Demokrat Tidak Takut `Ketinggalan Kereta`

35

JAKARTA, WB – Mendekati Pemilu Presiden, semua Partai Politik (Parpol) sibuk bergerilya mencari `teman` untuk membangun koalisi, terutama bagi partai tiga besar hitung cepat yakni PDIP, Golkar dan Gerindra.

 

Sedangkan untuk Partai Demokrat sepertinya tampak tenang, tidak terlihat sibuk mencari teman. Padahal partai berlambang mercy ini juga punya Calon Presiden (Capres) yang diusung melalui Konvensi.

 

Menanggapi hal itu, Ketua Harian Partai Demokrat Syarif Hasan mengatakan situasi diinternal Demokrat memang tampak tenang, meskipun perolehan suara pada Pemilu Legislatif 2014 terjun bebas dari 20% pada Pemilu 2009 menjadi 9%.

 

Ia juga menegaskan, bahwa pelaksanaan Konvensi Demokrat tetap akan dilanjutkan untuk mengusung Capres sesuai kesepatakan bersama, dan nantinya akan langsung diumumkan oleh Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

 

“Ya, pokoknya Konvensi tetap dilanjutkan, Besok Sabtu tanggal 26 Insya Allah kita akan melanjutkan. Dan setelah itu hasil pemenang Capres Konvensi akan ditentukan oleh survey dan diumumkan pada awal Mei,”ujarnya di Jakarta, Jumat (19/4/2014).

 

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah itu, kemudian menjelaskan bagaimana Demokrat mengusung Capresnya, apakah cukup yakin dengan perolehan 9% tanpa adanya dukungan atau koalisi dari partai lain. Syarif langsung menjawab sendiri.  “Saya kira tidak perlu terburu-buru untuk cari koalisi,” katanya.

 

Dari kacamata sejarah politik di Indonesia, sejak 2004 sampai 2014 kebanyakan Parpol memang lebih senang mengusung Calon Presiden dan Wakil Presiden dari internal partainya sendiri. Namun Demokrat sepertinya ingin memberikan ruang terbuka bagi semua anak bangsa yang ingin punya mimpi menjadi presiden melalui konvensi.

 

Jika dilihat dari 11 peserta yang ikut Konvensi Demokrat, memang kenyataanya lebih banyak yang diambil dari luar Demokrat. Jumlahnya ada sekitar tujuh orang, yakni Dahlan Iskan, Irman Gusman, Dino Pati Djalal, Anies Baswedan, Gita Wirjawan, Ali Masykur Musa dan Jendral (Purn) Endriantoro Sutarto.

 

Sementara yang berasal dari internal Partai Demokrat, jumlahnya ada empat mereka yaitu, Marzuki Ali, Jendral (Purn) Pramono Edhie Wibowon, Sinyo Herry Sarundajang, dan Hayono Isman. Selisihnya adalah tujuh banding empat.

 

“Memang untuk jadi Presiden tak harus ikut Parpol dulu,” jelasnya.

 

Masih Untung

Menyikapi hal itu, Mantan Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum menilai Konvensi Demokrat memang bagian dari cara SBY untuk mendongkrak elektabilitas Partai di depan masyarakat. Dengan kondisi yang  sudah semakin terpuruk, perolehan suara Demokrat hanya mencapai 9%. Hal itu dianggap oleh Anas  sebagai prestasi yang bagus.

 

Anas menjelaskan, perolehan itu jelas di luar prediksi lembaga survey  yang mengira Demokrat hanya akan memperoleh 5% suara. “Itu masih untung suaranya dibantu 11 peserta Konvensi, kalau tidak jauh lebih rendah dong, seperti prediksi lembaga survey,” ujar Anas di KPK.

 

Syarif sendiri, menyadari anjloknya suara Partai Demokrat yang utama disebabkan karena gencarnya pemberitaan negatif di media mengenai kasus korupsi yang menyeret kader Demokrat. “Tanpa adanya Konvensi citra Demokrat lebih tak berarti,” katanya.

 

Berbeda dengan Syarif, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Marzuki Ali, terlebih dahulu sudah mengatakan Konvensi sudah tidak layak untuk dilanjutkan. Dia meminta kepada peserta Konvensi untuk bersikap realistis bahwa untuk bisa mengusung Calon Presiden harus berkoalisi. Karena memang Demokrasi yang terbangun saat ini mau tidak mau harus berkoalisi.

 

“Kan, suara Partai nggak ada yang mencapai 20% mana mungkin mengusung Presiden kalau tidak koalisi,” katanya.

 

Oleh karenanya, Marzuki tetap pada pendirinya. Menurut pendapatnya jika Konvensi tetap dilanjutkan dinilai hanya akan membuang-buang waktu karena kesempatan untuk mencari dan membangun koalisi semakin sedikit, sedangkan partai lain sudah sibuk bergrilya. Lebih baik kata Marzuki, Kovensi segera diserahkan kepada SBY untuk diputus secepatnya.

 

“Jika Konvensi dilanjutkan, Demokrat akan ketinggalan kereta, ada Capres tapi koalisi tidak terbangun. Tidak mudah membangun koalisi poros keempat. Sebab koalisi dibangun dengan cita-cita menang, nggak bisa santai-santai,” katanya.

 

Pengamat parlemen, Sebastian Salang juga mengatakan hal yang sama dengan Marzuki, ia mengaku heran dengan sikap Partai Demokrat yang terkesan lambat. Jika masih punya nafsu menduduki parlemen, Demokrat harus cepat membangun koalisi poros keempat. Karena hasil Konvensi ujungnya adalah mencari Capres.

 

“Cari lah, walau hanya sekedar mencari kesamaan platform, apakah masih ada yang mau berkoalisi dengan Partai Demokrat,” katanya.

 

Ia menambahakan, Jika Demokrat tetap bersikekeuh menunggu hasil akhir Konvensi yang akan diumumkan pada awal Mei mendatang, ia takut bangunan koalisi partai politik sudah mengristal, dan Demokrat benar-benar ketinggalan kereta, seperti yang dikatakan oleh Marzuki Ali karena tidak kebagian teman. []