Cari Barang Antik? Jalan Surabaya Tempatnya

0

WARTABUANA – Berdirinya pasar antik di Jalan Surabaya Jakarta Pusat mempunyai cerita yang panjang. Awalnya pasar yang berdiri tahun 1971 hanyalah sebuah pasar kaget yang berdiri rapi dari sekumpulan pedagang pakaian, makanan, dan juga peralatan rumah tangga bekas.

Mereka setiap hari berdatangan dari berbagai tempat, ada yang dari Pasar Senin, Tanah Abang, Pasar Pagi, Jatinegara Pasar Rumput, Sampai Pasar Rebo. Dengan penjualan yang berbeda-beda mereka mengelar daganganya hanya beralasakan karpet atau terpal dari pagi sampai sore.

“Dulu awalnya Pasar kaget. Jadi orang tumpah riah ditempat ini. Mereka jual peralatan rumah pagi sampai sore,” ujar pengurus Pasar Antik, Mumu Hidayat saat ditemuai di Jalan Surabaya, Jakarta Pusat.

Setelah itu ia bercerita tidak lama kemudian kurang lebih 4 tahun berjalan. Orang-orang mulai berpikir untuk membangun tenda dengan peralatan kayu dan terpal. Hingga akhirnya di bawah kepemimpinan Gubenur DKI Jakarta Ali Sadikin, tahun 1957 Pasar Antik ini mengalamai perubahan.

Ali Sadikin mencoba menata Pasar Barang Antik dan tas ini agar lebih rapi dan elegan sehinga tidak merusak tatanan Ibu Kota dengan menyediakan bangunan semi permanen. Sejak itulah awal dari kebangkitan Pasar Antik dimulai.

Perlahan-lahan dari tahun ketahun pasar yang dulunya hanya pasar kaget yang menjual pakaian dan makanan kemudian naik kelas menjadi pasar barang-barang antik yang dikenal bukan hanya hanya lokal tapi juga mancanegara.

Meski sudah cukup lama berdiri, kebaradaan Pasar Antik diakui oleh Mumu tidak seramai dulu. Sejak Indonesia mengalami krisis moneter pada tahun 1998 lalu pasar ini mengalami penurunan omzet mencapai 50 persen.

Masa transisi itu sangat dirasakan oleh Mumu dan pedagang lainya, dimana dulu sebelum masa Reformasi, Pasar Antik ini selalu ramai dikunjungi oleh orang dari berbagai daerah. Saat itu, harga-harga masih murah dan pasokan barangnya juga mudah didapat.

Namun apa boleh buat, meski terjadi penurunan secara drastis, mereka tetap bertahan. Karena yakin bisnis ini akan bangkit kembali. Terlebih konsumen atau pengunjung baik lokal maupun mancanegara hanya mengenal satu tempat penjualan barang-barang lawas di Jakarta, yakni di Jalan Surabaya.

Kemudian, kebanyakan mereka juga mewarisi berjualan barang antik dari orang tua atau kakeknya sebagai orang pertama yang sudah menginjak kakinya di Jalan Surabaya. Seperti halnya Mario, laki-laki berumur 30 tahun ini adalah penjual piringan hitam yang mewarisi usaha kakeknya.

Ia mengaku bertahan menjadi penjual piringan hitam, karena untuk menjaga kelestarian warisan orang tuanya sebagai penjual barang antik. Disamping itu, kios miliknya juga sudah banyak mempunyai pelanggan.

“Kenapa bertahan? ya karena sayang kalau terputus tidak ada yang meneruskan usaha orang tua kita. Lagian pelangganya juga sudah banyak yang kenal,” ujarnya sambil tersenyum dikios nomor 141 miliknya.

Laki-laki berdarah tionghoa ini juga mengatakan, puncak kejayaan pasar antik ini berlangsung sejak tahun 1980-1995. Ia sempat mendengar cerita dari kakeknya setiap hari dipasar itu selalu dipenuhi wisatawan asing. Pada saat itulah para pedagang mendapat keuntungan besar.

Layaknya mendapat durian runtuh, para pedagang bahkan ada yang memberanikan diri pindah untuk membuka usaha yang lebih besar lagi di tempat lain seperti, di Bogor, Sukabumi dan tempat-tempat lain di luar Jakarta.

“Dulu Paman saya sampai ada yang pindah ke Bogor buka toko baru,” katanya

Mario mengakui dengan terus berkurangnya peminat barang antik karena perkembangan teknologi yang semakin pesat. Terkadang ia hanya mendapat pengasilan Rp 8 juta perbulan. Uang sebesar itu tak cukup untuk membayar sewa toko dan juga biaya perawatan.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here