Studi Baru Temukan Faktor Risiko Kecemasan Tinggi Selama COVID-19

49

WARTABUANA – Studi baru dari Institut Kesehatan Nasional (National Institutes of Health/NIH) Amerika Serikat (AS) berhasil mengidentifikasi faktor-faktor risiko awal yang memprediksi kecemasan tinggi di kalangan orang dewasa muda selama pandemi COVID-19.

Temuan dari studi tersebut dapat membantu memprediksi siapa yang menghadapi risiko terbesar mengalami kecemasan selama peristiwa kehidupan yang penuh tekanan di awal masa dewasa serta memberikan informasi yang berguna bagi upaya pencegahan dan intervensi, menurut rilis yang dikeluarkan NIH pada Jumat (12/2).

Para peneliti memeriksa data dari 291 partisipan yang telah diikuti sejak masa balita hingga dewasa muda sebagai bagian dari studi yang lebih besar terkait perkembangan temperamen dan sosioemosional.

Mereka menemukan bahwa partisipan yang terus menunjukkan karakteristik temperamen yang disebut inhibisi perilaku di masa kanak-kanak lebih mungkin mengalami disregulasi kekhawatiran di masa remaja, yang juga memprediksi peningkatan kecemasan selama bulan-bulan awal COVID-19 ketika partisipan berada di usia dewasa muda.

“Studi ini memberikan bukti lebih lanjut tentang dampak berkelanjutan dari temperamen di masa awal kehidupan terhadap kesehatan mental individu,” kata Nathan Fox, profesor dan direktur Laboratorium Perkembangan Anak di Universitas Maryland, yang juga merupakan penulis studi tersebut.

“Anak-anak berusia muda dengan inhibisi perilaku yang stabil berisiko tinggi mengalami peningkatan kekhawatiran dan kecemasan, dan konteks pandemi hanya memperparah efek ini,” katanya.

Temuan ini menunjukkan bahwa menyasar keraguan sosial di masa kanak-kanak dan disregulasi kekhawatiran di masa remaja mungkin merupakan strategi yang cocok untuk mencegah gangguan kecemasan.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa menyasar disregulasi kekhawatiran di masa remaja mungkin sangat penting untuk mengidentifikasi mereka yang berisiko mengalami kecemasan tinggi selama peristiwa kehidupan yang penuh tekanan seperti pandemi COVID-19 serta mencegah kecemasan itu, menurut NIH. [Xinhua]

Baca Juga :  Mengatasi Bayi yang Tidak Mau Menyusu dengan ASIMOR