Pasar Taman Puring, Bursa Barang Bermerek Harga Murah

0

WARTABUANA – Berawal dari sebuah taman kecil tempat singgah para penumpang oplet dan tempat para pedagang pikulan yang ingin menjajakan dagangan dengan bermacam-macam bentuk dagangannya, dari makanan, pakaian, sepatu, elektronik, barang-barang rumah tangga dan juga barang antik.

Bang Udin sebutan pria penjual sepatu di Taman Puring yang sudah cukup berumur sekitar 50 tahun-an asal kampung Rambay yang tinggal disekitar pasar tersebut, mengaku tidak tahu persis asal muasal nama pasar Taman Puring. Namun, yang dia tahu di tahun 85 -90 itu sebuah taman tempat berkumpulnya para pedagang kaki lima yang menjual barang-barang bekas.

“Saya nggak tau persis ini nama pasar dulunya apa ya, tapi yang saya tau itu nama taman, tahun 85 -an kumpulnya tukang dagang, macam-macam barang,” ujar udin kepada wartabuana di Jakarta, Senin (24/03/2014).

Dia menjelaskan, pasar Taman Puring yang sekarang, kondisi pasarnya tidak sebagus saat ini. Kata Udin, dulu pasar ini atapnya masih terbuat dari terpal (tenda plastik), tempat dagangannya pun terbuat dari rak kayu (bale) dan kondisi lantainya pun masih tanah merah, belum di pelur ataupun di kramik.

“Dulu saya jualan atap masih pake terpal dan masih tanah merah, jualan barang-barang bekas, kaya sepatu, baju, dan barang-barang elektronik seperti tipe mobil yang pakai kaset pita,”jelasnya.

Tahun 88- 90an, lanjut Udin, pasar Taman Puring mulai mengalami perubahan, yang dahulu tempat dagangan atapnya terbuat dari terpal kini sudah berubah seperti toko-toko yang berukuran 2 x 2 meter yang bahan-bahan tokonya kebanyakan terbuat dari kayu, seperti sekat-sekatannya terbuat dari teriplek dan penutup tokonya pakai potongan papan yang berukuran lebar 30 cm dan panjang 2 meter.

“Kalau kita mau tutup toko, itu masih pakai potongan papan yang menggunakan nomor urut di papanya,”ungkap Udin.

Masuk diawal tahun 90 an merebak isu yang kurang enak terdengar di telinga bahwa pasar Taman Puring menjadi pusat tadahan barang-barang hasil curian. Namun, Udin tidak mau mengomentari lebih dalam tentang hal tersebut.

“Wah kalau yang itu saya nggak tahu, yang saya tahu banyak yang dagang barang-barang bekas,”ungkapnya.

selain itu dia menjelaskan, kalau pasar Taman Puring pernah tiga kali terbakar yaitu, kebakaran pertama pada tahun 1995, saat itu bagian tengah pasar yang terbakar, namun dia lupa untuk menceritakan kebakaran yang ke duanya tahun berapa. Lalu yang terakhir kebakaran yang ke tiga pada tahun 2002 , sehingga para pedagang meminta Pemda setempat dan Gubernur DKI saat itu, Sutiyoso untuk membangun kembali pasar itu.

“Kami meminta kepada pemda dan gubernur, untuk membangun kembali lahan kami yang telah terbakar, karena hanya disini kami mencari rezeki,”jelas Udin.

Setelah dibangun kembali, kini Taman Puring menjadi pasar modern yang tertata dengan rapi. Sekat-sekat yang dahulu terbuat menggunakan bahan kayu, sekarang terbuat dari Rolling Door dan lantai sudah memakai kramik, tetapi pasar Taman Puring sendiri bukan berbentuk Pasar Jaya, pasar ini murni pasar yang diperuntukan untuk pedagang kaki lima. Pasar ini di bina oleh Pemda DKI Jakarta. Namun untuk pengelola dipercayakan oleh pedagang.

“Di Taman Puring ada ratusan kios. Ada lantai atas dan lantai bawah, kalau lantai atas jualan HP, lantai bawah macam-macam jenis dagangan jadi satu,” jelas Udin yang mengaku sudah mengaih rejeki dari tahun 87 dipasar tersebut.

Tentang kualitas barang di pasar Taman Puring sebagian besar tidak sama, disetiap toko mempunyai kualitas barang yang diandalkan dari tokonya masing-masing, seperti toko yang satu mengandalkan kualitas sepatunya dan toko sebelah mengandalkan pakaiannya, seiring itu selama ini jarang pembeli yang komplain tentang barang-barang yang dibelinya. Namun, sekarang ini sudah jarang di pasar Taman Puring yang menjual barang bekas, sebagian besar sudah menjual barang-barang baru dan bermerk, untuk kualitas hapir sama dan lebih murah dengan barang-barang yang dijual di Mal.

Sementara itu, menurut Muhaydin (43), yang mengaku sudah berdagang selama 18 tahun dipasar Taman Puring itu mangatakan, tahun 98 – 2002 dia menjual Hp Second dan 2003 beralih menjadi penjual pakaian. Dia menjelaskan, barang-barang yang dijual disini bisa murah karena tidak kena pajak sebesar barang sejenis yang dijual di mal atau pertokoan yang lain, karena barang yang dijual di Mal itu kebanyakan bergaransi.

“Namun, disini pembeli tidak mendapatkan Garansi atas barang yang sudah di belinya,”terangnya.

Muhaydin pun mengatakan, barang dagangan yang umum dijual di Taman Puring lebih ke garmen, elektronik dan sepatu. Para pedagang mendapat stok barang dari berbagai sumber. Bahkan ada yang mengambil dari luar negeri, seperti China, Vietnam dan Thailand. Untuk konsumennya yang berdatangan pun berbeda-beda. Ada abg, orang tua, bahkan pedagang juga. Mereka yang bertandang ke pasar pun dari berbagai daerah. Ada yang dari daerah sekitar pasar Taman Puring, ada juga yang dari luar kota.

“Kadang pun ada turis datang ke sini, untuk mencari pakaian yang ukurannya besar,” katanya.

Dia juga mengaku  dari Pemerintah Kota setempat sampai saat ini masih datang ke pasar Taman Puring ini untuk memberikan penyuluhan mengenai masalah modal usaha para pedagang pasar tersebut.

“Meskipun jarang tetapi berguna untuk kita penyuluhan itu,” pungkasnya.[ ]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here