Rasa Manis Menu Tradisional ‘Membasuh’ Pahitnya Kehidupan Warga Yaman Selama Ramadan

4

SANAA – Meskipun perekonomian runtuh karena pertumpahan darah selama bertahun-tahun, orang-orang di Sanaa, ibu kota Yaman, berusaha melupakan semua kesengsaraan untuk sementara waktu selama bulan suci Ramadan.

Di sebuah jalan di ibu kota yang dikuasai Houthi itu, yang kerap mengalami serangan udara setiap hari, toko makanan pencuci mulut dipenuhi pelanggan. Mereka ingin membeli penganan manis dan minuman tradisional untuk memuaskan perut yang lapar setelah matahari terbenam, waktu berbuka puasa.

BAKIL AZZAM, Warga setempat ; “Toko penganan manis bukan sesuatu yang baru di Yaman. Tempat seperti itu sudah ada selama puluhan tahun karena puasa di bulan suci Ramadan membuat orang membutuhkan banyak energi. Jadi kami berbondong-bondong datang membeli penganan manis untuk kami santap setelah berbuka puasa.”

Bagi semua umat Muslim di seluruh dunia, termasuk sebagian besar warga Yaman, Ramadan bukan sekadar bulan suci untuk berpuasa, meditasi, refleksi diri, dan berdoa, tetapi juga sebuah perayaan untuk menikmati hidangan gourmet bersama keluarga.

Yahaya Ayesh, warga setempat, mengatakan keluarganya sering membuat penganan manis di rumah dan setiap buka puasa, makan malam setelah seharian berpuasa, mereka banyak makan penganan manis.

YAHAYA AYESH, Warga setempat;”Banyak juga yang tidak datang untuk membeli penganan manis. Mereka membuat sendiri di rumah. Tetapi makan penganan manis adalah tradisi bagi semua orang di bulan suci ini.”

Meskipun hidup terasa sulit di negara yang dilanda perang itu, sebagian besar warga Yaman berusaha sedikit memanjakan diri selama Ramadan, dengan menikmati rasa manis itu.

FAISAL ABDULLAH, Pemilik toko; “Untuk penganan manis, kami punya rawani, baklava, chaaabiye, dan qatayef. Sedangkan untuk minuman, ada jus yang terbuat dari barley serta kismis putih dan hitam.”

Baca Juga :  Rumah Sakit Terbakar, 18 Pasien COVID-19 Tewas

Pembuat makanan pencuci mulut itu mengatakan makanan manis bisa membuat orang merasa senang dan puas, terutama setelah seharian berpuasa.

“Kami membuat lebih banyak penganan manis selama Ramadan karena permintaan meningkat. Dan kami sering kali bisa menjual sampai habis, beberapa pelanggan bahkan tidak kebagian.”

 

Koresponden Kantor Berita Xinhua melaporkan dari Brussel. (XHTV)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments