Jangan Beli Obat di Apotek yang Tidak Ada Apotekernya

121

 

BANTEN, WB – Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Rakernas Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) yang berlangsung 5-7 September di ICE BSD, Tangerang, Banten menjadi moment penting dalam mewujudkan keberadaan apoteker  untuk kepentingan kemanusiaan.

 

Dalam pembukaan agenda tahunan yang diikuti sekitar 1.500 peserta yang bertema “Improving an Accessible and Trusted Pharmacist” ini dihadiri Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Maura Linda Sitanggang.

 

Menteri Kesehatan RI, Prof.Dr.dr.Nila F.Moeloek, Sp.M (K) melalui `video message` berharap kegiatan ini dapat meningkatkan peran para apoteker sebagai bagian dari pelaksanaan program-program nasional menuju Indonesia Sehat. Karena melalui para apoteker paradigma sehat dapat dibentuk dan ditularkan sebagai penguatan pelayanan kesehatan pada masyarakat. 

 

Sementara itu Maura Linda Sitanggang menekankan kepada peran apoteker dalam memberi pemahaman dan mengedukasi masyarakat terahadap penggunaan obat obatan secara tepat dan tuntas, sesuai dengan dosis yang diberikan. Terutama terhadap obat Antibiotik.

 

Kepada sejumlah awak media, Ketua Umum IAI, Drs. Nurul Falah Eddy Pariang,Apt mengatakan, seorang apoteker harus standby di apotek tempat ia bekerja. Kehadiran seorang Apoteker sangatlah penting, terkait dengan informasi penggunaan obat ke pasien.

 

“Jika sebuah apotek tidak ada apotekernya, saya sarankan ke masyarakat untuk pindah ke apotek lainnya yang ada apotekernya. Karena apoteker yang tidak ada ditempat kerjanya, berarti telah melanggar displin, dengan konsekuensi dapat dicabut STR-nya,” papar Nurul Falah di ICE BSD Tangerang (6/9/2017).

 

Nurul menambahkan, seorang Apoteker dalam menjalani tugas layaknya seorang dokter. Apoteker wajib menjaga kualitas pelayanan hingga bisa bermanfaat bagi pasien. Jika semakin banyak pasien berarti manfaatnya semakin banyak. Karena itu, Apoteker memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

 

Dalam kesempatan itu, Nurul mengungkapkan, jumlah apoteker sebanyak  70 ribu masih belum memadai dibandingkan dengan kebutuhan nasional untuk apoteker yang bisa menjangkau hingga ke pedesaan, daerah-daerah terpencil maupun perbatasan. “Terutama di Puskesmas-puskesmas di daerah,” ungkapnya.

 

Oleh karenanya, IAI menghimbau pemerintah untuk lebih memerhatikan para apoteker seperti tenaga-tenaga medis lainnya. Khususnya dalam pemberian kesempatan dan tambahan insentif bagi apoteker-apoteker yang berada di pedesaan, daerah terpencil maupun perbatasan. Disamping tentunya  penempatan apoteker sebagai aparatur negeri sipil (ANS) sudah harus ditinjau kembali.[]