Hacker Muda Diharapkan Bantu Pemerintah

99

WARTABUANA- Pemerintah Indonesia diharapkan dapat merangkul potensi sumber daya manusia khusunya kalangan “hacker” muda bidang digital forensik, kriptografi dan kemanan “website” untuk membantu keamanan dunia “cyber” nasional.

 

“Potensi SDM muda ini harus dirangkul untuk membantu keamana dunia `cyber` kita yang mulai mendapatkan peringatan lampu merah dari sisi keamanan,” kata Ketua Indonesia Security Incident Response Team of Internet Infrastructure Indonesia (ID-SIRTII), Dr Rudi Lumanto, di Legian, Kuta, Bali, Selasa (22/9/2015) .

 

Ia menambahkan pemerintah harus memberikan peluang dan wadah para potensi “hacker” muda itu untuk menjadi “hacker putih” yang nantinya memberitahu berbagai instansi pemerintah dan bisnis yang masih memiliki banyak lubang kelemahan di bidang keamanan sistem jaringan mereka.

 

“Bentuk nyata yang dapat dilakukan pemerintah untuk mencegah hal itu dapat dilakukan kegiatan lomba untuk memberi masukan terhadap kelemahan sistem jaringan pemerintah atau bisnis yang terdeteksi `hecker`,” ujarnya.

 

Dengan upaya itu, dapat mengantisipasi celah-celah para “hacker hitam” yang meretas segala dokumen pemerintah, sebelum dimanfaatkan mereka yang berniat jahat.

 

Potensi anak muda yang terserak di berbagai penjuru daerah itu, apabila diarahkan secara terpadu bisa membantu pemerintah mewujudkan keamanan “cyber” untuk kepentingan negara termasuk bisnis dan industri yang beroperasi di Indonesia.

 

“Memang kejahatan itu bisa terjadi oleh mereka yang punya keahlian tapi tak punya kesempatan,” ujarnya.

 

Oleh sebab itu, pemerintah mampu memanfaatkan potensi para “hacker” sebagai satu alternatif dan effektif menjaga keamaan dan mewujudkan keuntungan bersama.

 

Mikko Hypponen, seorang pakar sekuriti asal Finlandia yang juga menjadi salah satu pembicara di CodeBali itu menambahkan upaya itu dapat menekan angka kriminalitas para “hacker” yang ingin meretas semua dokumen dan “webside” yang dimiliki pemerintah.

 

“Saat ini para `hacker` yang melakukan kejahatan dunia maya sudah merajalela sehingga harus dilakukan upaya dengan cara merangkul mereka sehingga mengurangi resiko peretasan,” ujar Mikko. []