dunia

Penghargaan Aung San Suu Kyi Banyak Dicabut

Edward WA | Kamis, 13 September 2018 10:37 WIB | PRINT BERITA

ist

WARTABUANA - Pemerintah kota Aberdeen, Skotlandia, memutuskan untuk membongkar kembali tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi. Hal itu mengacu derasnya kecaman bahwa ia "membisu" soal kekejaman terhadap warga minoritas Muslim Rohingya di Myanmar.


Pembongkaran dilakukan setelah dewan kota setuju untuk mengambil langkah tersebut, demikian laporan yang dikutip dari BBC, Kamis (13/9/2018).


Pembongkaran penghargaan untuk Aung San Suu Kyi diusulkan oleh anggota dewan kota Barney Crockett.

 
"Saya kira tanda penghargaan ini diganti saja dengan penghargaan yang menyerukan penghormatan terhadap hak asasi manusia," ujar salah seorang anggota dewan.


Pemerintah kota Aberdeen membuat tanda penghargaan bagi Aung San Suu Kyi atas permintaan organisasi hak asasi manusia, Amnesty International, sepuluh tahun silam.


Bulan lalu, penghargaan Freedom of Edinburgh bagi Aung Saan Suu Kyi juga dibatalkan.


Kota-kota lain seperti Glasgow, Newcastle, dan Oxford, juga mencabut tanda penghormatan untuk Suu Kyi.


Di luar itu, masyarakat dari berbagai negara mengajukan petisi agar hadiah Nobel Perdamaian baginya dibatalkan saja, tapi Komite Nobel mengatakan hadiah tersebut tidak akan dicabut.


Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar, dianugerahi hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 ketika menjalani tahanan rumah di Rangoon.


Hadiah diberikan kepadanya sebagai penghargaan atas upayanya mendorong demokratisasi dan penghormataan terhadap hak asasi manusia.


Setelah pemilihan umum di Myanmar pada 2015 ia diangkatkan menjadi penasehat negara, yang pada praktiknya adalah kepala pemerintahan sipil.


Dua tahun kemudian pecah gelombang kekerasan di negara bagian Rakhine setelah milisi Rohingya menyerang pos-pos polisi, menewaskan 12 aparat keamanan.


Merespons insiden ini, militer Myanmar menggelar operasi dengan dalih menumpas milisi Rohingya.


Aksi-aksi kekerasan pecah yang membuat masyarakat internasional menuduh aparat keamanan Myanmar membunuh warga Muslim dan membakar desa-desa mereka.


Ratusan ribu warga Muslim Rohingya menyelamatkan diri ke negara tetangga Bangladesh untuk menghindari gelombang kekerasan.


Jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh mencapai sekitar 700.000 orang.


Di saat kebrutalan dan kekejaman terhadap warga minoritas Muslim Rohingya terjadi, Aung San Suu Kyi tidak mengutuk atau mengevam keras tindakan militer Myanmar, sikap yang sangat disayangkan masyarakat internasional.[]
 
 
 
 
 
 
EDITOR : M. Jasri
Baca Juga








TERKINI



TERPOPULER

Alami Krisis Ekonomi Venezuela Minta Bantuan China

17 September 2018 | 10:11 WIB

Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, berusaha mendapatkan bantuan dari salah satu pemberi pinjaman terbesar dunia, China, untuk membantu negara Amerika Selatan yang sedang mengalami krisis serius tersebut.

Oktober Aplikasi Path Resmi Dihapus

18 September 2018 | 09:39 WIB

Media sosial `Path` resmi mengumumkan selamat tinggal pada para pengguna. Kabar ini menjelaskan terkait rumor yang beredar beberapa hari lalu.

Yusaku Maezawa akan Jadi Turis Pertama yang Terbang ke Bulan

18 September 2018 | 21:27 WIB

Miliuner Jepang, Yusaku Maezawa, bakal menjadi turis pertama di dunia yang akan terbang mengelilingi Bulan menggunakan jasa perusahaan SpaceX milik Elon Musk.

Ali Baba Batal Buka Sejuta Lowker di AS

21 September 2018 | 16:50 WIB

Raksasa e-commerce China, Alibaba, dikabarkan telah membatalkan rencananya untuk membuka 1 juta pekerjaan di AS. Hal tersebut dipicu perang dagang antara AS dan China.

Swiss Musim Panas, Anjing Peliharaan Wajib Pakai Sepatu

22 September 2018 | 11:52 WIB

Guna mengantisipasi gelombang panas, kepolisian Kota Zurich, Swiss, menganjurkan kepada para pemilik anjing membelikan sepatu untuk binatang peliharaan agar kaki-kaki mereka terlindung dari suhu panas.

Home | nasional | dunia | metro | ekonomi | parlemen | arena | seleberita | telco | gadget | otomotif | info tekno | jalan-jalan | kelambu | curhat sehat | hidup sehat | sportainment | potret | Launching | enterpreneur | profil | politik | ragam | Hukum | Ceremony | Resensi | Film | Musik | Wow... |

Tentang Kami | Kontak Kami | Pedoman Media Siber