Inggris Catat Kematian Harian kibat COVID-19 Terendah

4
Para pejalan kaki melintas di Covent Garden di London, Inggris, pada 12 April 2021. (Xinhua/Ray Tang).

LONDON  – Inggris mencatatkan empat kematian baru terkait virus corona, angka penambahan harian terendah sejak awal September tahun lalu, menurut data resmi pada Senin (19/4).

Jumlah ini menjadikan total kumulatif kasus yang meninggal dalam 28 hari pascateruji positif COVID-19 menjadi 127.274.

Tercatat penambahan kasus terkonfirmasi baru COVID-19 di Inggris sebanyak 2.963 orang, sehingga total kasus virus corona di negara itu menjadi 4.390.783, demikian menurut data resmi.

Sementara itu, hampir 33 juta orang di Inggris telah mendapatkan suntikan pertama vaksin virus corona, sementara warga yang telah menerima dosis penuh mencapai lebih dari 10 juta.

Warga melintas di depan sebuah Pusat Vaksinasi COVID-19 Layanan Kesehatan Nasional (National Health Service/NHS) di London, Inggris, pada 31 Maret 2021. (Xinhua/Han Yan)

Kendati demikian, para ahli memperingatkan bahwa meski peluncuran vaksin telah menunjukkan kemajuan, Inggris “masih belum sepenuhnya keluar dari masalah” di tengah kekhawatiran terhadap ancaman varian baru, khususnya mutasi-mutasi yang pertama kali muncul di Afrika Selatan, Brasil, dan India, serta gelombang ketiga pandemi di benua Eropa.

Sebelumnya pada Senin, Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengumumkan larangan perjalanan dari India ke Inggris untuk warga negara non-Inggris dan warga Irlandia mulai Jumat (23/4) pukul 04.00 BST atau 10.00 WIB mendatang setelah negara Asia Selatan itu ditambahkan ke “daftar merah” perjalanan Inggris.

Petugas kesehatan mengambil sampel usap hidung dari seorang migran asal Negara Bagian Maharashtra di India untuk rapid test antigen guna memeriksa kemungkinan infeksi COVID-19 di sebuah stasiun kereta di Patna, ibu kota Negara Bagian Bihar, India timur, pada 19 April 2021. (Xinhua/UNI)

Kepada para anggota parlemen Inggris, Hancock mengatakan keputusan itu diambil setelah 103 kasus varian baru COVID-19 yang pertama muncul di India terdeteksi di Inggris.

Selama ini diketahui varian B.1.617, yang memiliki “mutasi ganda,” kemungkinan lebih menular, dan vaksin yang ada saat ini mungkin kurang efektif dalam melawannya.

Pada Senin yang sama, Downing Street sebelumnya juga mengonfirmasikan bahwa perjalanan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson ke India yang dijadwalkan pekan depan juga sudah dibatalkan.

Baca Juga :  Suasana Rumah Sakit di India Layani Pasien Covid-19

Mengingat situasi virus corona saat ini, perjalanan Perdana Menteri Boris Johnson ke India pekan depan tidak memungkinkan untuk dilakukan, kata pemerintah Inggris dan India dalam pernyataan gabungan.

India saat ini kembali terhuyung-huyung akibat gelombang kedua wabah COVID-19, dengan kasus baru belakangan ini mencapai lebih dari 200.000 setiap harinya dan jumlah kasus nasional dikhawatirkan bakal melampaui 15 juta pada awal pekan depan.

Sementara di Inggris, semua toko telah diizinkan buka kembali sejak 12 April lalu seiring pelonggaran pembatasan. Begitu pula dengan salon penata rambut, salon kecantikan, dan sejumlah layanan yang sarat kontak dekat lainnya.

Para pengunjung bersantap di restoran luar ruangan di Soho, London, Inggris, pada 12 April 2021. (Xinhua/Ray Tang)

Restoran dan pub kembali diizinkan menyajikan makanan dan minuman beralkohol kepada pelanggan yang duduk di luar ruangan. Sementara gym, spa, kebun binatang, taman hiburan, perpustakaan, dan pusat-pusat komunitas juga sudah diizinkan kembali menerima pengunjung.

Pada 17 Mei nanti restoran dan pub diperkirakan akan diperbolehkan melanjutkan layanan dalam ruangan, dan sebagian besar aturan tentang berkumpul di luar ruangan akan dicabut.

Untuk mengembalikan kehidupan normal, negara-negara seperti Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, serta Uni Eropa terus berpacu dengan waktu untuk meluncurkan vaksin virus corona.  [Xinhua]

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments