Warga Inggris Berusia di Bawah 30 Tahun Akan Ditawari Alternatif Vaksin AstraZeneca

16
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kiri) mengacungkan jempol usai menerima vaksin COVID-19 Oxford-AstraZeneca di Rumah Sakit St. Thomas di London, Inggris, pada 19 Maret 2021. (Xinhua/Downing Street No 10/Andrew Parsons)

LONDON – Warga Inggris berusia 18-29 tahun akan ditawari alternatif vaksin Oxford-AstraZeneca di tengah kekhawatiran atas kemungkinan hubungannya dengan kasus pembekuan darah langka, demikian disampaikan badan penasihat vaksinasi pemerintah Inggris pada Rabu (7/4).

Pengumuman dari Komite Gabungan untuk Vaksinasi dan Imunisasi (Joint Committee on Vaccination and Immunisation/JCVI) itu disampaikan menyusul peninjauan atas inokulasi vaksin Oxford oleh Badan Regulator Obat-obatan dan Produk Kesehatan (Medicines and Healthcare products Regulatory Agency/MHRA).

Menurut MHRA, efek samping vaksin AstraZeneca sangat jarang terjadi dan keefektifan vaksin tersebut telah terbukti, seraya menambahkan bahwa manfaat vaksin masih sangat menguntungkan bagi sebagian besar orang.

Kendati demikian, MHRA mengakui bahwa pendekatan baru ini lebih seimbang bagi kalangan muda karena risiko terjangkit virus corona jauh lebih rendah.

Kepala Eksekutif MHRA June Raine mengatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa hingga 31 Maret sebanyak 20 juta lebih dosis vaksin AstraZeneca telah diberikan di Inggris.

Menurutnya, 79 kasus pembekuan darah langka telah dilaporkan di Inggris, termasuk di antaranya 51 wanita dan 28 pria berusia 18 hingga 79 tahun.

Foto yang diabadikan pada 7 April 2021 ini menunjukkan vaksin COVID-19 AstraZeneca di Cornella, Spanyol. (Xinhua/Joan Gosa)

Seluruh 79 kasus ini terjadi setelah pemberian dosis pertama dan sangat disayangkan bahwa 19 orang meninggal, kata Raine.

Risiko efek samping seperti ini terjadi pada sekitar empat dari satu juta orang yang menerima vaksin itu, lanjutnya.

“Ini sangat jarang dan keseimbangan antara manfaat dan risiko vaksin yang diketahui masih sangat menguntungkan sebagian besar orang,” papar Raine.

Meski uji klinis memungkinkan para ilmuwan untuk menilai efek yang relatif umum, efek samping yang jarang terjadi hanya dapat diidentifikasi ketika vaksin digunakan dalam skala besar, katanya.

“Bukti semakin kuat” namun “masih banyak pekerjaan diperlukan untuk membuktikan tanpa keraguan” bahwa vaksin tersebut menyebabkan pembekuan darah yang sangat langka, imbuhnya.

Ketua JCVI Wei Shen Lim mengatakan bahwa penerima dosis pertama vaksin AstraZeneca harus ditawarkan dosis kedua dari vaksin yang sama.

“Kami tidak menyarankan penghentian vaksinasi bagi siapa pun dalam kelompok umur apa pun,” katanya.

Saran untuk menawarkan alternatif vaksin AstraZeneca bagi kelompok usia yang lebih muda “sesungguhnya dilakukan dengan sangat hati-hati” alih-alih karena “kekhawatiran keselamatan yang serius,” tambahnya.

Pada Rabu yang sama, Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency/EMA) mengonfirmasi bahwa terjadinya pembekuan darah dengan trombosit darah yang rendah sangat berhubungan dengan pemberian vaksin AstraZeneca COVID-19, namun hal ini tetap harus dimasukkan ke dalam daftar efek samping yang sangat langka.

Dalam penilaian terbarunya, para ahli EMA mengatakan kepada media bahwa kombinasi pembekuan darah dan trombosit darah rendah yang dilaporkan masih sangat jarang terjadi, dan manfaat keseluruhan vaksin dalam mencegah COVID-19 lebih besar dibandingkan risiko efek sampingnya.

Seorang tenaga kesehatan menunjukkan botol vaksin AstraZeneca di sebuah rumah sakit di Coria, Spanyol, pada 24 Maret 2021. (Xinhua/Gustavo Valiente)

Kesimpulan ini diambil oleh Komite Penilaian Risiko Farmakovigilans EMA menyusul tinjauan mendalam terhadap lebih dari 80 kasus yang dilaporkan dalam basis data Uni Eropa (UE).

Saat ini, Inggris juga meluncurkan vaksinasi dengan vaksin buatan Pfizer, dan dosis pertama vaksin Moderna telah diberikan di Wales pada Rabu.

Lebih dari 31,6 juta orang di Inggris telah menerima dosis pertama vaksin virus corona, menurut angka resmi.

Guna mengembalikan kehidupan normal, sejumlah negara termasuk Inggris, China, Rusia, Amerika Serikat, serta UE berpacu dengan waktu untuk meluncurkan vaksin virus corona.  [Xinhua]