Komisi X DPR Desak Kemendikbud Segera Bangun Sekolah yang Rusak di Lombok

119

WARTABUANA – Komisi X DPR RI meminta penjelasan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait kebijakan Kemendikbud dalam mengatasi kondisi darurat bidang pendidikan pasca bencana gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pasalnya, akibat bencana itu, banyak infrastruktur pendidikan yang mengalami kerusakan.

 

“Ini merupakan bencana besar, banyak infrastruktur yang rusak termasuk sekolah pasca gempa di Lombok. Untuk itu, kami menanyakan langkah apa yang dilakukan Kemendikbud pasca gempa agar proses kegiatan belajar mengajar kembali lancar,” kata Ketua Komisi X DPR Djoko Udjianto beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komisi X DPR RI Marlinda Irwanti menyatakan bahwa guru-guru PNS dan non PNS akan mendapat bantuan selama 6 bulan. Hal ini telah masuk dalam anggaran penanganan dampak gempa yang terjadi di Lombok, NTB, pada bidang pendidikan, selain program penanganan sekolah-sekolah yang rusak akibat gempa yang terjadi pada awal bulan Agustus ini.

 

“Kami mendorong Kemendikbud RI untuk melakukan koordinasi dan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten dan kota untuk melakukan pemulihan pendidikan dasar dan menengah, khususnya menjamin keberlangsungan akses pendidikan,” ungkapnya.

Untuk itu, politisi Partai Golkar itu berharap agar anggaran tahun 2019, responsif terhadap bencana dan penerbitan Permedikbud RI tentang penyelenggaraan program satuan pendidikan Aman Bencana dapat terlaksana.

 

Dalam paparannya, Kemendikbud mengngkap jumlah sekolah terdampak per kabupaten, yakni Lombok Barat sebanyak 176 sekolah, Lombok Utara 179 sekolah, Lombok tengah 130 sekolah, Lombok Timur 148 sekolah, Mataram 44 sekolah, Sumbawa 22 sekolah, Sumbawa Barat 3 sekolah, Denpasar 9 sekolah, Karang Asam, Bali 55 sekolah, dan Dompu, NTT 4 sekolah.

 

Kemendikbud juga merencanakan bantuan mendesak untuk 1557 tenda sekolah darurat. Pasalnya, jumlah ruang sekolah yang mengalami kerusakan sebanyak 3.691 dengan rincian rusak ringan 961, rusak sedang 900 dan rusak berar 1.830 unit. Sedangkan jumlah siswa terdampak pada setiap jenjang 158.067 siswa. Ada 32 orang meninggal, 72 luka – luka dan 29 rawat inap.[]