Layanan SMS Kini Tak Lagi Menguntungkan Operator

161

SEOUL, WARTABUANA- Layanan telekomunikasi dasar konvensional seperti SMS sudah tak lagi jadi pilihan utama. Bahkan dilaporkan, pendapatannya terus mengalami penurunan saat ini.

Tak hanya di Indonesia saja, namun penurunan juga terjadi di negara-negara lain. Dari hasil kajian yang dilakukan Informa Telecoms & Media, pendapatan dari layanan pesan singkat SMS di Asia Pasifik akan menurun tajam pada 2018 mendatang.

Kajian riset ini juga mengemukakan, pendapatan dari jasa SMS di Asia Pasifik bisa mencapai USD 45,8 miliar. Namun, di 2018 akan turun 17% alias di angka USD 38 miliar.

Di pasar global pun, jasa SMS diproyeksi terus menurun hingga USD 96,7 miliar pada 2018 dari posisi USD 120 miliar di 2013 karena terus mengguritanya layanan instant messaging milik over-the-top (OTT) seperti Whatsapp, BlackBerry Messenger, Line, Kakao Talk, dan sejenisnya.

Di kawasan Asia Pasifik, operator di China akan paling banyak mengalami penurunan pendapatan SMS yakni menjadi USD 19,6 miliar di 2018 dari USD 25,4 miliar di 2013.

Sedangkan di Eropa, operator di Italia akan paling besar mengalami penurunan jasa SMS yakni menjadi USD 2,2 miliar di 2018 turun 7,54% per tahun dari USD 3,3 miliar di 2013 ini.

Menurut riset dari Informa, operator yang memiliki basis pelanggan pasca bayar besar akan bisa meminimalisasi dampak dari serangan OTT dengan menawarkan paket SMS unlimited ke pelanggan.

“Walau kami memperkirakan pendapatan SMS menurun, tetapi melihat ragam aplikasi OTT itu banyak digunakan pelanggan, ruang bagi SMS itu masih ada,” ungkap Head of forecasting Informa Gareth Sims, seperti dikutip dari Zdnet, Selasa (19/11/2013).

Hal ini terbukti ampuh di Korea Selatan dimana 99% penggunanya pasca bayar dimana setiap tahunnya penurunan pendapatan SMS hanya di kisaran 3,5% dari USD 2,51 miliar di 2013 menjadi USD 2,1 miliar di 2018. Penurunan secara gradual karena aplikasi Kakao Talk banyak diminati di negara tersebut.[ ]