Indra J Piliang : PDI-P Jago Manipulasi

153

JAKARTA, WB  – Pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo sebagai Presiden oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) disebut sebagai langkah politik Megawati untuk tidak beroposisi lagi dengan merebut kekuasaan di parlemen.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Golkar Indra J Piliang mengatakan jika sikap oposisi PDI-P selama ini disebut sebagai kebohongan politik.

“Kalau bilang PDI-P oposisi 100 persen saya katakan bohong,” ujarnya di Jakarta, saat menghadiri acara rilis lembaga surveyi Charta Politika, Rabu (26/3/2014).

Menurutnya, oposisi yang sering digaung-gaungkan oleh PDIP adalah manipulasi politik, karena pada dasarnya gerakan oposisi di Indonesia tidak ada yang murni dan hanya dijadikan tameng dalam berpolitik.

Pengertian oposisi menurut Indra bukan tidak ikut bergabung menjadi eksekutif ditingkat menteri atau pusat. Tapi harus lepas dari semua ikatan di pemerintahan, sedangkan PDI-P disebut banyak kadernya yang juga duduk di pemerintahan seperti halnya Jokowi.

“Justru kalau dibilang oposisi kenapa Jokowi dicalonkan. Ia selama ini duduk di pemerintahan mana bisa dikatakan oposisi, daerah sekarang juga punya kekuasaan bahkan punya hubungan kerja dengan pusat,” katanya.

Dalam kacamata politik Indra, ia mengatakan jika PDIP adalah partai yang paling jago memanipulasi padangan politik masyarakat melebihi Golkar dan SBY sebagai presiden. “Jadi PDIP ini, saya katakan lebih jago memanipulasi, melebihi Golkar dan SBY,” imbuhnya.

Dalam acara laporan hasil rilis lembaga survai yang diadakan oleh Charta Politika, Indra mengakui bahwa Capres Golkar masih dikalahkan dengan sosok Jokowi yang memperoleh suara 57.8% sedangkan Golkar dengan sosok Aburizal Bakrie hanya memperoleh 32,8%.

Meski demikian, Indra tetap yakin Golkar akan mampu memenangkan Pemilu, dengan alasan kekuatan struktur yang dimiliki Golkar masih solid ditingkat Daerah maupun Pusat terlebih organisasi sayapnya.

“Saya yakin Golkar akan memperoleh suara 20 persen. Selama ini Golkar memang tidak pernah mengandalkan tokoh. Tapi lebih kepada sistem yang terstruktur,” tegasnya. []