Yolanda Putri Sajikan ’Tari Ledhek’ Jadi Hiburan Atraktif

99

WARTABUANA – ’Tayub’ dengan judul ”Tari Ledhek”menjadi repertoar pembuka penampilan grup kesenian daerah dari kota Kediri, di ajang Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (31/03/2019). Walau Tayub tidak secara spesifik sebagai kesenian tari asal Kediri, namun pemanggungan tarian ini menarik untuk dicermati.

Pertunjukan ini seakan mengonfirmasi adanya stigma negatif terhadap penarinya (Ledhek). Apa penyebab timbul penilaian semacam ini? Sebab adakalanya para penikmat seni Tayub terpengaruh minuman keras yang bisa mengganggu para Ledhek. Penilaian lainnya, gerakan sang Ledhek atau penarinya kerap dinilai sensasional, dan seronok; erotis.

Namun di tangan Penata Tari, Yolanda Putri P. S,Pd,  ’Tari Ledhek’ menjadi hiburan atraktif dan menarik. Membawa pesan sosial menyangkut ‘gender’; diskriminasi; pembedaan peran normatif laki-laki terhadap perempuan, tampil menarik dalam tata gerak yang dinamis. Terutama dalam penguasaan materi gerak, akselerasi, penguasaan panggung, ekspresi dan rasa percaya diri.

’Tari Ledhek’ menggambarkan seorang penari Tayub perempuan yang kerap dilecehkan. Namun sang Ledhek tetap teguh pada pendirian, menjadi seorang penari yang selalu menjaga norma dan etika, serta menjaga kehormatannya sebagai perempuan.

Sajian berikutnya yang tak kalah menarik adalah fragmen tari berjudul ”Maling Genthiri.” Lewat repertoar tarian berjudul ”Kediri Harmoni”,  para seniman yang umumnya remaja ini berhasil membuka pertunjukan dengan anggun, dan memesona.

Tembang dan irama (gending) sebagai pengiring berhasil mempertegas gerak. Penonton juga tak melulu menikmati rangkaian gerak, tapi juga harmoni tata rias dan busana yang terlihat selaras dan mencerminkan tema.

Fragmen tari berjudul ”Maling Genthiri” menceritakan seorang tokoh bernama mbah Boncolono. Bagi warga Kediri, mbah Boncolono adalah pahlawan. Beliau dikenal dermawan dan sering menolong masyarakat lemah. Sebaliknya ia tidak disukai penguasa, dan pengusaha, karena disebut pengacau; pemberontak dan sering merampok harta benda mereka.

Di kalangan penguasa, mbah Boncolono, dikenal sebagai Maling Genthiri, sosok yang paling dicari; buronan nomor satu. Tetapi karena kesaktiannya, mbah Boncolono kerap luput dari kejaran penguasa Belanda.

Paket kesenian daerah yang dikemas dalam bentuk ‘Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur’ ini diselenggarakan Badan Penghubung Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain menampilkan berbagai pertunjukan seni, acara juga dimeriahkan dengan pameran berbagai produk unggulan khas kota Kediri, antara lain; seni kerajinan seperti batik, t-shirt, ukir-ukiran patung, topeng, barong, jaranan, dan seni kriya lainnya. Pameran juga menampilkan berbagai produk kuliner jajanan khas Kediri.

Merawat Budaya

Mewakili Pemerintah Kota Kediri, Kepala Bidang Olahraga Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Pemerintah Kota Kediri, Agus Arifin, M.Si, dalam sambutannya menyampaikan, pagelaran ini diharapkan semakin mendorong peran serta masyarakat dalam upaya memelihara seni dan budaya.

“Muncul kesadaran masyarakat mau merawat, melestarikan, dan menumbuh-kembangkan warisan seni budaya. Kemudian mengkonversikannya dengan gelombang modernitas, dicari sisi positifnya. Sehingga pada gilirannya akan menambah khasanah kebudayaan kita dan lahirnya berbagai kreasi baru,” ujar Agus Arifin.

Para seniman yang terlibat di pergelaran ini, antara lain; *Sunawan, SE (Gagasan/Ide Cerita), Puruhito Bangkit Wiranata, S.Pd (Penulis Cerita), Yolanda Putri P. S,Pd (Sutradara), Ety Kusumaningtyas, S.Pd, AUD (Asisten Sutradara), *Yolanda Putri P. S,Pd, (Penata Tari), Adi Nugroho (Penata Musik), Guntur Tri Kuncoro, S.Sos, (Penata Panggung), Guntur Tri Kuncoro, S.Sos, (Penata Artistik), Didik Purwanto, S.Pd (Penata Kostum dan Penata Rias), serta didukung puluhan pengrawit, penyanyi dan penari.

Duta seni dari Kota Kediri ini di bawah pembinaan langsung Walikota Kediri, Abu bakar, SE,. Bertindak sebagai Penasehat, Drs. H. Nur Muhyar (Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata), Penanggungjawab Sunawan, SE, (Kepala Bidang Dinas Pemuda, Olah Raga, Kebudayaan dan Pariwisata), Pimpinan Produksi, Guntur Tri Kuncoro, S.Sos.

Ikut menyaksikan pergelaran ini, Kepala Sub Bidang (Kasubid) Pengelolaan Anjungan Badan Penghubung Daerah (Bapenda) Provinsi Jawa Timur, Samad Widodo, SS, MM, serta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Kediri.

Bertindak sebagai Juri Pengamat Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur adalah, Suryandoro, S.Sn (Praktisi dan Pengamat Seni Tradisi), Eddie Karsito (Wartawan, Penggiat Seni & Budaya), Dra. Nursilah, M. Si. (Dosen Seni Tari Universitas Negeri Jakarta), dan Catur Yudianto (Kepala Bagian Pelestarian dan Pengembangan Bidang Budaya TMII).

Sepanjang bulan April 2019 ini, Anjungan Jawa Timur TMII akan menampilkan para duta seni daerah Jawa Timur, dari Kabupaten Bondowoso (7 April 2019), Kabupaten Pasuruan (14 April 2019), Kota Batu (21 April 2019), dan Kabupaten Sidoarjo (28 April 2019).

Anjungan Jawa Timur TMII juga menggelar paket acara khusus, “Eksotika Budaya Jawa Timur”, Jum’at – Sabtu (19-20/04/2019). Disusul kemudian penyelenggaraan Peringatan Hari Tari Dunia, Sabtu (27/04/2019).[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here