Koalisi Partai Islam Sedang Galau

46

JAKARTA, WB – Harapan partai-partai Islam untuk membangun koalisi poros tengah, dinilai akan susah terwujud dan hanya menjadi angan-angan, mengingat beberapa partai Islam sudah ada yang melakukan langkah koalisi dengan partai lain.

Hal itu disampaikan oleh DPP PKB Marwan Jafar. Dalam memetakan arah koalisi, partai Islam justru terlihat sibuk mencari kawan masing-masing, terlebih sebagian dari mereka sudah punya calon kandidat Capres maupun Cawapres.

“Ragu-ragu poros baru, dalam realitas politik kalau ini keraguan itu ada, bahkan cenderung galau. Kalau galau, bisa saja bubar. PPP sudah koalisi duluan. PAN, PKS sudah punya calon. PKB juga punya calon. Untuk menyatukan ini kok sangat berat atau galau,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (19/4/2014).

Menurut Marwan, partai-partai Islam saat ini memang tengah mengalami krisis kaderisasi. Hampir rata-rata Partai Islam tidak punya kader yang potensial untuk bersaing dengan calon Presiden dari Partai Nasionalis. Sehingga meski terwujud ia yakin tetap susah untuk memenangkan Pemilu.

“Belum ada tokoh Islam yang bisa menandingi tokoh nasionalis. Kita tidak pesimistik tapi yang perlu kita cermati, waktu sudah mepet. Untuk menggenjot elektabilitas akan kesulitan,” katanya.

Bahkan, ia menduga rencana dari tokoh Partai Islam yang ingin membangun koalisi, itu sebenarnya tidak berangkat dari kedasaran kolektif dan hati yang tulus, melainkan bagian dari manuver politik yang hanya mementingkan kepentingan masing-masing partai.

“Parpol Islam belum bisa bersatu. Apa ini sangat tulus untuk bangun bangsa atau tendangan pisang politik untuk dukung capres tertentu? Mudah-mudahan pertemuannya tulus ikhlas, tapi ada juga yang bilang ada agenda tertentu,”jelasnya.

Untuk itu, Marwan mengangap adanya dikotomi partai Islam dan Partai Nasionalis itu tidak penting. Kalau tujuanya hanya untuk kepentingan partai bukan kepentingan nasional.

“Di nasionalis, capresnya muslim semua. Islam sebagai semangat, bukan Islam yang formalistik. Ke-Indonesia-an seperti itu. Dikotomi muslim-non muslim sudah tidak relevan lagi,” pungkasnya. []