Di Saat Kepercayaan Publik Anjlok, Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson Tetap Digunakan di AS

9
Orang-orang mengantre untuk masuk ke sebuah lokasi vaksinasi massal COVID-19 di United Center di Chicago, Amerika Serikat, pada 10 Maret 2021. (Xinhua/Joel Lerner)

WASHINGTON – Negara-negara bagian di Amerika Serikat (AS) telah melanjutkan kembali pemberian vaksin COVID-19 dosis tunggal Johnson & Johnson setelah badan federal mencabut penangguhan, tetapi kepercayaan publik terhadap vaksin tersebut telah anjlok.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (Food and Drug Administration/FDA) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) telah mengumumkan keputusan mereka untuk mencabut penangguhan penggunaan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson pada Jumat (23/4), mengizinkan kembali penggunaan vaksin tersebut pada orang dewasa.

Kedua badan itu mengatakan bahwa setelah melalui peninjauan keamanan menyeluruh, mereka menyatakan manfaat potensial yang diketahui dari suntikan vaksin tersebut “lebih besar dari” risiko yang telah diketahui dan potensialnya pada individu berusia 18 tahun ke atas.

Para personel Garda Nasional AS memeriksa orang-orang di sebuah lokasi vaksinasi COVID-19 di Javits Center di New York, Amerika Serikat, pada 6 April 2021. (Xinhua/Michael Nagle)

Penangguhan tersebut direkomendasikan pada 13 April lalu menyusul laporan enam kasus jenis pembekuan darah yang parah dan langka setelah menerima vaksin Johnson & Johnson.

“Kami tidak lagi merekomendasikan penangguhan penggunaan vaksin ini,” tutur Direktur CDC Rochelle Walensky. “Berdasarkan analisis mendalam, kemungkinan memang ada keterkaitan, tetapi risikonya sangat rendah.”

Beberapa negara bagian telah kembali melanjutkan kembali penyuntikan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson. Sebagai bagian dari Program Farmasi Retail Federal AS, rantai perusahaan farmasi CVS dan Walgreens akan kembali melanjutkan pemberian vaksin tersebut pekan ini.

Namun, sebuah survei terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan publik telah anjlok akibat penangguhan tersebut.

Kurang dari separuh warga Amerika menganggap vaksin COVID-19 Johnson & Johnson aman, dan hampir lebih dari seperlima dari warga AS yang belum divaksin menyatakan bersedia disuntik vaksin tersebut, menurut survei ABC News/Washington Post.

Sekitar 46 persen responden mengatakan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson sangat atau cukup aman, dibandingkan dengan lebih dari 7 dari 10 orang untuk vaksin Pfizer dan Moderna, ungkap hasil survei yang dirilis Senin (26/4) itu.

Baca Juga :  Warga Jakarta Antusias Ikuti Vaksin COVID-19

Sementara itu, sekitar 73 persen dari mereka yang belum divaksinasi menolak menerima suntikan vaksin COVID-19 Johnson & Johnson.

Orang-orang mengantre untuk masuk ke sebuah lokasi vaksinasi massal COVID-19 di United Center di Chicago, Amerika Serikat, pada 10 Maret 2021. (Xinhua/Joel Lerner)

Keraguan terhadap vaksin di Amerika Serikat (AS) masih besar, menurut jajak pendapat tersebut. Hampir 1 dari 4 orang Amerika, atau 24 persen, enggan menerima vaksin virus corona apa pun.

Sekitar 230 juta dosis vaksin COVID-19 telah disuntikkan di seluruh negara tersebut sampai dengan Senin, sedangkan lebih dari 290 juta dosis vaksin COVID-19 telah didistribusikan, tunjuk data CDC.

Saat ini, terdapat lebih dari 95 juta warga Amerika telah divaksin penuh, atau sekitar 28,9 persen dari total populasi AS, menurut data CDC.

Sekitar 140 juta warga Amerika telah menerima setidaknya satu dosis suntikan, atau 42,5 persen dari total populasi.

Dari mereka yang telah divaksin penuh, 37 juta di antaranya adalah warga berusia 65 tahun ke atas, atau mencakup 67,7 persen, tunjuk data CDC.

Vaksin COVID-19 Johnson & Johnson disetujui untuk penggunaan darurat di AS pada akhir Februari lalu. Vaksin ini menjadi vaksin COVID-19 ketiga yang mendapatkan izin dari FDA, dan juga vaksin berdosis tunggal pertama yang tersedia di AS.  [Xinhua]

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments