Andin Komalla dan Surya Sahetapy Pukau Ibu-Ibu Bhayangkari

326

 

JAKARTA, WB – Penyanyi pendatang baru, Andin Komalla bersama kelompok musik penyandang disabilitas Deaf People Project tampil memukau di Gedung Wisma Bhayangkari, Rabu (30/8/2017) lalu.  

 

Deaf People Project digawangi Surya Sahetapy pada piano yang merupakan penyandang tuna rungu, Marsya (biola) yang juga penyandang tuna rungu, Fachry (drum) penyandang tuna netra dan dua personel lainnya. Andin sendiri sebagai vocalis dan Osvaldo sebagai komposer dan synthesizer.

 

“Sebelumnya saya nyanyi didukung para penyandang tuli. sekarang para tuna netra. Jadi ibaratnya, dulu mengajak ikan supaya bisa terbang dan burung bisa menyelam. Jadi sangat berat. Bayangkan saja orang tuli diajak bermusik, seperti ikan yang mahir berenang dipaksa terbang,” ungkap Andin usai perform.

 

Beruntung, sebagai polisi, Andin mendapat dukungan dari Tri Suswati, istri Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang juga Ketua Umum Bhayangkari.  Tidak hanya itu, dukungan lain datang dari Ade Fakhrizal yang merupakan ketua Bhayangkari Sumatera Barat, tempat ayah andin Dinas.

 

Diakui Andin, saat bernyanyi di depan irti para angota polri dalam seminar tentang Terorisme dan Radikalisme sempat membuatnya deg-degan. Andin menyanyikan dua lagu, Bendera yang dipopulerkan oleh Coklat dan Laskar Pelangi dari Nidji.

 

Dalam kesempatan itu Andin didukung oleh semua personelnya penyandang tuna netra, seperti Oky (gitar), Joel (rhythm), Ari (bas), Rifky (biola), dan Vano (cajon). Sedang Surya Sahetapy sebagai penerjemah musik bagi  penderita tuna rungu.

 

Ketika ditanya, apa nama grup yang baru dibentuknya itu, Andin terlihat bingung. Selama ini ia belum sempat memikirkan nama grup musik yang berisi para kaum tuna netra, hanya vokalisnya saja yang normal. Tapi Andin mengaku jujur, dengan kepekaan para personel pengiringnya tersebut memiliki tingkat musikalitas dan kepekaan dua kali lipat dari orang normal.

 

“Nama grup kami belum memikirkan. Kami masih bingung mau pakai nama apa. Yang formil atau yang lebih santai. Tapi kami sempat terpikir akan diberi nama `Brak` karena para personelnya sering nabrak  kalau jalan. Maklum mereka tuna netra. Atau bisa juga Sagang alias salah pegang. Nama-nama itu justru muncul dari mereka yang tuna netra. Mereka itu selalu tertawa bercanda seperti tidak pernah sedih,” tandas Andin. []