup diberi pelajaran tentang etika, rasa bertanggung jawab, belajar hormat, belajar sopan santun, belajar life skills, yaitu apa saja yang bisa mereka kerjakan untuk bisa mandiri,” ungkapnya.

 

Di acara yang dibuka sejak pagi hari itu, selain memperkenalkan 6 anak unggulan yang menjalani homeschooling, juga dilakukan seminar dan presentasi dari para ahli dibidangnya, seperti Aar Sumardiono (praktisi homeschooling senior), Ellen Kristi  (Koordinator Nasional Perkumpulan Homeschooling Indonesia (PHI) dan Wimurti Kusman (praktisi homeschooling senior).

 

Wimurti Kusman memiliki tiga orang anak yang menjalani homeschooling di mana dua di antaranya berhasil memasuki perguruan tinggi terkemuka di Indonesia bahkan salah satunya mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di luar negeri.

 

Kemudian ada kakak beradik Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel yang sudah menjadi atlet wushu nasional dan meraih berbagai medali dari berbagai kejuaraan nasional maupun internasional.

 

 Simon Fauzan Priyanto /ist

Ada juga Hanif, pemenang kejuaraan robotik di Singapura, serta Nuala yang  memiliki usaha roti maryam yang sudah memiliki pasar dan produknya sudah dijual di pasar swalayan. Di dunia musik, ada Hans yang menjadi bagian dari kelompok paduan suara yang rutin berkompetisi dalam skala internasional.

 

Zaky seorang remaja yang sangat mandiri dan mencintai dunia desain digital. Keterampilannya telah membawanya sebagai salah satu desainer yang sudah dikenal di salah satu situs jual beli produk digital skala dunia.

 

Korban Bully

Dari sekian banyak praktisi homeshooling, masing-masing memiliki alasan dan latar belakang berbeda sehingga mengarahkan anak-anaknya menjalani pendidikan di luar lembaga formal. Salah satunya G Lini Hanafiah, ibu dari Mikayla Karissa Denel dan Gavryel Griffin Denel.

 

Putri sulungnya kini berusia 15 tahun. Remaja aktif  yang biasa disapa Yla itu penyandang Attention Deficit Disorder (ADD). “Tapi anak saya tidak pernah mengganggu yang lain.  Kini dengan homeschooling  dan dengan keterbatasan ADD-nya justru dia malah bisa mengeksplor kemampuannya,” ujar Lini bangga.

 

Lini terpaksa mengeluarkan anaknya dari sekolah, karena Yla menjadi korban bully, bahkan oleh gurunya sendiri. “Kelas satu SD, anak saya dilempar buku oleh gurunya. Saya sudah lapor kepihak sekolah, namun tidak ada solusi. Terpaksa anak saya berhenti sekolah ketimbang dia merasa tidak nyaman,” kenang Lini.

 

 Yla dan Vyel berprestasi sebagai atlet Wushu /ist

Setelah kemudian Lini mencoba memasukkan kembali Yla ke sekolah, namun putrinya tidak mau. Lini akhirnya mencoba metode homeschooling yang hingga kini dirasakan cocok untuk kedua anak dan keluarganya.

 

“Kita merasa bahwa homeschooling bukan satu-satunya jalan terbaik. Kalau ada anak yang happy dengan sekolah, ya bagus. Cuma, kami yang merasa tidak nyaman, punya masalah dan sebagainya, merasa homeschooling yang terbaik untuk kami,” ungkap Lini.

 

Apa yang disampaikan Lini, itu juga yang dirasakan kedua anaknya.  Yla mengaku merasa nyaman dan lebih happy. “Saya jadi lebih bisa mengeksplor bakat dan kemampuan saya dengan bebas,” ungkap Yla yang juga piawai ber-parkour dan suka desain grafis ini.

 

Bicara soal pendidikan, tentunya terkait erat dengan biaya. Hal ini juga yang dirasakan oleh Lini dan para praktisi homeschooling lainnya. Selain soal biaya, orang tua praktisi homeschooling juga harus memiliki waktu ekstra untuk bisa memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

 

“Kalau soal biaya itu sangat relatif. Karena kita harus menyediakan segala fasilitas sendiri. Secara umum itu relatif, bisa jadi mahal atau tidak tergantung kebutuhan dan selera kita,” ungkap Lini.

 

Lini mencontohkan Vyel, putra bungsunya yang berusia 12 tahun. Hingga kini Vyel belum pernah merasakan bangku sekolah formal. Selain wushu, ternyata Vyel terobsesi dengan bintang film multitalenta Jacky Chan. Vyel terobsesi ingin seperti Jacky Chan.

 

“Hampir semua hal terkait Jacky Chan dia tahu.  Untuk memenuhi rasa ingin tahu dan mewujudkan obsesinya, saya harus menyediakan kebutuhan dia untuk menggali informasi lebih banyak tentang Jacky Chan,” ujar Lini yang sedang mempersiapkan Vyel yang akan tampil di Asia’s Got Talent. []

 

 

 

EDITOR : Fuad Rohimi
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Sandi Jadi Cawapres, OK Oce Go Nasional

14 Agustus 2018 | 09:18 WIB

Perkumpulan Gerakan OK Oce (PGO) akan mengembangkan sayap ke seluruh Indonesia dan membuka jaringan bisnis ke luar negeri. Salah satu langkahnya dengan menghadirkan Co-Working Space.

Keajaiban Digital Prabowo

12 Agustus 2018 | 18:36 WIB

Ya, memang ada pergerakan kenaikan trend Prabowo saat mulai turun gunung dalam pilkada Jateng dan Jabar 2018. Namun trend atau populeknya masih di bawah petahana yang stucked itu.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber