China dan India Miliki Peluang Untuk Perbaiki Hubungan

7
Sejumlah personel Pasukan Tanggap Bencana (Disaster Response Force/DRF) India mensterilkan pertokoan di kawasan Mahbub Mansion, salah satu pasar grosir terbesar di Hyderabad, ibu kota Negara Bagian Telangana, India selatan, pada 26 April 2021. (Xinhua/Str)

BEIJING – China menawarkan bantuan kepada India untuk memerangi COVID-19 usai Amerika Serikat (AS) menolak permintaan negara di Asia Selatan itu untuk membuka keran ekspor bahan mentah yang diperlukan untuk memproduksi vaksin, yang, seperti disampaikan oleh seorang akademisi, merupakan peluang bagi India dan China untuk memperbaiki hubungan mereka, demikian dilaporkan surat kabar South China Morning Post.

“Saat ini, pasokan bahan mentah dari AS dan Eropa untuk produksi vaksin di India dibatasi. Negara itu sangat membutuhkan bantuan negara-negara lain untuk mengatasi pandemi,” ujar Niu Haibin, Wakil Direktur Institut Studi Kebijakan Luar Negeri di Institut Studi Internasional Shanghai.

Seorang wanita menerima vaksin COVID-19 di sebuah rumah sakit di Prayagraj, Negara Bagian Uttar Pradesh, India utara, pada 10 April 2021. India sedang menghadapi lonjakan kembali kasus COVID-19. (Xinhua/Str)

“Ini juga menjadi peluang bagi kedua pihak untuk memperbaiki hubungan bilateral mereka,” tutur Niu seperti dilansir oleh surat kabar tersebut.

Sejumlah personel Pasukan Tanggap Bencana (Disaster Response Force/DRF) India mensterilkan pertokoan di kawasan Mahbub Mansion, salah satu pasar grosir terbesar di Hyderabad, ibu kota Negara Bagian Telangana, India selatan, pada 26 April 2021. (Xinhua/Str)

India pada Sabtu (24/4) melaporkan 346.786 kasus baru COVID-19, rekor kasus harian nasional tertinggi di dunia. Laporan itu menyebut bahwa “sistem rumah sakit di India berada di ambang keruntuhan karena kekurangan jumlah tempat tidur di unit perawatan intensif, pasokan medis, dan tabung oksigen.”

India juga menghadapi kekurangan pasokan vaksin dan telah meminta AS untuk mencabut larangan ekspor terhadap bahan mentah yang diperlukan dalam pembuatan vaksin, tulis surat kabar itu, “namun Washington menolak permintaan tersebut sembari mengatakan bahwa pihaknya memiliki tanggung jawab untuk melindungi warga AS terlebih dahulu.”  [Xinhua]

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments