Lima Alasan Golkar Masih `Jomblo`

142

JAKARTA, WB – Kontestasi Pemilu 2014 telah memberikan cacatan baru bagi Golkar. Pasalnya satu hari menjelang batas akhir pendaftaran calon presiden dan wakil presiden di KPU pada Selasa (20/5), Partai Pimpinan Aburizal Bakrie alias Ical ini belum juga menentukan arah koalisi atau setidaknya membuat poros baru.

Padahal, pada Pemilu 2009 Golkar mampu menjadi partai pertama yang secara mental siap mengusung Jusuf Kalla (JK) dan Wiranto sebagai calon presiden dan wakil presiden bersama mitra koalisinya.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito mengatakan, setidaknya ada lima hal mengapa Golkar sampai saat ini masih kebingungan untuk menentukan arah koalisi.

Pertama, perolehan suara Golkar yang mencapai 14 persen menjadi penyebab awal bahwa partai ini tidak bisa mengusung Ical sebagai capres. Meski suara Golkar menempati posisi nomor dua pada Pemilu Legeslatif, namun partai ini seolah tetap tidak seksi untuk diajak berkoalisi.

Kedua, posisi Ical sebagai bakal calon presiden dari Golkar, dianggap sebagai sosok yang tidak punya nilai jual di masyarakat. Elektabilitasnya yang rendah, Ical dinilai akan sulit untuk bersaing mengalahkan calon dua kandidat lainnya, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Ketiga, fungsionaris Golkar seluruhnya disebut-sebut tidak solid dalam mengusung Ical sebagai capres. Ada pihak lain yang juga menginkan kader Golkar seperti JK atau Akbar Tanjung untuk maju menjadi capres atau cawapres.

“Golkar kan tidak solid, partai lain jadi ragu untuk mendorong berkoalisi,” ujarnya saat dihubungi, Senin (19/5/2014).

Keempat, Partai ini juga dianggap lamban dalam melakukan pergerakan membangun koalisi dengan partai lain. Sementara dua calon kadidat sejak awal sudah melakukan safari politik dengan partai lain, sehingga bangunan koalisi sudah semakin kuat.

“Ini yang membuat Golkar bingung. Mau koalisi tapi high call presiden. Kalau cawapres masih ragu. Jadi dilema. Tetapi, ini pelajaran berharga buat Golkar, karena akan menjadi sejarah yang baru” katanya.

Kelima, Golkar sejak zaman Orde Baru terkenal sebagai partai yang selalu mencari aman, dengan ciri-cirinya yang selalu dekat dengan pemerintahan. Artinya Golkar dianggap partai yang paling cair untuk diajak berteman, sehingga terkadang malah membingungkan.[]